Home > HEADLINE > Kota Semarang Berpotensi Menjadi Panggung Intoleransi

Kota Semarang Berpotensi Menjadi Panggung Intoleransi

SEMARANG[Kampusnesia]- Kian majemuknya komposisi warga yang tinggal di kota  Semarang menjadikan ibukota Jawa Tengah ini berpotensi untuk dijadikan sebagai panggung baru gerakan intolerasi yang kalau tidak segera diantisipasi dengan tepatakan memunculkan problem-problem social baru.

Dosen Universitas Negeri (UIN) Walisongo, Dr Teddy Kholiludin, MA mengatakan selama ini masih terkesan gerakan intoleransi di wilayah Jateng terpusat di Solo. Namun diam-diam para pelaku aksi intoleransi dalam beberapa tahun terakhir ini mulai melirik kota  Semarang untuk dijadikan basis gerakannya.

“Ibukota Jateng yang selama terasa adem mulai dilirik oleh pelaku-pelaku gerakan intoleransi, mereka terutama para tokohnya bukan warga Semarang,tetapi dari luar Semarang,setelah aksi mereka kelua kembali ke daerah asal di luar Semarang,” ujarTedy saat menyampaikan paparan dalam dialog budaya bertajuk Sinau Bareng Agama Tanpa Politik yang diselenggarakan Forum Wartawan Pemprov Jawa Tengah (FWPJT) di studio mini televise Setdaprov Jateng, Selasa (5/6)

Menurutnya,  Semarang berpotensi untuk mengimbangi Solo karena selain sebagai ibukota provinsi yang akses kekuasaannya lebih besar, dari sisi liputan medianya pun lebih potensial dibanding Solo. Selain itu kondusifnya Semarang dapat mendukung persiapan maneuver-manuver intoleransi.

Hal ini, lanjutnya, merupakan sebuah kewajaran. Karena liputan media  sangat penting dalam menyuarakan isu-isu berbasis toleransi.

Salah satu tolok ukur Semarang berpotensi menjadi pusat gerakan intoleransi adalah munculnya reaksi-reaksi penolakan terhadap  agenda-agenda keagamaan oleh sebuah kekuatan berbasis masyaraat yang sering turun ke jalan menghembus-hembuskan sikap intoleran.

Agenda kegiatan kalangan penganut ajaran Islam Syiah yang setiap tanggal 10 Muharram menggelar kegiatan peringatan konflik Karbela yang dikenal dengan hari Asyuro ditolak oleh salahsatu kekuatan ormas keagamaan dari luar Semarang secara terang-terangan, setelah aksi ramoung mereka kembali ke daerah asal di luar Semarang.

Fenomena, ini ujarnya harus ditangkap sebagai sebuah potensi ancaman bagi warga dan para pengelola kebijakan di kota Semarang, kalau tidak segera tertangani maka tidak mustahil Semarang akan menjadi panggung kedua bahkan bias menjadi panggung utama gerakan intoleransi.

Dia menambahkan, untuk menghindari agar intoleransi tidak tumbuh subur di Senarang, perlu ada penguatan karakter bagi warga Semarang selain dukungan dari pengelola kebijakan di kota Semarang. Tanpa adanya langkah sinergitas pimpinan daerah dan rakyat mustahil upaya mencegah gerakan intoleransi dapat berhasil.(smh

 

 

* Artikel ini telah dibaca 341 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *