Home > HEADLINE > Dinamikan Pemilu Jangan Picu Ketakutann Rakyat Dalam Pesta Demokrasi

Dinamikan Pemilu Jangan Picu Ketakutann Rakyat Dalam Pesta Demokrasi

SEMARANG[Kampusnesia] – Kendati suasana kompetisi melekat dalam  tahapan-tahapan pemilihan umum (Pemilu) diharapkan dinamikanya tidak menjadikan pesta demokrasi lima tahunan ini menjadi agenda yang menakutkan di mata rakyat.

Peringatan itu disampaikan dua pimpinan ormas Islam Majlis Ulama Indonesi (MUI) dan Dewan Masjid Indonesia ( DMI ) Provinsi Jawa Tengah dalam acara talkshow bertajuk ulama menyapa yang ditayangkan stasiun TVKU Semarang, Senin (7/1).

Dalam acara yang dipandu host Myra Azzahra itu, Ketua Umum MUI Jateng KH Dr Ahmad Darodji, M.Si mengatakan tahapan-tahapan Pemilu 2019 sudah berjalan lancar. Rakyat atau pemilih harus diyakinkan bahwa Pemilu akan berjalan lancar dan penyelengara didorong agar bekerja dengan sebai-baiknya.

“Jangan malah sebaliknya, rakyat disuguhi informasi-informasi yang bernada pesimisme dan membenturkan perbedaan antar pihak yang sedang bekompetisi. Demikian juga penggunaan istilah tahun politik, itu tidak familiar,” ujar kyai Darodji

Menurutnya, istilah tahun politik tidak tepat, sebaiknya diganti dengan istilah tahun pesta demokrasi yang lebih nengesankan dan mendorong optimisme rakyat.

Karena suasana pesta, lanjutnya, maka adanya berbagai perbedaan antara sesama peserta pesta tidak menjadikan persoalan. Sebaliknya  justru semakin memperindah harmonisasi perbedaan – perbedaan yang muncul

Sekretaris Umum DMI Jateng, KH Drs Multazam Ahmad MA menuturkan para aktor Pemilu 2019 semestinya mendorong masyarakat untuk benar-benar menggunakan haknya dengan baik dan bertanggung jawab.

“Saya melihat bahwa sebenarnya masyarjat kita sudah siap menghadapi perbedaan pilihan saat berlangsungnya Pemilu, mereka siap menerima siapa calon yang menang dan yang kalah, bagi rakyat Pemilu dapat berjalan baik, itu sudah dianggap kemenangan,” tutur Multazam

Menurutnya, justru para elit politiklah yang perlu dikonfirmasi tentang kesiapannya menerima kekalahan, jika kandidat yang didukungnya gagal meraih kemenanga. Maka dalam upaya menghindari kekalahan dilakukanlah berbagai manuver untuk menjatuhkan lawan melalui berbagai cara termasuk cara-cara yang tidak elegan meski berpotensi memicu benturan dan ancaman perpecahan.

Oleh karena itu, dia menambahkan semua pihak harus merasa terpanggil untuk  bersama-sama mewujudkan agenda-agenda Pemilu berlangsung dengan nyaman dan damai serta tidak terteror informasi yang mencekam. (smh)

* Artikel ini telah dibaca 15 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *