Home > HEADLINE > Politisi Parpol Islam Akan Ditinggalkan Umat Islam Jika Perilakunya Menyimpang

Politisi Parpol Islam Akan Ditinggalkan Umat Islam Jika Perilakunya Menyimpang

SALATIGA[Kampusnesia] – Para politisi yang berkiprah melalui partai yang berasaskan  Islam maupun maupun non Islam, namun berbasis dukungan ormas Islam memikul  tanggungjawab moral yang sangat besar terhadap komitmen dan integritas keislaman.

Jika  menyimpang dari nilai-nilai Islam, sudah dapat dipastikan umat Islam bakal akan mengalihkan dukungannya kepada yang lain.

Ketua Majlis Ulama Indonesia Provinsi Jawa Tengah (MUI Jateng) KH Haris Shodaqoh mengingatkan perilaku dan akhlak  para politisi yang berkiprah melalui parpol berasas Islam maupun  berbasis dukungan ormas Islam di ranah politik harus mencerminkan aktualisasi ajaran Islam.

“Dibanding dengan politisi lain, politisi parpol Islam akhlak dan perilakunya harus lebih baik,” ujar kyai Haris saat menyampaikan materi  dengan tema Ulama, Demokrasi dan Parpol Islam dalam Halaqah Ulama  “ Partisipasi Ulama Dalam Mewujudkan Jateng Yang Kondusif” yang diselenggarakan MUI Jateng, di Hotel Laras Asri Salatiga, Kamis (5/4).

Menurutnya, langkah – langkah politik para politisi Islam di era demokratisasiaat ini pasti akan selalu diikuti, dibaca dan diperhatikan, bahkan akan dinilai secara serius oleh umat Islam, sehingga tanggung jawab parpol Islam bersama politisinya sangat berat. Umat Islam selalu akan menuntut akuntabilitasnya dengan ukuran ajaran islam yang diyakininya.

Dengan demikian, lanjutnya, berbagai kebijakan dan keputusan politik yang diambilnya dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat harus mererfleksikan norma-norma  dan semangat Islam, karena kalau tidak bakal akan menjadi bahan tertawaan oleh publik.

Masyarakat, dia menambahkan saat ini sudah semakin pandai dan cerdas dalam memberikan penilaian terhadap kerja-kerja politik para politisi. Bisa saja politisi yang berkiprah melalui partai non Islam lebih bisa diterima umat Islam, karena mampu membuktikan komitmen terhadap Islam melalui kebijakan-kebijakan yang ditempuhnya.

Kondisi itu, ujar kyai Haris, bisa saja terjadi karena iklim kompetisi politik antar parpol di Indonesia memiliki ciri khas, setidaknya tidak sama persis dengan pertarungan atau persaingan politik antar parpol di negara-negara lain yang menganut sistem demokrasi.

Ideologi parpol di Indnesia nyaris cair, misalnya parpol yang berbasis nasionalis dalam upaya menggaet dukungan umat Islam mencoba untuk menampilkan diri partai yang memperhatikan dan mengamalkan nilai-nilai religious di lingkungan pendukungnya.

Begitu pula sebaliknya, parpol Islam atau berbasis dukungan ormas Islam juga mendeklair bahwa sebagai bagian dari kekuatan nasionalis yang merasa terpanggil untuk melanjutkan dan memprtahankan hasil kerja keras para ulama terdahulu yang memiliki andil tidak kecil dalam melahirkan Indinesia yang merdeka dan berdaulat.

“Di tengah pusaran kompetisi seperti itulah para politisi Islam dituntut untuk membuktikan diri sebagai representasi kekuatan Islam, agar tidak ditinggalkan pendukung utamanya, sekaligus dalam waku yang bersamaan mencoba memobilisir suara kaum nasionalis dengan mendeklair diri bahwa parpol Islam di Indonesia juga disemangati dengan spirit nasionalis dalam berpolitik,” tutur kyai Haris. (smh)

* Artikel ini telah dibaca 4.325 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *