Home > HEADLINE > NU Harus Tetap Konsisten Sebagai Organisasi Pelayanan

NU Harus Tetap Konsisten Sebagai Organisasi Pelayanan

SEMARANG[Kampusnesia] – Sebagai organisasi yang tumbuh dari bawah, Nahdlatul Ulama (NU) harus memprioritaskan gerakan pelayanan untuk kalangan masyarakat kelas bawah.

Sekretaris Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah (PWNU Jateng) KH Hudallah Ridwan Naim Lc mengatakan keberhasilan para kyai mengembangkan NU hingga mampu bertahan sampai saat ini, karena mampu menghadirkan sisi kemanfaatan kehadiran organisasi di tengah-tengah masyatakat.

“Setelah menjadi organisasi besar NU harus tetap pada langgamnya, yakni sebagai organisasi pelayanan, tidak terjebak menjadi organisasi perayaan karena hanya membanggakan jumlah warganya saja, tetapi kurang terurus  dan terlayani, “ ujar Gus Hudallah panggilan akrab KH Hudallah Ridwan Naim itu, di Semarang, Kamis (20/6)

Menurutnya, PWNU Jateng sejak setahun terakhir memberdayakan pengurus di daerah agar memaksimalkan pelayanan kepada warga, sehingga warga masyarakat benar-benar terayomi dan terbantu kesulitannya oleh NU

Aspek yang disentuh dalam layanan itu, lanjutnya, tidak terbatas, karena itu saatnya NU mendayagunakan potensi yang melekat pada warganya yang tersebar di mana-mana, namun belum dapat dikonsidir dan disinergikan.

Dia menuturkan gagasan pemberdayaan ekonomi umat yang dilontarkan anggota musytasar PBNU KH Ma’ruf Amin di forum halal bihalal dan halaqah kebangsaan PWNU Jateng bersama KH Ma’ruf  Amin beserta Kyai , Cendekiawan dan tokoh Jateng di hotel Crown Semarang , Rabu lalu (19/6) dapat dijadikan acuan atau langkah perdana mengawali upaya peningkatan kualitas pelayanan umat.

Di forum itu, tuturnya, kyai Ma’ruf  yang cuga Cawapres nomor urut 01 melontarkan gagasan aktualiasai bemberdayaan ekonomi umat itu menguatkan yang lemah tanpa melakukan yang sudah kuat atau membesarkan yang kecil dengan tidak mengecilkan yang sudah besar.

Pihak yang kecil dan lemah dalam konteks ekonomi di Indonesia didominasi oleh warga NU, maka kalau pada saatnya nanti  konsep itu diaplikasikan NU secara organisasi harus mampu menjadi pemandu proses penguatan itu, bukan sebaliknya NU menjadi benalu yang membebani warganya .

Dengan strategi ini maka saat berlangsungnya proses penguatan yang lemah tidak ada yang merasa tersaingi atau tertandingi. Pihak yang kuat atau besar tidak merasa terancam oleh siapapun. (smh)

* Artikel ini telah dibaca 147 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *