Home > EDITOR'S CHOICE > Menyimak Komunikasi Para Elit

Menyimak Komunikasi Para Elit

Sangat memprihatinkan melihat serta mencermati kasus Ratna Sarumpaet, betapa tidak,  seorang tokoh yang selama ini terkesan berjuang untuk kepentingan akar rumput dengan berbagai statement yang biasanya sangat keras, tiba-tiba melalui berbagai media meminta maaf karena melakukan tindakan kurang terpuji dengan membohongi banyak kalangan.

Bahkan dengan kondisi fisik ketika itu, serta pengakuan yang disampaikannya banyak dipercaya, bahkan langsung ditanggapi dengan berbagai pernyataan lainnya oleh sebagian elit politik, yang akhirnya pasca pengakuan yang bersangkutan, dengan entengnya mereka ikut-ikutan meminta maaf, bahkan ada pula yang melakukan jastifikasi (pembenaran), dengan merujuk kasus yang sudah terselesaikan dan sangat berbeda.

Yang lebih memprihatinkan, di tengah pemerintah serta seluruh elemen masyarakat sedang disibukan menangani musibah gempa bumi dan tsunami Palu dan Donggala yang masih perlu perhatian penanganan serius dan segera serta tepat sasaran, masih ada elit politik menyampaikan pernyataan berapi-api dengan pernyataan lain, yang ternyata berupa kebohongan.

Melihat, kenyataan itu, maka yang perlu direnungkan bersama adalah tidakkah ke depan semua pihak perlu cermat serta berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan lewat media massa yang memiliki kekuatan melipatgandakan pengetahuan ?. Bukankah menelisik keakuratan fakta serta data sebelum disampaikan merupakan salah satu prinsip dalam menyampaikan informasi yang informatif dan bukan malah membingungkan ?. Dampaknya pun, kalau keliru menyampaikan pernyataan, bukankah akan menurunkan kredibilitas, seperti yang disampaikan Yale?

Keakuratan, Kesalahan Dan Perbaikan

Kita tentu ingat pada apa yang disampaikan oleh Neil Towne dan Thomas B Alder, bahwa komunikasi itu tidak bisa diperbaiki dan diulang  (communication is irreversible & unrepeatable). Mengingat hal itu, maka sebaiknya kaum intelektual serta para elit politik cermat serta berhati-hati, sebelum menyampaian berbagai informasi serta pernyataan lewat mass media.

Sabdo Pandhito Ratu Tan Keno Wola Wali, sebenarnya merupakan rujukan adiluhung yang perlu kita ingat serta perhatikan dengan seksama. Dhawuh para sesepuh yang ternyata berkorelasi positif dengan apa yang disampaikan Towne dan Alder tersebut, tampaknya perlu diperhatikan sebelum menyampaikan pernyataan, karena mereka tahu bahwa dalam komunikasi itu memperbaiki serta mengulangi pernyataan itu sangatlah sulit.

Pada intinya dalam menghadapi dinamika masyarakat yang sangat cepat tersebut, setiap orang, dalam suasana apa pun, meski ada di tahun politik, harus selalu mengedepankan kepentingan yang lebih luas, terlebih ini sesuai dengan janji-janji mereka untuk menyejahterakan rakyat.

Dengan berfikir emphatik semacam itu sebelum menyampaikan pernyataan, maka semua pihak akan berhati-hati serta berfikir panjang sebelum menyampaikan pernyataan melalui media yang dampaknya sangat luas dan komplek.

Kasus Ratna Sarumpaet hendaklah dijadikan momentum awal, agar semua pihak bisa saling introspeksi, sehingga kegiatan yang kontraproduktif, terlebih yang disebabkan ketidakakuratan informasi perlu dihindarkan.

Dialog

Sebenarnya Pemilu itu adalah ajang kompetisi dan bukan arena perang.  Selain itu bila kita cermati, sebenarnya hakekat demokrasi itu adalah dialog, yang intinya adalah mencari titik temu dan saling mengalah.

Mencari menang dalam sebuah kompetisi pun hukumnya wajib. Namun, untuk mencapainya pun tidak baik menghalalkan segala cara. Di dalam bidang olahraga misalnya, salah satu cara yang tidak sehat ditempuh misalnya doping. Namun, konsekensinya akan didiskualifikasi bila ketahuan.

Ibarat pesta olahraga, Pemilu pun juga demikian. Bila ketahuan salah satu kontestan melakukan hal yang kurang layak dalam mencapai kemenangan, maka konsekensinya bila tidak didiskualifikasi oleh penyelenggara Pemilu, mungkin akan didiskualifikasi para pemilih untuk tidak jadi memilihnya karena kredibilitas, kapasitas serta kapabilitasnya diragukan.

Akhirnya, semua pihak tentu berharap, Pemilu Raya 17 April 2019 mendatang dengan rangkaian acaranya berjalan dengan baik. Riak-riak ketidakpantasan yang selama ini berlangsung perlu distop, karena hanya akan merugikan diri sendiri. Prinsip komunikasi yang berupa kejujuran, kemenarikan, serta etika hendaknya saling dijaga, sehingga selesai Pemilu semua pihak merasa bahagia.

* Artikel ini telah dibaca 106 kali.
Gunawan Witjaksana
Dosen dan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang. Pengamat komunikasi dan media.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *