Home > EDITOR'S CHOICE > Literasi Media Dan Kepedulian Kita

Literasi Media Dan Kepedulian Kita

Oleh: Suryanto,S.Sos.M.Si
Staf Pengajar Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang)

Belakangan ini semakin banyak bermunculan media massa di era digital, terutama stasiun tv lokal sehingga  menimbulkan persaingan semakin sengit dan berujung hanya mementingkan rating semata,  tanpa disertai sisi berbagai edukatifnya.

Begitu juga situs internet, yang semakin menjamur di dunia maya, tanpa disadari, anak-anak dan remaja telah terpapar oleh pengaruh dari tayangan televisi dan Internet khususnya media sosial yang berujung pada dunia semu, dibanding dengan perilaku di dunia nyata, baik di rumah,  sekolah dan lingkungan sekitar.

Ironisnya, di tengah budaya nonton masyarakat pemirsa, pada umumnya yang belum bisa memahami dan membedakan mana tayangan/konten yang berkualitas atau tidak. Apalagi pada anak-anak yang sejak kecil dibiasakan nonton TV tanpa bimbingan orang tua, begitu juga mengenal internet dan langsung berselancar karena sekedar iseng dan rasa ingin tahu yang tinggi tanpa disertai pengawasan orang tua.

Kondisi itulah, sangat diperlukan pentingnya literasi media sejak dini. Literasi media merupakan penilaian masyarakat terhadap suatu konten yang ditayangkan di berbagai media, misalnya televisi dan internet (juga media massa dan buku).

Dengan penilaian tersebut, mereka akan tahu suatu konten yang baik, aman atau tidak untuk seluruh kalangan, terutama anak-anak dan remaja. Terlebih, banyak kalangan yang sudah menyadari ancaman bahaya tayangan yang tidak berkualitas dan menjadikan tontonan serta informasi sebagai tuntunan hidup, serta salah satu sumber untuk memperkaya wawasan dan pengetahuan.

Di Indonesia, gejala yang ada menunjukkan interaksi dan pola konsumsi anak dengan media menunjukkan intensitas yang cukup tinggi dan kurang terkontrol, serta melihat isi media yang dikonsumsi anak-anak tidak cukup aman bagi perkembangan psikologisnya.

Banyaknya materi dewasa, gaya hidup yang ditawarkan oleh media dengan cara yang sangat persuasif, iklan yang menggoda dan berbagai materi lain yang dipandang belum semestinya dikonsumsi untuk anak-anak semakin deras ditayangkan hingga masuk ke dalam kepala dan pikiran anak.

Selain itu, waktu yang digunakan untuk mengakses dan mengkonsumsi media selama sekitar tujuh jam sehari, adalah sebuah pemborosan waktu yang sangat besar dan sia-sia, seperti yang dikutip dari Guntarto, 2009.

Dari pengelola media, terutama lembaga penyiaran TV, ada slogan yang menyarankan  dan seringkali mereka gembar-gemborkan di antaranya “Dampingi Anak Anda Menonton TV”. Seolah dengan sudah memberikan imbauan itu, bagi pengelola atau lembaga penyiaran bebas menayangkan apa saja yang mereka inginkan, meski itu berupa pesana iklan, karena mereka toh sudah memberi peringatan dan imbauan kepada orangtua.

Di lain pihak, orangtua pada umumnya memiliki sikap tidak berdaya melawan derasnya tayangan TV dan pola menonton TV pada anak yang tidak sehat tersebut. Mereka lebih mengharapkan agar lembaga penyiaran televisi bersedia memperbaiki isi tayangannya dan  kebijakan Pemerintah untuk mengatur lembaga penyiaran pada tampilan wajah yang lebih ramah untuk anak dan keluarga pemirsa.

Tidak adanya forum yang membahas masalah literasi media, bahkan barangkali menjadi penyebab mengapa pemahaman terhadap konsep menjadi sangat beragam dan hal itu kemudian tercermin dalam program/kegiatan yang dilaksanakan oleh berbagai lembaga.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Boleh Jadi, literasi media atau melek media bukanlah pengetahuan atau pendidikan tentang media semata, tetapi bergerak lebih jauh lagi yaitu melihat pengaruh buruk yang dapat ditimbulkan dari pesan-pesan media dan belajar bagaimana mengantisipasinya.

 Sudah saatnya berbagai instansi Pemerintah seperti Kementrian Pendidikan Nasional, Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementrian Agama, Kementrian Sosial, BKKBN, Komisi Perlindungan Anak, Komisi Penyiaran Indonesia dan lainnya dapat melakukan langkah upaya nyata bagi perlindungan anak dari dampak media, disamping mengoptimalkan media sebagai salah satu sumber belajar serta mengurangi jumlah waktu durasi yang digunakan media dengan menggantinya dengan tayangan kegiatan lain yang lebih bermanfaat.

 

 

* Artikel ini telah dibaca 50 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *