Home > HEADLINE > PMI Demak Sulap Kawasan Pantai Rusak Jadi Ekowisata

PMI Demak Sulap Kawasan Pantai Rusak Jadi Ekowisata

DEMAK[Kampusnesia] -Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Demak berhasil mengubah kawasan pantai yang rusak di Desa Kedungmutih Kecamatan Wedung Demak menjadi kawasan Ekowisata Reduksi Rumah Edukasi Silvo fishery.

Ketua PMI Demak dr Singgih Setyono M Kes mengatakan upaya untuk membangun kembali kawasan pantai yang rusak itu dilakukan pada 2016 dengan menerjunkan para relawan PMI Demak anggota Sibat yang juga dikenal sebagai personil DU (Dapur Umum) yang tangguh, sudah teruji dan sudah sering diterjunkan ke beberapa daerah bencana di seluruh Indonesia.

“Kawasan ini berhasil disulap menjadi
kawasan hutan mangrove mini seluas sekitar 1 hektare dengan konsentrasi rehabilitasi hutan mangrove,” ujar Singgih yang juga sebagai Sekda Demak disela menerima kunjungan Djarum Foundation Kudus di Demak, pekan lalu.

Menurutnya, kawasan ini awalnya adalah sebuah kawasan pantai yang rusak, namun berkat kerja keras Tim Sibat, kini menjadi hutan mangrove yang tumbuh lebat dengan jumlah populasi sekitar 127 ribu batang mangrove dari berbagai jenis/spesies hingga kini menjadi pusat edukasi serta tujuan wisata.

Djarum Fondation Kudus, lanjutnya, adalah mitra PMI Demak yang selama ini telah melakukan kerja sama pemberdayaan masyarakat di wilayah Demak. Kunjungan ke Eko Wisata Reduksi atau Markas sibat dilakukan setelah silaturahmi dengan Bupati Demak HM Natsir yang didampingi Wakil Bupati Drs H Joko Sutanto, Sekretaris Daerah dr. Singgih Setyono M Kes, Kamis pekan lalu (2/5) di ruang transit Pendopo Kabupaten.

Saat di lokasi kunjungan dijamu dengan masakan khas hasil biota laut dan tambak yang menurut pengakuan warga setempat sekarang mudah di temui lagi setelah ada hutan mangrove.

Olahan buah mangrove pun sudah bisa dimanfaatkan masyarakat desa untuk menambah penghasilan, di antanya kepiting jantan telor, ikan tambak goreng, udang goreng dan cumi – cumi kecap manis semua hasil tangn trampil tim DU Sibat.

“Dari upaya rehabilitasi hutan mangrove antara Sibat PMI dan masyarakat, sekarang sudah tampak hasilnya yang langsung bisa dinikmati,” tuturnya.

Hasil laut dan tambak kembali meningkat karena ekosistem terjaga, masyarakat juga sudah bisa mengolah buah mangrove menjadi beberapa produk unggulan.

Dengan kata lain, tutur Singgih, alam (Pantai) terjaga, sumber penghasilan masyarakat pesisir makin banyak, merata dan berkah.

Ahmad Rois dan Muhalim, tokoh Sibat menuturkan sejarah berdirinya Reduksi ini berawal dari sisa mangrove yang di tanam di Aceh pasca Tsunami 26 Desember 2004.

“Dari pengalaman membantu korban Tsunami Aceh dengan membangkitkan kesadaran masyarakat untuk bersama-sama menanam Mangrove diterapkan di sini,” ujar Rois. (Faidlul Atiq)

* Artikel ini telah dibaca 25 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *