Home > HEADLINE > Hari Santri Nasional Sudah Milik Seluruh Bangsa Indonesia

Hari Santri Nasional Sudah Milik Seluruh Bangsa Indonesia

SEMARANG[Kampusnesia] – Hari Santri Nasional  (HSN) yang diperingati setiap pada 22 Oktober,  bukan hanya milik komunitas pesantren saja, tetapi kini sudah menjadi milik nasional, setelah para santri berhasil menginspirasi seluruh warga bangsa dalam menjaga kehormatan dan  menegakkan kedaulatan bangsa.

Keberanian santri dalam melawan kekuatan imprialis telah berhasil menginspirasi seluruh warga bangsa dalam menjaga kehormatan dan menegakkan kedaulatan bangsa, yang ujung-ujungnya  memunculkan sikap keberanian dan kepahlawanan.

Sekretaris tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama  Jawa Tengah (PWNU Jateng), KH Hudallah Ridlwan Naim, Lc mengatakan momentum historis resolusi jihad yang digelorakan Rois Akbar Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) Hadratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari dan berhasil menginspirasi keberanian bangsa Indonesia dalam pertempuran 10 November  di Surabaya merupakan satu kesatuan rangkaian sejarah yang harus dijaga keutuhannya.

“Oleh karena itu, dalam memperingati HSN, kalangan pesantren jangan terjebak dengan rutinitas seremonial saja. Misalnya hanya menggelar upacara dengan mengenakan busana sarung dan peci saja. Namun, harus mampu mengkonsolidir seluruh elemen bangsa dalam  mempertahankan kedaulatan bangsa di berbagai bidang,” ujar Gus Hudallah, di Semarang, Rabu (17/10).

Menurutnya, pesantren selama ini dengan semangat kemandirian dan kesederhanaan telah membuktikan keberhasilannya dalam membangun karakter anak bangsa, ditengah minimnya sentuhan fasilitas yang dialokasikan oleh negara yang dibelanya di awal-awal proklamasi. Namun pesantren tetap konsisten terus bergerak tak kenal lelah dalam membangun karakter anak bangsa.

Di sisi lain, lanjutnya, lembaga-lembaga pendidikan formal yang bergelimang fasilitas negara perlahan semakin kewalahan dan kedodoran dalam melahirkan kader-kader bangsa yang memiliki karakter kuat. Masalah gerakan radikal teror yang menjadi musuh besar bangsa misalnya, justru persemaiannya terjadi di lembaga-lembaga pendidikan formal yang  mendapat sentuhan anggaran dari negara dalam jumlah yang besar.

Sementara, pesantren hingga kini masih belum mendapat sentuhan maksimal dari  20% anggaran pendidikan yang ditetapkan setiap tahunnya melalui APBN,  ini  harus menjadi perhatian bagi para pengambil kebijakan anggaran di negeri ini.

Dalam setiap memperingati HSN, dia menambahkan sudah semestinya kalangan pesantren mulai memikirkan hal ini, penghargaan negara kepada santri tidak cukup hanya diberi HSN saja, tetapi harus diwujudkan dalam kebijakan anggaran yang memihak kepada kepentingan santri.

Selain itu, tutur Gus Hudallah, pesantren harus selalu mengingatkan kepada pengambil kebijakan untuk senantiasa menjaga amanah kedaulatan bangsa dalam berbagai hal, mulai dari kedaulatan politik,  ekonomi,  sandang, pangan, papan dan lainnya, sebagaimana para santri dulu di awal kemerdekaan di tengah kesederhanaan berani mengambil resiko dalam turut serta menegakkan kedaulatan politik negara yang akan dirampas imprialis. (smh)

 

 

* Artikel ini telah dibaca 361 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *