Home > HEADLINE > Ajaran Toleransi Beragama Mampu Bentengi Warga Dari Pengaruh Radikal-Teror

Ajaran Toleransi Beragama Mampu Bentengi Warga Dari Pengaruh Radikal-Teror

KENDAL[Kampusnesia] – Ajaran toleransi yang diwariskan para pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) jika benar-benar diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi benteng kuat yang tidak bisa ditembus oleh gerakan radikalisme dan terorisme, yang kini menjadi ancaman serius bagi generasi muda Indonesia.

Sekretaris Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme Provinsi Jawa Tengah (FKPT Jateng) Syamsul Huda S.Sos, M.Si mengatakan para pelaku aksi teror dalam upaya menyebarluaskan pengaruh paham radikal teror menggunakan berbagai cara, di antaranya melalui pembusukan informasi dan penyebaran ujaran kebencian yang dapat memicu kesalahpahaman masyarakat dalam merespon setiap keadaan.

“Namun, kalau rakyat memiliki sikap toleran yang kuat, manuver-manuver seperti itu tidak dapat menembus, alias mental sehingga paham radikal dan teror tidak bisa mempengaruhi pola pikir dan sikap masyarakat yang toleran,” ujar Syamsul yang juga staf pengajar mata kuliah Komunikasi Politik di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang dalam Dialog Lintas Agama yang diselenggarakan Kanwil Kemenag Jateng di Kendal akhir pekan lalu,

Menurutnya, warga Jateng sudah memiliki modal sosial yang sangat besar dan kuat dalam upaya membentengi diri dari pengaruh dan gempuran ideologi radikal teror yang memanfaatkan perbedaan mendasar di antara sesama warga, perbedaan agama atau keyakinan misalnya.

Salah satu fakta, lanjutnya, bisa dilihat keberadaan candi-candi besar di Jateng, seperti Dieng, Borobudur, Prambanan, Mendut dan sebagainya yang notabene adalah tempat ibadah non muslim yang lokasinya berada ditengah-tengah masyarakat muslim yang sangat taat. Tetapi fisik bangunannya tidak tergores secuilpun oleh ulah jahat masyarakat sekitar yang berbeda agama.

Bahkan, dia menambahkan masyarakat disekitar tempat ibadah agama Hindu itu, tanpa pandang bulu perbedaan agama yang dipeluknya turut serta menjaga agar tidak diganggu oleh orang-orang jahat.

Mereka, tutur Syamsul, para orang Islam yang tidak mengganggu orang non muslim yang sedang beribadah di tempat ibadahnya, bukan berarti mereka setuju dengan keyakinannya, tetapi umat Islam di sekitar candi itu motivasinya sedang menjaga asset kekayaan bangsa alias menjaga Indonesia.

Syamsul Huda S.Sos, M.Si Sekretaris FKPT Jateng

Dia menuturkan, kondisi seperti ini sekaligus dapat dijadikan modal sosial yang tak berharga nilainyanm oleh Kementerian Agama. Oleh karena instutusi Kemenag mulai dari pusat hingga daerah harus memanfaatkan potensi ini dengan membuka diri untuk menjalin kemitraan dengan semua pihak, termasuk pihak-pihak yang memiliki kepedulian dalam mencegah gerakan radikal teror.

“FKPT Jateng siap bermitra dengan Kanwil Kemenag Jateng yang memiliki jaringan kerja hingga sampai di desa-desa, mulai darin guru agama, guru madrasah, penyuluh agama dan sebagainya,” ujar Syamsul. (Iwan Arifianto/rs )

* Artikel ini telah dibaca 74 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *