Home > HEADLINE > Lopis Raksasa Warnai Tradisi Syawalan Di Kampung Krapyak

Lopis Raksasa Warnai Tradisi Syawalan Di Kampung Krapyak

PEKALONGAN[Kampusnesia] –  “Saya tidak bisa membayangkan bagaimana makan lopis raksasa.  Sing mangan piye. Ternyata, rasane enak sekali. Apalagi dicocol dengan parutan kelapa muda.”

Itulah kesan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo usai mengiris lopis raksasa dan mencicipinya dalam tradisi syawalan di Kelurahan Krapyak Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, Rabu (12/6).

Ganjar mencicipi lopis dengan tinggi 200 sentimeter, berat 1.600 kilogram, dan berdiameter 250 sentimeter yang diletakkan di depan Taman Pendidikan Al Quran Miftakhul Ulum Krapyak Lor Gang 8.

Pada tradisi syawalan itu, warga membuat dua lopis raksasa. Lopis kedua tingginya 200 sentimeter dan berdiameter 83 sentimeter. Beratnya mencapai satu ton lebih dan diletakkan di Gang 1.

Menurut panitia syawalan Ahmad Timbul, dua lopis raksasa itu  menghabiskan 10 kwintal beras ketan. Proses memasaknya sendiri membutuhkan waktu tiga hari.

Setelah beras ketan matang, kemudian ditumbuk dan dimasukkan ke dandang raksasa dan dimasak lagi dari pukul 06.00 WIB-16.00 WIB. Agar bentuk lopis yang menyerupai bedug raksasa tidak berubah, lopis dikemas dengan daun pisang dan potongan bambu kemudian diikat.

“Dua lopis raksasa itu kita berikan kepada pengunjung atau warga di luar Krapyak dengan harapan, kita semua mendapatkan keberkahan,” tuturnya.

Sementara itu, Ganjar mengatakan lopis raksasa dari beras ketan itu memiliki makna filosofis tentang sedekah, kegotongroyongan, keakraban, dan keguyuban di tengah kampung yang bisa melupakan perbedaan pilihan pada Pemilu lalu. Mereka tidak lagi berpikir beberapa waktu lalu memilih siapa, tetapi kembali dalam satu, yakni kerukunan.

“Ini kreatifitas yang bisa menjadi tontonan, dan bisa menarik wisatawan mancanegara. Indonesia bisa menjadi mencontoh kegiatan ini. Membuat lopis, tapi masyarakat memberikannya ikhlas untuk dinikmati warga di luar Krapyak,” tuturnya.

Tahun depan, lanjutnya, bisa dikemas kembali. Menjadi satu paket dengan festival balon dan  yang memotong lopisnya jangan walikota, atau gubernur, tetapi turis mancanegara yang datang. (rs)

* Artikel ini telah dibaca 10 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *