Home > EDITOR'S CHOICE > Mengkaji Nuansa Debat Capres 2019

Mengkaji Nuansa Debat Capres 2019

Debat Pemilihan Umum (Pemilu), khususnya debat ke dua kandidat Presiden dan Wakil Presiden (Capres dan Cawapres) menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu , terlebih di era keterbukaan dan pesatnya perkembangan teknologi komunikasi saat ini. Kalau pada masa lampau hanya kaum muda serta para intelektual yang berminat mengikuti, namun saat ini berdasarkan observasi seluruh lapisan masyarakat mengikutinya, dengan berbagai penilaian terhadap penyelenggaraan serta isi debat tersebut.

Mereka, rata-rata ingin melihat kepiawaian para kandidat, sekaligus mencocokannya dengan berbagai informasi serta data simpang siur yang sering mereka peroleh dari media sosial(medsos).

Pada debat pertama Capres dan Cawapres 2019 yang diselenggarkan pada 17 Januari 2019 yang lalu, masyarakat rata-rata merasa tidak puas, utamanya karena adaanya kisi-kisi pertanyaan yang telah terlebih dahulu dikirimkan pada para kandidat dan timnya, sehingga debatnya tampak seperti menghafal jawaban yang sudah dibocorkan lebih dahulu.

Sebaliknya pada debat ke dua berikutnya yang diselenggarakan 17 Februari 2019, sebagian besar audience merasa puas, karena tanpa kisi-kisi, maka debat tampak lebih alamiah dan kemampuan para kandidat lebih tampak. Selain itu, karena debatnya antar Calon Presiden, maka tampak lebih menarik, utamanya kemampuan ke duanya dalam berdebat lebih jelas terlihat.

Namun, sebagai sebuah proses kampanye, ternyata tidak semuanya menerima model debat yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) itu dengan lapang dada. Meski sebenarnya etika debat sudah tertata serta terkontrol dengan baik, bahkan kadang debat tersebut tampak mirip dialog, namun toh ada yang menilainya kurang puas, bahkan melaporkannya ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), karena salah satu kandidat dianggap menyerang pribadi kandidat lainnya.

Pertanyaannya, mengapa itu terjadi ? Perlukah sebenarnya hal tersebut dilakukan?, serta bagaimana dampaknya baik bagi yang melapor atau pun terlapor ? Bagaimana sebaiknya ke depan?

Konstruktif

Luckman dan Berger sebagai penemu pandangan constructivism, melihat bahwa orang akan melihat sesuatu berdasarkan pengetahuan, pengalaman, lingkungan, serta kepentingannya, sehingga akhirnya melahirkan pandangan subyektif. Sebaliknya, Westersthall yang berpandangan obyektif melihat sesuatu itu berdasarkan, fakta, relevansi, netralitas serta keberimbangannya.

Pelapor yang merasa kandidat lawannya menyerang pribadi mungkin berpandangan bahwa menyebut kepemilikan lahan serta mengetes tentang istilah baru meskipun populer seperti unicorn, merugikan secara pribadi, meski banyak juga yang berpandangan bukan pribadi, karena didukung fakta serta relevan dengan pencalonannya sebagai Calon Presiden yang perlu memiliki pengetahuan yang luas.

Melihat kenyataan itu, tentu setiap orang boleh menyampaikan pandangannya, namun yang perlu diingat serta diperhitungkan oleh para kandidat serta timnya adalah bagaimana pandangan yang paling general (umum) terhadap masalah yang terjadi dalam sebuah debat.

Urgensi

Dilihat dari urgensinya, utamanya dari ilmu komunikasi, debat adalah sebuah adu argument antara yang setuju serta tidak setuju. Di Amerika Serikat (AS) misalnya, akan selalu bertentangan pandangannya seperti terkait pajak, upah buruh dan sebagainya.

Terkait upah buruh misalnya, bila yang satu ingin menaikkan, yang lain tentu sebaliknya. Namun di Indonesia yang menganut azas yang sama Pancasila dan UUD 1945, tujuannya pun sama yaitu menyejahterakan rakyat serta menjayakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), maka tidak harus demikian yang dilakukan, sehingga urgensi debat yang sesungguhnya kurang tampak.

Yang saling diperdebatkan seharusnya adalah program serta bagaimana pengaplikasiaannya kelak bila terpilih, karena ke duanya tentu akan saling klaim melakukan hal tersebut. Yang harus menjadi nilai lebih adalah bagaimana pengaplikasiannya mudah difahami oleh masyarakat.

Model debat semacam ini jelas lebih menguntungkan petahana, terlebih bila kinerjanya dipandang positif oleh masyarakat. Sebaliknya secara jujur menyulitkan penantang untuk memaparkan programnya ke depan.

Kerena itulah muncul perdebatan dianggap cukup seru yang berawal dari kritik penantang terkait pembagian sertifikat kepada rakyat, yang secara spontan menyebabkan petahana menjawabnya dengan mengaitkannya pada kepemilikan lahan lawan, sehingga memunculkan kontroversi karena perbedaan cara pandang.

Yang perlu diingat kandidat beserta timnya adalah bahwa masyarakat makin cerdas, sehingga mereka tidak perlu disuguhi perdebatan serta protes yang kurang rasional. Dampaknya tentu akan merugikannya sendiri.

Ke depan, para kandidat perlu saling mempersiapkan diri, sehingga mampu menyuguhkan materi debat yang menarik, informatif sekaligus aplikatif, sehingga mudah difahami oleh masyarakat dengan tingkat pendidikan yang paling sederhana pun.

* Artikel ini telah dibaca 83 kali.
Gunawan Witjaksana
Dosen dan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang. Pengamat komunikasi dan media.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *