Home > EDITOR'S CHOICE > Mudik Di Tengah Semakin Lengkapnya Teknologi Informasi

Mudik Di Tengah Semakin Lengkapnya Teknologi Informasi

Pesatnya perkembangan teknologi informasi, seolah menjadikan manusia di seluruh dunia  tanpa jarak. Secara psikologis seolah mereka yang berada sangat jauh pun merasa sangat dekat dengan kerabat serta handai taulan. Pada 1962, bahkan Marshall Mc. Luhan menyebut bahwa dunia akan menjadi desa global ( global village) dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi.

Sekaranglah terbukti, bahkan hanya dengan perangkat telepon pintar (smart phone), orang bisa berjumpa dengan siapa saja, kapan saja, bahkan dengan wujud seolah saling berjumpa muka. Meski demikian, tampaknya pesatnya perkembangan teknologi informasi hingga saat ini tidak bisa menghilangkan tradisi mudik Lebaran yang sudah menjadi tradisi budaya yang turun menurun.

Pertanyaannya mengapa demikian? Serta akankah suatu saat makin pesatnya perkembangan teknologi informasi tersebut akan mampu menghilangkan tradisi mudik yang telah menjadi budaya yang berlangsung secara turun temurun?

Komunikasi Tatap Muka

Mungkin orang bertanya mengapa bila saat ini meski orang seolah telah mampu saling bertatap muka menggunakan vodeo call dan semacamnya, namun tetap saja mereka belum puas sebelum bertemu, bersalaman, silaturahmi, sembari bermaaf-maafan?

Jawabannya, bertemu melalui video call dan semacamnya merupakan komunikasi maya karena menggunakan media maya, sedang bertemu, tertatap muka, sekaligus bisa mengekspresikan segala sesuatu secara fisik mungkin dianggap jauh lebih afdol.

Dengan cara bertemu, sekaligus tradisi sungkem dan sejenisnya terhadap mereka yang secara usia lebih tua atau dituakan mencerminkan rasa hormat, dan ekspresi pun jelas akan lebih nyata saling pandang serta dengar, sekaligus dilengkapi dengan berbagai atribut yang menunjukkan eksistensi mereka masing-masing.

Dari sisi sosiologi, tampaknya kelekatan pada tanah kelahiran menjadikan para perantau meski telah sangat lama menetap di tempat tinggal barunya, tetap saja kangen (home six) dengan tanah kelahiran mereka. Meski mungkin ke dua orang tua telah tiada, namun tetap saja magnet tanah kelahiran serta kerabat, handai taulan, bahkan dengan perkembangan teknologi informasi, kawan-kawan lama menjadikan tujuan silaturahmi yang mereka lakukan.

Dengan melakukan silaturahmi tatap muka, komunikasi aktual saling mereka lakukan, dan  mereka perjelas dengan gesture serta penampilan mereka masing-masing, maka budaya saling mengunjungi sekaligus saling menghargai dapat mereka wujudkan.

Melalui mudik, maka pertemuan berbagai keluarga besar pun terjadi, dengan melalui komunikasi kelompok yang terjadi sekaligus akan tersisipkan berbagai pesan yang sangat sejuk, serta berisi kebhinekaan sesuai dengan kondisi masyarakat kita yang saat ini banyak dikotori dengan berbagai pesan menyesatkan melalui berbagai media, utamanya media sosial.

Dengan pesan sejuk yang disampaikan para sesepuh masing-masing keluarga besar, diharapkan pesan-pesan menyesatkan yang mungkin sebelumnya telah cukup menggoyahkannya, sedikit demi sedikit akan ternetralkan kembali.

Pemerataan

Di sisi lain mudik menurut berbagai data menunjukkan tren positif, utamanya dalam memeratakan ekonomi yang saat ini masih terkesan terakumulasi di pusat. Melalui mudik meski mungkin hanya bersifat sementara, setidaknya pemerataan ekonomi akan terjadi, dan siapa tahu perkembangan yang menarik serta pesat yang terjadi di tanah kelahirannya mampu menginspirasi mereka yang sukses di perantauan untuk membangun serta memajukan tanah kelahirannya.

Tentu, mudik sangatlah kecil dampaknya bila diharapkan mampu memeratakan ekonomi, namun setidaknya melalui mudik, lalu lintas ekonomi sedikit teratakan, dan melalui komunikasi aktual akan memungkinkan berbagai kalangan sukses mau menginvestasikan modalnya di tanah kelahirannya, yang sebenarnya kaya potensi yang bisa digali.

Melalui mudik, mungkin pula banyak kalangan yang mulai merasakan bagaimana lebih tenangnya wilayah tanah kelahirannya bila dibandingkan dengan pekaknya ibukota serta kota besar lainnya yang selama ini mereka rasakan.

Dengan cara tersebut mungkin saja mampu merubah jalan pikiran mereka untuk memulai hidup baru di tempat yang lebih tenang, sekaligus turut serta memajukan tanah kelahirannya, dan ini tentu sangat sejalan dengan salah satu opsi pemerintah saat ini yang ingin mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Yang jelas, ternyata kemajuan teknologi komunikasi tidak akan mampu menghilangkan tradisi mudik, dan justru memanfaatkannya secara fungsional teknologi komunikasi tersebut akan mampu berkolaborasi dengan terbangunnya silaturahmi antar kerabat serta handai taulan, sehingga diharapan silaturahmi akan tetap terbangun dan berbagai pesan menyesatkan yang sangat merugikan akan tereliminasi dengan sendirinya.

 

 

* Artikel ini telah dibaca 106 kali.
Gunawan Witjaksana
Dosen dan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang. Pengamat komunikasi dan media.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *