Home > HEADLINE > PWI Keluarkan Sikap Sambut Tahun Politik 2019

PWI Keluarkan Sikap Sambut Tahun Politik 2019

JAKARTA[Kampusnesia] – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) menjelang pergantian tahun mengisyaratkan pesta demokrasi sudah semakin dekat yang bakal digelar April tahun depan. Hajatan nasional itu sangat menentukan bagi perjalanan bangsa.

Tahun depan, bangsa negeri ini akan memilih pemimpin, bukan hanya pemilihan Presiden – Wakil Presiden, melainkan juga pemilihan legislatif untuk lima tahun ke depan.

Pemilihan itu akan digelar secara serentak tahun depan. Pesta demokrasi ini. penting sekali untuk saling mengingatkan agar sebagai sesama komponen bangsa tetap terus menjaga semangat persaudaraan dan semangat kerukunan. Meski berbeda pilihan dan berbeda pandangan politik itu hal wajar. Namun yang paling penting adalah bagaimana tetap menjaga toleransi, kebersamaan dan semangat saling menghormati dalam perbedaan itu.

Semua unsur masyarakat mesti memberikan andil untuk menjaga suasana kemasyarakatan yang tenang, guyup dan kondusif. Tanpa terkecuali komunitas pers nasional.

Atal Sembiring Depari
Ketua Umum PWI mengajak kalangan wartawan di seluruh Indonesia, untuk bersama-sama menjaga agar ruang publik media menjadi ruang yang mencerahkan masyarakat dan mendinginkan suasana.

“Mari kita jaga agar ruang media tidak menjadi ruang provokasi dan ruang pecah belah masyarakat. Teman teman wartawan menjadi andalan masyarakat untuk menjaga persatuan dan kesatuan, dengan senantiasa menampilkan pemberitaanyang berkualitas, obyektif dan independen,” ujarnya dalam siaran pers, Sabtu (29/12).

Media-massa jurnalistik, lanjutnya, seyogyanya tidak terseret dalam perkubuan politik, berada di tengah tengah untuk mendampingi masyarakat di kala suasana politik semakin memanas belakangan ini.

Hal yang tidak kalah penting, menurutnya, untuk diperhatikan oleh komunitas pers nasional masalah bangsa ini, bukan hanya Pemilu dan pergantian kepemimpinan nasional. Bangsa Indonesia memiliki masalah serius yang lain di antaranya soal korupsi, pemerataan pembangunan, pengentasan kemiskinan, kelestarian alam, toleransi antar umat beragama, penanganan bencana dan lainnya.

Jangan sampai karena hiruk-pikuk penyelenggaraan Pemilu, menjadi abai terhadap masalah-masalah tersebut. Bahkan dengan begitu bersemangat mendiskusikan dan mewacanakan suksesi kepemimpinan nasional, komitmen pers menjadi mengendur terhadap persoalan-persoalan bangsa itu.

Salah satu masalah, dia menambahkan yang mengemuka dalam kehidupan pers Indonesia sepanjang 2018 adalah independensi dan imparsialitas media massa terhadap partai politik dan kandidat Presiden/Wakil Presiden. Insan pers tidak dapat menutup mata dari fakta bahwa beberapa pemilik media secara terbuka dan dengan kesadaran diri terjun ke dunia politik, dengan menjadi pemimpin partai politik atau menjadi simpatisan dari kandidat tertentu. Tentu saja, terjun ke dunia politik adalah hak setiap orang, termasuk para pemilik media. Namun persoalannya di sisi lain UU Pers menyatakan pers pertama-tama adalah institusi sosial. Dalam kedudukannya sebagai institusi sosial, pers mesti mengedepankan nilai-nilai dan kepentingan publik di atas kepentingan apa pun dan siapa pun.

Dengan demikian, tutur Atal, secara etis dan normatif, dalam kaitannya dengan agenda suksesi kepemimpinan nasional, setiap institusi media mesti bersikap independen dan mengedepankan kepentingan-kepentingan bersama.

Terkait dengan peran pers yang sangat strategis dan menentukan 2019,  serta dalam konteks persoalan bangsa secara lebih luas, pada akhir tahun ini, PWI menyampaikan sikap sebagai berikut; Di tengah-tengah perkembangan politik yang berjalan sangat dinamis, di mana kekuatan-kekuatan politik bersaing satu sama lain dalam pencitraan diri, penggalangan opini publik dan mobilisasi politik, selalu ada kemungkinan bahwa masyarakat akan memilih “kucing dalam karung”.

Memilih para pemimpin karena sekedar harus berpartisipasi dalam Pemilu tanpa mengetahui terlebih dahulu kualitas para pemimpin tersebut. Dalam hal ini, pers mesti memberikan pendampingan kepada masyarakat.

Pers mesti berperan menyediakan informasi dan wacana yang dibutuhkan masyarakat untuk mengenali kelebihan dan kekurangan para Calon Presiden atau Wakil Presiden, Calon Anggota DPD, Calon Anggota DPR RI, Calon Anggota DPRD I dan CalonAnggota DPRD II, tetapi dengan tetap semangat independen dan profesional.

Pers menyajikan informasi tentang para kandidat, tetapi memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk menentukan sendiri pilihan politiknya.

Pemilu 2019 adalah Pemilu sangat kompleks sekaligus rawan. Di bilik suara, pemilih berhadapan langsung dengan 5 kartu suara yang berbeda. Ada sekitar 20.500 kursi yang diperebutkan oleh lebih dari 300.000 kandidat, dan terdapat 850.000 TPS dengan total 5.000.000 panitia pemungutan suara.

Banyak sekali informasi yang mesti diketahui masyarakat tentang proses persiapan Pemilu, pemungutan suara, kandidasi dan lainnya. Fakta menunjukkan hingga hari ini sosialisasi tentang berbagai hal ini masih belum menunjukkan perkembangan yang menggembirakan, hingga berpotensi menimbulkan kerawanan mengingat semakin dekatnya penyelenggaraan Pemilu.

Dalam hal ini, pers perlu diingatkan agar turut berperan dalam sosialisasi tentang tahap-tahap dan tata cara pemilu, sebagaimana telah terbukti, media massa adalah saluran komunikasi dan informasi yang utama di Indonesia hari ini.

Jangan sampai, pers terus-menerus hanya berkutat dengan isu persaingan Capres-Cawapres dan mengesampingkan pemilihan legislatif. Bahkan pers jangan terlalu sibuk dengan kontroversi tentang persaingan antar kandidat sehingga melupakan pentingnya pemberitaan tentang proses-proses penyelenggaraan pemilu.

Yang tidak kalah penting adalah menjaga suasana yang kondusif dan aman menjelang pelaksanaan pemilu. Semua kandidat politik sangat berkepentingan dengan pemberitaan media. Beberapa di antara mereka mungkin akan berusaha menggunakan ruang pemberitaan media untuk menyudutkan pihak-pihak lain. Perlu kedewasaan dan kehati-hatian dalam hal ini, agar media tidak terseret ke dalam konflik atau persaingan politik antar kontestan pemilu.  Media harus menghindari peranan “intensivier of conflict”, peranan mengintensifkan dan memperbesar skala konflik melalui pemberitaan yang bersifat bombastis dan provokatif.

Sikap PWI juga menghimbau media-media mesti dapat menahan diri dan tahu-batas dalam menggunakan informasi di media sosial. Jika media-sosial dipenuhi dengan informasi yang spekulatif, agigatif, hoax dan ujaran kebencian, semestinya media massa jurnalistik menyajikan informasi yang lebih baik dan berkualitas. Jika di media sosial banyak orang asal ngomong, asal nuduh dan apriori kepada orang lain, semestinya media massa jurnalistik tidak ikut-ikutan menyebarkan informasi atau pernyataan yang demikian. Jika di media sosial, publik sering terpancing untuk menggunjingkan masalah-masalah pribadi tokoh politik dan pejabat, semestinya media-massa jurnalistik dapat menghindari eksploitasi urusan-urusan pribadi yang tidak ada hubungannya dengan kepentingan publik.

Pendek kata, perlu dijaga benar agar media-massa jurnalistik tidak menjadi follower media-sosial dalam hal menyajikan informasi yang tidak kredibel, apriori, bermuatan kebohongan atau kebencian. Di era disrupsi dewasa ini, jati diri pers nasional sedang diuji apakah dapat menampilkan informasi dan wacana yang lebih beradab dibandingkan dengan media sosial.

Pers Indonesia mesti dapat mengawal proses penyelenggaraan suksesi kepemimpinan nasional 2019 berdasarkan UU Pers No. 40 tahun 1999 dan Kode Etik Jurnalistik. Besar harapan masyarakat agar pers Indonesia dapat menjadi “wasit” yang adil dan proporsional, dan tidak justru menjadi “pemain” dalam proses Pemilu yang berlangsung. Mentaati Kode Etik Jurnalistik dan berperan sebagai pihak yang netral juga dapat menghindarkan pers, terutama wartawan dari kemungkinan-kemungkinan kekerasan yang masih sering terjadi dalam pelaksanaan Pemilu di Indonesia. (rs)

* Artikel ini telah dibaca 11 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *