Home > HEADLINE > KH Ma’ruf Amin Pamitan Di Futuhiyyah Dan Segera Mundur Dari Rois Aam PBNU

KH Ma’ruf Amin Pamitan Di Futuhiyyah Dan Segera Mundur Dari Rois Aam PBNU

DEMAK[Kampusnesia] –  Seraya menanti penetapan sebagai calon Wakil Presiden, KH Ma’ruf Amin melakukan safari ke pesantren di Jawa, untuk pamitan kepada para kyai dan santri bahwa dirinya siap mundur dari Rois Aam Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Setelah menyisir pesantren di Jatim,  Selasa (4/9) kyai Ma’ruf bersilaturahmi dengan KH Maemun Zubair, pengasuh pondok  pesantren Al Anwar Sarang Rembang, kemudian dilanjutkan bersilaturahmi dengan para kyai dan santri Demak di masjid Annur yang berada di kompkek  Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen, Demak dibawah asuhan  KHM Hanif Muslih, Lc.

“Melalui majlis ini kami pamit dan mohon diri kepada para santri dan kyai pesantren, setelah ditetapkan sebagai calon Wapres oleh KPU, maka mandat sebagai rois aam syuriyah akan kami kembalikan ke PBNU, kami mohon doa restu  untuk berkompetisi di Pilpres 2019,” ujarnya di pesantren Futuhiyyah, Selasa malam (4/9).

Menurutnya, kalangan pesantren dan NU hendaknya dapat memahami dengan tepat dan cerdas atas pencawapresan dirinya untuk mendampingi Capres petahana Jokowi dalam Pilpres tahun depan. Fenomena ini harus dipahami sebagai sebuah penghormatan Presiden terhadap NU, kyai, santri dan pesantren yang sebelumnya tidak pernah minta jabatan.

Sejak menjadi santri dirinya tidak pernah bercita – cita menjadi pejabat, kalaupun ada cita – cita atau angan – angan paling tinggi menjadi kyai, itu sesuatu yang lumrah bagi para santri, karena kalau sekarang diminta untuk menjadi Cawapres maka dimaknai sebagai penghormatan.

Dengan adanya kepercayaan ini,maka pesantren perlu bersungguh untuk mensukseskannya, sekaligus membuktikan kepada publik bahwa santri mampu mengemban amanat apa saja jika bangsa dan negara ini membutuhkan.

Sebelumnya, lanjutnya, saat bangsa Indonesia dijajah, santri bersama kyai tampil di medan laga untuk merebut kemerdekaan, saat merdeka dan negara membutuhkan kiprah anak bangsa untuk mengisi kemerdekaan tampil sejumlah santri di pemerintahan dengan menjadi menteri. Misalnya KH Idham Chalid, KH Wahib Wahab, KH Masykur, KH Syaefudon Zuhri dan sebagainya, mereka adalah para santri yang sederhana hidupnya.

Kemudian saat reformasi, dia menambahkan peran santri semakin bersinar dan melesat hingga ada yang menjadi presiden seperti Gus Dur, Wakil Presiden Hamzah Haz. Kini dalam Pilpres 2019 kembali ada santri bahkan kyai yang digandeng Capres petahana untuk diperjuangkan menjadi Wapres.

Dia menuturkan meski ke depan berada di luar struktur NU, dirinya tetap akan berkhidmah dan berkontribusi kepada NU dan pesantren, karena hal ini sudah menjadi sikap santri dan kyai terjadi apa saja tetap berjuang di NU. (smh)

 

* Artikel ini telah dibaca 39 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *