Home > HEADLINE > Pimpinan Perguruan Tinggi Harus Waspadai Gerakan Bawah Tanah HTI

Pimpinan Perguruan Tinggi Harus Waspadai Gerakan Bawah Tanah HTI

SEMARANG [Kampusnesia] – Kendati sudah dinyatakan sebagai organisasi terlarang di bumi Indonesia, namun diduga kuat aktifis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tetap bergerak di bawah tanah, untuk menyerbarluaskan paham khilafah dengan menyusup ke lingkaran komunitas mahasiswa, berlindung dibalik gerakan dakwah. Pimpinan perguruan tinggi harus mewaspadai gerakan ini.

Ketua Bidang Kajian dan Penelitian Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme Provinsi Jawa Tengah ( FKPT Jateng) Dr Syamsul Ma’arif , MA mengingatkan kepada kalangan pimpinan perguruan tinggi agar sejak dini membentengi mahasiswanya, untuk mencegah tidak tersusupi, terpapar dan terpengaruh oleh gerakan HTI yang diduga terus bergerak melalui berbagai cara.

“Mahasiswa baru menjadi incaran mereka untuk digarap atau dibrandwashing agar dengan tidak terasa terseret dalam gerakan radikal teror,“ ujar Syamsul saat menyampaikan paparan tentang Gerakan Anti Radikalisme dan Terorisme didepan mahasiswa baru STIKES, Akper dan AKFIS Widya Husada Semarang yang mengikuti Program Pengenalan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) di Semarang, Kamis (6/9).

Menurutnya, tugas membentengi generasi muda agar tidak mudah terpengaruh oleh ideologi yang bertentangan dengan Pancasila tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah, tetapi harus dipikul bersama oleh seluruh elemen bangsa, termasuk para pimpinan perguruan tinggi terhadap para mahasisnya.

Penguatan ideologi Pancasila, lanjutnta, di lingkungan mahasiswa dapat dilakukan secara massif dan bersama-sama antara pihak kampus dengan pemerintah, sehingga nilai-nilai Pancasila dapat terimplementasikan dalam tataran realitas berbangsa dan bernegara.

Sebagai bagian dari masyarakat, mahasiswa dapat dimaksimalkan menjadi agen perubahan yang dapat mengawal keberlangsungan NKRI, sekaligus mengcounter berbagai aliran yang mencoba menarik secara kontras antara agama dengan ideologi bangsa yang pada akhirnya merongrong kewibawaan pemerintah.

Dia mrnuturkan sasaran kelompok perongrong kedaulatan bangsa seperri HTI tidak pandang bulu dalam mengincar sasarannya, mahasiswa yang sedang mendalami ilmu kesehatan juga berpotensi untuk dipengaruhi dan direkrut menjadi bagian dari gerakannya yang seringkali berkedok sebagai gerakan dakwah, namun sejatinya gerakan mereka adalah gerakan politik.

Namun, dia menambahkan belakangan gerakan itu terbongkar kadoknya dan dengan cepat menggeser stratagi dan taktiknya dengan membonceng popularitas nama-nama dai kondang dan artis papan atas untuk dibenturkan dengan masyarakat yang sebenarnya sudah menikmati hidup dalam suasana yang tenteram dan toleran. (smh)

* Artikel ini telah dibaca 279 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *