Home > HEADLINE > Gerakan Islam Nusantara Bentengi Umat Islam Indonesia Dari Pengaruh Ideologi Transnasional

Gerakan Islam Nusantara Bentengi Umat Islam Indonesia Dari Pengaruh Ideologi Transnasional

SEMARANG[Kampusnesia] – Model dakwah Islam yang mengedepankan nilai-nilai kultural, pendidikan dan toleransi yang dikembangkan Nahdlatul Ulama (NU) dinilai tepat dalam merespon dan mengimbangi maraknya gerakan ideologi transnasional yang mencoba menegakkan kembali sistem khilafah melalui berbagai cara.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD-RI) dari daerah pemilihan Jateng, Drs H Ahmad Muqowam mengatakan benturan berbagai ideologi dan pemikiran yang saat ini sedang berkecamuk di Indonesia memaksa umat Islam Indonesia terseret dalam pusaran pertarungan itu, termasuk upaya-upaya mobilisasi untuk menghadirkan sistim khilafah di Indonesia.

“Beruntung sekali, NU dengan cepat merespon itu semua dengan menghadirkan dan memperkenalkan model dakwah yang mengedepankan nilai-nilai kultural, pendidikan, toleransi dan sebagainya. Model ini terbukti mampu membentengi umat Islam terutama warga NU dalam menghadapi terpaan ideologi transnasional yang terus bergerak massif,” ujar Muqowam, dalam kegiatan Ramadlan Ceria di Pondok Pesantren Galangsewu Jurang Blimbing Tembalang Semarang, akhir pekan lalu.

Menurunya, model gerakan dakwah seperti ini yang kemudian populer disebut dengan gerakan Islam Nusantara ini sebenarnya sudah sejak lama dilakukan oleh para ulama yang mengembangkan Islam Indonesia.

Terbukti dengan model gerakan dakwah seperti ini menjadikan Islam dapat diterima dengan cepat dan tanpa memunculkan benturan di masyarakat. Dikemudian hari saat memasuki era global dan digital gerakan ideologi transnasional ikut menyelinap dengan gerakan pemaksaan kehendaknya, sehingga seringkali memunculkan benturan.

Menghadapi kondisi ini, lanjutnya, dalam upaya membentengi warganya, ulama NU kembali mempopulerkan gerakan dakwah kulturalnya yang penuh dengan nilai-nilai toleran dan sebenarnya sudah melekat dalam diri dan setiap gerakan dakwah NU.

Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jateng (PW GPA Jateng), Sholahudin mengatakan tiupan spirit gerakan transnasional yang mengusung isu khilafah di Indonesia menjadi salah satu pemicu gerakan radikal teror yang terjadi di Indonesia.

“Ansor siap menghadapinya, mereka yang mendengungkan semangat jihad sebenarnya bukan sedang berjihad, tetapi sedang berbuat jahat. Ansorlah yang sebenarnya berjihad, meski semangat jihad tidak dihembus-hembuskan di ruang publik, karena sudah menyatu dengan gerak dan langkahnya dalam beragama, berbangsa dan bernegara,” tutur Gus Sholah panggilan akrabnya.

 

Sholahudin Ketua PW GPA Jateng

Pengasuh Pondok Pesantren Galangsewu, KH Samani mengatakan, institusi pondok pesantren termasuk lembaga yang dipimpinnya merespon baik gerakan Islam nusantara yang mengdepankan nilai-nilai tasammuh atau toleran. Karena pesantren hadir di masyarakat melalui cara yang damai dan toleran terhadap lingkungannya.

“Gerakan radikal dan teror memang selalu berupaya masuk ke pesantren yang dihuni para santri yang sedang belajar menuntut ilmu, namun kami selalu membentenginya, karena santri tidak disiapkan menjadi teroris, tetapi menjadi manusia yang bermanfaat melalui ilmu dan akhlaknya,” ujar kyai Samani.(smh)

* Artikel ini telah dibaca 163 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *