Home > HEADLINE > Siswa Ma’arif NU Tak Ada Yang Terpapar Wabah Radikalisme Dan Terorisme

Siswa Ma’arif NU Tak Ada Yang Terpapar Wabah Radikalisme Dan Terorisme

SEMARANG[Kampusnesia] – Hingga detik ini tidak satupun peserta didik di lembaga-lembaga pendidikan dibawah Ma’arif Nahdlatul Ulama terpapar atau terpengaruh wabah radikalisme dan terorisme.

Demikian salah satu poin laporan kegiatan tahunan Pimpinan Wilayah Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Jawa Tengah kepada PWNU Jawa Tengah dalam silaturahmi halal bihalal di kantor PWNU Jateng, Jl Dr Cipto 180 Semarang, Kamis (14/4)

Ketua PW LP Ma’arif NU Jateng R Andi Irawan mengatakan ideologi radikal dan teror saat ini memang sudah menyasar di kalangan anak – anak usia pelajar, karena itu Ma’arif NU akan semakin intensifkan nilai-nilai semangat kebangsaan kepada peserta  didik.

Sekretaris Tanfidziyah PWNU Jateng KH Hudallah Ridwan Lc mengapresiasi laporan perangkat NU yang menangani bidang pendidikan itu. Ini sangat menggembirakan, karena dari 3.000  sekolah dan madrasah Ma’arif, tidak ada yang melahirkan terorisme.

“Sebaliknya, justru teroris dan radikalis banyak yang lahir dari sekolah-sekolah negeri. Mereka difasilitasi negara,  tapi justru melahirkan orang yang melawan negara, sungguh sangat memprihatinkan.” ujar Gus Huda pannggilan akrab KH Hudallah Ridwan itu.

Menurutnya, dari data yang ada pada 2015, hasil survei SETARA Institute for Democracy and Peace (SIDP) yang dilakukan pada siswa SMA Negeri di Bandung dan Jakarta menunjukkan, sekitar 8,5% siswa setuju dasar negara diganti dengan agama dan 9,8% siswa mendukung gerakan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS).

Hasil penelitian PPIM UIN Jakarta pada 2017 yang dilakukan terhadap siswa/mahasiswa dan guru/dosen dari 34 provinsi di Indonesia menunjukkan sebanyak 34,3% responden memiliki opini intoleransi kepada kelompok agama lain selain Islam.

Di  Jateng, lanjutnya, trendnya hampir sama. Sekolah maupun kampus negeri rentan disusupi faham radikal dan intoleran. Hal itu dapat dilihat dari data yang dirillis BNPT pada 2018 menyebutkan 7 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) terpapar radikalisme. Mulai dari Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair) dan Universitas Brawijaya (UB).

“Masih  banyak sekali program pemerintah yang tidak menyelesaikan masalah di akar rumput khususnya di lembaga pendidikan negeri,” tuturnya.

Rais Syuriah PWNU Jateng KH Ubaidillah Shodaqoh menceritakan pengalamannya saat awal-awal dulu mengajar di sekolah. Beliau mengakui radikalisme di sekolah negeri memang tersistem dan menjadi lahan empuk penyebaran faham yang bertentangan dengan agama dan nasionalisme.

Bahkan, dia menambahkan untuk di kampus negeri, adanya organisasi mahasiswa ekstra kampus  seperti PMII, HMI, dan GMNI tidak bisa melawan pergerakan HTI.

“Saya saat menrima tamu ada yang membahas hal itu. Simpulannya, saat ini PMII, HMI, dan GMNI susah untuk melawan pergerakan perkembangan ideologi HTI yang masih berjalan dan menyusup di kampus-kampus negeri,” ujarnya.

NU berharap LP Ma’arif yang menaungi ribuan madrasah dan sekolah se-Jateng untuk konsisten mengajarkan Islam rahmat dan toleran dan menjunjungtinggi nasionalisme. Sebab, meski NU sendirian, namun tetap konsisten dalam menjaga keutuhan Islam dan NKRI. (smh)

* Artikel ini telah dibaca 32 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *