Home > HEADLINE > Puluhan Pemuda Dari Berbagai Ormas Dilatih Jadi Agen Revolusi Mental

Puluhan Pemuda Dari Berbagai Ormas Dilatih Jadi Agen Revolusi Mental

SEMARANG[Kampusnesia] – Puluhan pemuda dari berbagai unsur organisasi kemasyarakatan dan pemuda (OKP) di wilayah Jawa Tengah mulai dilatih menjadi agen revolusi mental oleh Pusat Pemberdayaan Pemuda dan Olahraga Nasional (PP-PON) Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Kepala Bidang Penyelenggaraan Pemuda PP-PON Kemenpora Dwi Agus Susilo mengatakan terdapat sebanyak 80 pemuda perwakilan dari berbagai unsur, khususnya OKP yang ikut pelatihan itu.

Pelatihan bertema “Pemuda Sebagai Agen Perubahan Mewujudkan Revolusi Mental” yang diprakarsai PP-PON Kemenpora dan Dispora Jateng itu berlangsung di Hotel Siliwangi Semarang, selama empat hari, mulai 19-22 Desember 2017.

Perwakilan OKP yang ikut, di antaranya Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI).

Menurut Agus, selama ini ada dua anggapan di masyarakat keberadaan pemuda sebagai masalah dan sebagai solusi, padahal keberadaan pemuda merupakan agen perubahan yang harus menjadi solusi atas berbagai persoalan di masyarakat.

“Dengan pelatihan ini, kami mengharapkan para pemuda memiliki pemahaman mengenai gerakan revolusi mental, sehingga mereka mampu menganalisis lingkungan sekitarnya, terutama persoalan apa yang menjadi karakter setempat dan mencari solusi,” ujarnya di sela Pelatihan Revolusi Mental Bagi Pemuda, di Semarang, Rabu. (20/12)

Dalam pelatihan itu, lanjutnya, para pemuda juga dilatih menyusun kerangka aksi (action plan) untuk mengubah karakter di masyarakat yang selama ini dianggap kurang baik menjadi lebih baik, modern, dan berkemajuan terhadap bangsa.

“Tidak hanya berhenti di rencana aksi, kami latih juga tindakan atau program yang bisa dilakukan agar mereka bisa berkiprah di lingkungannya masing-masing. Jadi, tidak sekadar teori, namun praktik juga diberikan,” tuturnya.

Rencananya, dia menambahkan pelatihan revolusi mental itu akan menyasar 200 pemuda di berbagai daerah, mengingat pemuda sebagai “leading sector” Kemenpora agar mereka mampu menjadi agen perubahan di lingkungan tempat mereka tinggal.

Sementara itu, anggota Kelompok Kerja (Pokja) Gerakan Revolusi Mental Nasional Dr Ahmad Mukhlis Yusuf mengatakan sejak awal Presiden RI Joko Widodo telah menjadikan revolusi mental sebagai salah satu dari Nawacita.

“Revolusi mental ini sebagai revolusi karakter yang bertujuan menguatkan manusia sebagai sumber daya yang tidak terbatas yang punya kekuatan untuk mengubah bangsa,” tutura mantan Direktur Utama Perum LKBN ANTARA itu.

Dengan demikian, lanjutnya, pembangunan manusia yang bersifat nonfisik terus dijalankan, seiring dengan pembangunan infrastruktur yang terus digenjot di berbagai daerah untuk pemerataan pembangunan dari Sabang sampai Merauke.

“Dalam revolusi mental, setidaknya terkandung tiga nilai esensial, yakni integritas, etos kerja, dan gotong royong. Nilai ini bisa menggerakkan manusia untuk bekerja lebih dalam mengejar ketertinggalan dengan bangsa lain,” ujarnya.

Dia juga mengingatkan revolusi mental sebagai sebuah gerakan yang tidak berhenti sekadar tataran ceramah atau teori, melainkan sebagai sebuah perubahan cara berpikir, bersikap, dan bekerja yang harus dilakukan oleh seluruh pihak.

“Terdapat empat pelaku yang harus menggerakkan revolusi mental, yakni penyelenggara negara, dunia usaha, masyarakat dan dunia pendidikan. Pemuda harus menjadi subjek dari perubahan, khususnya terhadap lingkungan sekitarnya,” tuturnya. (rs)

* Artikel ini telah dibaca 147 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *