Home > EKONOMI & BISNIS > Penerimaan Pajak Pariwisata Kota Semarang Meningkat Geser PPJU

Penerimaan Pajak Pariwisata Kota Semarang Meningkat Geser PPJU

SEMARANG[Kampusnesia] – Pembangunan Kota Semarang beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan dengan konsep pembangunan Bergerak Bersama yang dicanangkan oleh Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi.

Pembangunan Bergerak Bersama dengan melibatkan semua pihak, termasuk pihak swasta mampu menunjukkan kesuksesan yang membawa perubahan wajah ibukota Jateng ini.

Walikota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan sejak memimpin Kota Semarang 2011 lalu tiga mata pajak terbesar Kota Semarang selalu didominasi oleh PBB (Pajak Bumi dan Bangunan), BPHTB (Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan), serta PPJU (Pajak Penerangan Jalan Umum).

“Ini menjadi representasi masih banyaknya sektor belum tergarap yang kemudian bila dapat didorong pengembangan sektornya maka akan mampu semakin meningkatkan laju pembangunan,” ujarnya saat memberikan penghargaan kepada 26 wajib pajak dari sektor kepariwisataan di wilayahnya, di Hotel Grand Arkenso Semarang, Kamis (14/3).

Penerima penghargaan wajib pajak berpresetasi tersebut di antaranya Hotel Gumaya, Hotel Santika Premiere, Hotel Ibis, Adi’s Culinary, XXI DP Mall, Kampung Laut dan Pantai Marina.

Namun di sisi lain, lanjutnya, postur realisasi pajak Kota Semarang yang digunakan untuk pembangunan, karena jika pembangunan Kota masih lebih dimaksimalkan ketika realisasi pajak Kota Semarang tak didominasi oleh pajak non produktif.

“Pariwisata pun menjadi salah satu sektor yang sangat strategis dikembangkan guna meningkatkan pembangunan Kota, sehingga pada beberapa tahun terakhir saya fokus untuk menggarap sektor pariwisata dengan merevitalisasi sejumlah objek serta kawasan wisata di Kota Semarang yang sebelumnya belum optimal dibangun,” tutur Hendi panggilan akrab Hendrar Prihadi itu.

Revitalisasi yang dilakukan, dia menambahkan, meliputi revitalisasi Hutan Wisata Tinjomoyo, inisiasi ratusan Kampung Tematik hingga revitalisasi Banjir Kanal Barat melalui pembangunan Semarang Bridge Fountain.

Langkah upaya itu, tutur Hendi, realisasi pajak sektor pariwisata di Kota Semarang berhasil
meningkat drastis meroket menjadi tiga mata pajak terbesar di Kota Semarang.

Pada 2011 hanya sebesar Rp75,9 miliar yang dihasilkan dari pajak hotel, restoran dan tempat hiburan, namun mengalami peningkat drastis lebih dari tiga kali lipat pada  2018 menjadi sebesar Rp258,8 miliar.

Melalui capaian tersebut, pajak dari sektor pariwisata di Kota Semarang telah menggeser dominasi pajak penerangan jalan umum yang pada 2018 terkumpul sebanyak Rp 222,5 miliar. Dengan demikian, postur realisasi pajak di Kota Semarang 2018 berubah menjadi lebih produktif dimana pajak sektor produktif dari aktifitas kepariwisataan telah menjadi salah satu dana  pembangunan terbesar Kota Semarang.

“Ini adalah tren positif bagi Kota Semarang dimana Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Semarang sebelumnya sudah tembus Rp1 triliun pada 2013 dan sekarang dalam waktu 5 tahun pada 2018 sudah bisa meroket menjadi Rp2,1 triliun,” tuturnya

Menurutnya, pembangunan, yang dilakukan Kota Semarang saat ini salah satunya merupakan hasil dari partisipasi pelaku usaha di sektor pariwisata dan akan dikembalikan untuk mendukung pelaku usaha tersebut melalui pembangunan sektor pariwisata

“Komitmen kami adalah tumbuh bersama seluruh elemen masyarakat di Kota Semarang, dengan melakukan pembangunan yang tepat sasaran,” ujar Hendi. (Andi Saputra/rs)

* Artikel ini telah dibaca 5 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *