Home > HEADLINE > Masyarakat Jateng Diminta Waspada Pasca Penangkapan Kawanan Terduga Pelaku Teror Di Subang

Masyarakat Jateng Diminta Waspada Pasca Penangkapan Kawanan Terduga Pelaku Teror Di Subang

SEMARANG[Kampusnesia]  – Pasca penangkapan kawanan terduga pelaku aksi teror di Subang Jabar beberapa hari menjelang pelaksanaan Pilkada serentak, tepatnya Jum’at (22/6) lalu, dihimbau seluruh elemen masyarakat Jawa Tengah meningkatkan kewaspadaannya.

Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme Provinsi Jawa Tengah (FKPT Jateng ) Dr  Drs Budiyanto SH, M.Hum mengatakan aksi teror tidak mengenal target waktu atau momentum tertentu, tetapi akan selalu memanfaatkan peluang di saat pihak-pihak yang melawan dirinya lengah.

“Pilkada serentak telah memobilisir konsentrasi masyarakat untuk mensukseskan pesta demokrasi rakyat ini, namun demIkian hal itu jangan sampai mengendorkan kewaspadaan untuk mencegah aksis teror di masyarakat, “ ujar Budiyanto di Semarang, Selasa (26/6).

Menurutnya,  para pelaku aksi teror jangan diberi kesempatan untuk beraksi atau bermanuver dalam  situasi dan kondisi apapun. Tekad  masyarakat Jateng yang memposisikan para pelaku aksi teror sebagai musuh bersama masyarakat di seluruh dunia harus tetap digelorakan, terutama di Jawa Tengah.

Peristiwa dua kali penangkapan terduga pelaku aksi teror di Jabar dan satu kali kali di Jateng (Kebumen) oleh Densus 88 Anti Teror beberapa waktu lalu hendaknya menjadi pemicu masyarakat Jateng untuk selalu meningkatkan kewaspadaan.

Dia menuturkan situasi kondusif yang tercipta di Jateng selama proses tahapan Pilkada serentak sejak  Februari lalu hendaknya terus dipertahankan, bahkan ada momentum pesta demokrasi atau tidak hendaknya kewaspadaan terus dijaga dan selalu ditingkatkan tanpa harus mengganggu spirit demokrasi.

Gerakan ronda  atau patroli yang dilakukan oleh para pendukung kedua Paslon Gubernur Jateng . Ganjar – Yasin (1) dan Sudirman-Ida (2) dengan alasan untuk menjaga agar jalannya Pilkada berlangsung  fairply,  demokratis, tidak ada money polic, tidak ada intimidasi dan sebagainya  merupakan ikhtiyar yang baik dalam menjaga nilai-nilai demokrasi agar tidak ternodai perilaku politik yang kotor.

Namun demikian, lanjutnya, aktivitas itu jangan sampai kontraproduktif dan menimbulkan rasa saling curiga yang sangat tinggi, karena kalau itu yang terjadi akan mudah memicu terjadinya salah paham diantara mereka.

Kalau agenda kegiatan itu bisa dilaksanakan dengan baik dan kompak maka secara tidak langsung akan menjadi bagian gerakan masyarakat dalam mencegah gerakan radikal teror. Para pihak yang berniat jahat termasuk aksi teror akan merasa terawasi terus menerus oleh masyarakat, sehingga tidak ada ruang para pelaku teror untuk menjalankan aksinya. (smh )

* Artikel ini telah dibaca 85 kali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *