Home > CERPEN KAMPUS > Bisakah seorang anak membenci ibunya dan… Bolehkah?

Bisakah seorang anak membenci ibunya dan… Bolehkah?

Oleh : Sielomia Rwigati Mahasiswa STIKOM Semarang 

Hujan turun dengan deras tanpa ampun mengguyur kota Seoul ibu kota negara Korea Selatan  pagi ini. Sambil meniup kepulan asap tipis di kopi paginya, Ananta Ziura menerawang jauh ke jendela yang penuh dengan bulir air hujan. Hujan pagi ini membuat bayangan masa remajanya kembali datang. Masa yang ingin ia jauhi, ingin ia kubur dalam. Ziu tak pernah sedikit pun menyesal melalui perjalanan masa remajanya meskipun ia membenci masa-masa menyakitkan yang menimpanya dulu. Masa itu adalah masa yang mempertemukannya dengan teman-teman yang menyenangkan, serta masa yang merenggut orang-orang yang ia cintai. Ziu tak lagi ingin kembali ke tempat dimana masa lalunya berada. Ia tetap mencintai tanah kelahirannya, negaranya. Namun, jika diperbolehkan kembali, untuk siapa ia kembali? Sedang yang dirindukan, mungkin juga sama rindunya tetapi apalah daya bahwa cinta benar-benar telah pulang ke dua rumah.

Matahari beranjak naik dan panas pun telah menjulur ke seluruh tubuh. Ziu tetap menjalankan kendaraannya meskipun masih harus berkutat dengan debu, polusi dan panasnya matahari di pagi yang menjelang siang. Bukan tanpa tujuan ia melakukannya. Ziu sadar betul apa yang ia lakukan saat ini adalah untuk masa depannya, untuk membahagiakan orang tuanya. Ia yakin akan hal itu. Ziu memilih pergi merantau ke kota orang untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi dari sekedar sekolah menengah. Bagi Ziu, kuliahnya lebih penting dari apapun. Bahkan ia tak memikirkan kisah asmaranya karena baginya tak ada waktu untuk memikirkan hal itu sekarang. Ia juga tak ingin masa mudanya habis oleh urusan cinta yang tak akan ada habisnya. Selain itu, rasa-rasanya ia juga sudah tak percaya cinta. Ia pernah merasa sangat bahagia karena cinta hingga ia di khianati oleh cinta yang ia anggap adalah satu-satunya tempat dimana ia pantas kembali.

Bagaimana kau bisa berharap pada cinta yang sudah tak mengenali kemana ia harus kembali? Bagaimana pula bisa berharap pada cinta yang memilih untuk pulang ke dua rumah? Jika cinta itu suci dan membahagiakan mengapa cinta justru begitu menyakitkan untuk Ziu. Kebahagiaan adalah sebuah kepura-puraan. Ziu selalu tertawa, selalu berbagi kebahagiaan pada orang-orang yang ada disekitarnya. Tapi, adakah seseorang yang tau apa yang ada dalam hatinya? Kesedihan macam apa yang ia rasakan? Sepertinya topeng yang Ziu pasang, lakon yang ia mainkan selalu apik. Hingga tak ada satupun orang dapat membedakan bahagia yang sebenarnya atau dibuat-buat. Ia sudah membangun tembok-tembok kecil yang bahkan ia biarkan menjadi dinding pemisah antara dirinya dengan kebahagiaannya. Kebahagiaan orang-orang disekelilingnya jauh lebih penting dibanding dirinya.

Setelah beberapa tahun masa-masa kuliahnya sudah harus berakhir. Hari dimana ia resmi menyandang gelar sarjana pun tiba. Tepat hari ini gadis bernama lengkap Ananta Ziura di wisuda. Ia merasakan bahagia yang mungkin juga sebuah kepura-puraan tersirat di wajahnya. Senyum yang merekah, mata yang juga terus membendung airnya. Ia tak tau setelah hari ini apa lagi yang akan terjadi. Apa cinta yang ia anggap pesakitan masih menjadi pilihan paling terakhir dalam hidupnya? Atau akan menjadi pilihan utamanya setelah ini? Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi setelahnya. Kedua orang tuanya menyaksikan dirinya pada upacara sakral pertama dalam hidupnya. Apakah keduanya akan menyaksikan upacara sakral selanjutnya? Seperti pernikahan misalnya. Ah.. itu sangat tidak penting, yang terpenting bagaimana keduanya bahagia bukan?

Beberapa waktu berlalu, Ziu telah bekerja di salah satu media internasional. Ayahnya telah pensiun dan.. bercerai dengan ibunya. Ibunya memilih berpisah daripada mempertahankan segalanya yang membuat hati Ziu makin hancur sudah. Ia pun teringat masa kecilnya yang penuh kebahagiaan. Ternyata itu juga hanya kepalsuan. Kenyataan memang tak seperti ekspektasinya. Ziu sudah mengetahui kenyataannya sejak ia baru duduk di bangku kuliah. Selama itu, ia tak pernah berfikir bahwa cinta yang selalu ia harapkan benar-benar akan berpisah di dua rumah. Selama menikah, ibunya selalu teringat pada seseorang yang merupakan cinta pertamanya. Cinta pertama ibunya telah menghilang tanpa kabar selama 17 tahun lalu dan tiba-tiba muncul kembali serta menemui ibunya. Saat itulah cinta mereka kembali bersemi. Sejak saat itu, Ziu tak lagi percaya pada cinta.

Cinta yang ia percaya sebagai tempatnya kembali, cinta yang ia percaya sebagai rumah tempatnya pulang, kini telah di khianati oleh orang yang paling dicintainya, ibu. Maka dari itu bisakah seorang anak membenci ibunya, dan bolehkah?

Semenjak itu, Ziu bertekad akan pergi jauh meninggalkan negaranya agar ia tak lagi terperangkap pada kehancurannya. Ia akan memulai hidup barunya, ditempat barunya, bersama ayahnya yang semakin bertambah umur, ia akan menjaganya. Asal bersama ayahnya, ia pasti kuat.

“Ziu, Yame dateng tuh. Bukannya bersiap-siap jam segini masih asik ngopi” Ziu tak mengindahkan perkataan ayahnya. Ia langsung menghampiri ruang tengahnya yang sudah ada seorang pria sekitar umur 30-an sedang duduk dan menatap heran.

“Ziu-ya, loh kamu…”

“Ah maaf oppa” Ziu memamerkan deretan giginya seakan tanpa rasa bersalah.

“Kalau begitu aku akan bersiap-siap. Tunggu sebentar ya” Lanjutnya sambil berlari mengambil blazer dan memakai sepatunya. Kemudian ia meraih tasnya dan kembali menghampiri pria bernama Yame yg merupakan kekasihnya saat ini. Ziu melihat Yame dengan ayahnya seperti memperbincangkan sesuatu yang serius. Ia berpura-pura tak peduli dan menghampiri mereka secara mengejutkan.

Oppa, ayo kita pergi”

“Hati-hati nak, ayah sayang kamu” Ziu mengangguk dan memeluk ayahnya. Ia menyesapi aroma tubuh ayahnya. Senyumnya tetap tersungging di wajah yang kini penuh keriput yang semakin jelas tergurat dan semakin nyata.

“Ziu juga sayang ayah” sambil melambaikan tangan kepada ayahnya ia melenggang pergi bersama kekasihnya semakin menjauh.

Perihal ibunya.. yang Ziu tahu terakhir kali kabarnya telah menikah lagi dengan mantan kekasihnya yang dulu. Ibunya bahkan sudah berbahagia, kini pun ia harus menemukan bahagianya bertiga. Ya, baginya kini cukup bertiga saja.

* Artikel ini telah dibaca 69 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *