Home > HEADLINE > Iriana Kagumi Kemegahan Gedung Lawangsewu Semarang

Iriana Kagumi Kemegahan Gedung Lawangsewu Semarang

SEMARANG[Kampusnesia] – Kemegahan bangunan Lawangsewu menjadi perhatian Ibu Negara Iriana Joko Widodo maupun anggota Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja (OASE-KK) saat berkunjung di Kota Semarang, Jumat (4/1).

Iriana mengajak Ketua TP PKK Jateng Atiqoh Ganjar Pranowo berkeliling Lawangsewu yang juga ditemani istri Panglima TNI Nanny Hadi Tjahjanto serta Direktur SDM dan Umum PT KAI R Ruli Adi.

Sejumlah pengunjung Lawangsewu pun harus diperiksa terlebih dahulu di pintu masuk oleh Paspampres sebelum membeli tiket.

“Tadi di pintu masuk, diperiksa. Saya tidak tahu kalau ada Ibu Iriana Jokowi. Alhamdulillah, meski sempat menerobos pengamanan ketat, bisa berfoto bersama Ibu Negara,” ujar Sulistya warga Magelang yang berwisata ke Lawangsewu bersama suami dan anak keduanya yang beru berumur 5 bulan.

Ibu Negara berkali-kali mengajak Atiqoh dan rombongan untuk berfoto bersama. Mulai dengan latar belakang dinding kaca patri berukuran tinggi lebih dari dua meter.

Kaca yang terbagi menjadi empat panel besar ini mencerminkan cerita eksploitasi besar-besaran hasil alam Nusantara. Flora dan fauna diangkut kereta dan dikumpulkan di kota-kota pelabuhan Pulau Jawa sebelum diperdagangkan di dunia, untuk memperkaya Belanda dan keluarga kerajaannya di bawah perlindungan Dewi Fortuna.

Detailnya, di panel tengah-bawah berjajar Dewi Fortuna, si dewi keberuntungan yang berbaju merah, roda bersayap lambang kereta api, dan Dewi Sri, dewi kemakmuran Suku Jawa. Panel di atasnya adalah tumbuhan dan hewan yang menggambarkan Nusantara sebagai negeri kaya akan hasil bumi berikut simbol kota-kota dagang Batavia, Surabaya, dan Semarang.

Simbol kota-kota dagang Belanda, meliputi Amsterdam, Rotterdam dan Den Haag, berderet di panel kiri. Panel kanan menampilkan ratu-ratu Belanda.

Tak berhenti di situ daya tarik Lawangsewu. Ibu Negara juga melihat, dari sisi arsitektur, gedung itu dibangun tanpa menggunakan semen, melainkan adonan bligor, atau ada juga yang menyebutnya pese, yakni istilah lokal untuk menyebut campuran pasir, kapur, dan batu bata merah.

Kelebihan bligor dibanding semen adalah bangunan jadi tak mudah retak, tak heran jika tak ditemukan retakan di Lawang Sewu. Bligor juga lebih awet dan menyerap air, sehingga ruang dalamnya sejuk.

Konstruksinya juga tanpa besi. Atapnya dibuat berbentuk melengkung setengah lingkaran tiap setengah o untuk mengurangi tekanan. Struktur atap dari bata yang disusun miring layaknya struktur jembatan. (rs)

* Artikel ini telah dibaca 6 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *