Home > HEADLINE > Kebijakan Dan Sistem Pendidikan Di Indonesia Belum Mampu Tingkatkan Cara Berfikir Kritis

Kebijakan Dan Sistem Pendidikan Di Indonesia Belum Mampu Tingkatkan Cara Berfikir Kritis

SEMARANG[Kampusnesia] – Pergantian kebijakan dan sistem pendidikan di Indonesia yang selama ini sering dilakukan, belum berhasil meningkatkan kemampuan masyarakat untuk berfikir kritis.

Prof Dr Syamsul Ma’arif MAg saat menyampaikan pidato pengukuhannya sebagai guru besar ilmu pendidikan Islam pada Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Universitas Islam Negeri (FTIK UIN) Walisongo Semarang mengatakan bahkan boleh dibilang pendidikan di Indonesia bisa dikatakan gagal membawa masyarakat pada kemampuan berpikir kritis.

“Ini sangat memprihatinkan sekali, semestinya realisasi pergantian-pergantian itu diawali dengan penelitian yang komprehensif metodologinya,” ujar Prof Syamsul dalam pidatonya berjudul Pendidikan Dalam Pusaran Neoliberalisme Dan Gerakan Ultra-Right; Restorasi Local Genius Pesantren di Auditorium 2 kampus 3 UIN Walisongo, Kamis (4/7).

Menurutnya, percuma ganti-ganti kebijakan mengenai sistem tapi tanpa disertai penelitian. Diibaratkan bagaikan tanaman bunga, setiap pendidikan bisa mekar dan berkembang jika sesuai dengan kondisi geografisnya, namun sebalikya, bisa layu dan tidak berdaya jika tidak sesuai.

Karena itu, lanjutnya, diperlukan penelitian mengenai sistem pendidikan yang hendak diterapkan. Kebijakan pendidikan Indonesia selama ini hanya sebatas memperkuat prioritas politis dan struktur kekuasaan semata. Sementara penelitian yang mengarah pada kebutuhan sosial dan realitas cenderung dinomorsekiankan.

Maka wajar kalau hasil penelitian yang diterapkan selama ini dirasa kurang relevan dengan kebutuhan.

Dia menambahkan selama ini negara belum memperhatikan aktifitas penelitian secara intens, oleh karena itu negara sudah saatnya menyeriusi hal ini dengan mendukung pendanaan dalam bidang penelitian. Sehingga Indonesia tidak kalah dengan negara lain yang punya basis akademis bereputasi internasional.

Paradigma penelitian di Indonesia, tutur Syamsul, terjebak pada persoalan yang bersifat administratif ketimbang pengembangan akademik. Tak heran hasil yang didapat kurang optimal dan tidak menjawab masalah yang dihadapi masyarakat.

“Seandainya para dosen diberikan lingkungan akademik yang mendukung untuk melakukan kerja riset, di samping tugas mengajar dan pengabdian pada masyarakat, pasti tidak akan terdengar lagi Indonesia kekurangan publikasi dan kalah dengan negara lain seperti Malaysia dan Thailand,” tuturnya.

Sebagai jalan keluarnya jika pemerintah menganggap penelitian sesuatu sangat penting, maka pemerintah harus segera hadir, menfasilitasi, mengawal secara penuh dari proses penelitian, mengitensifkan klinik-klinik penulisan artikel Jurnal, membuat program residensi penulisan publikasi ilmiah di luar negeri, menghidupkan kembali asosiasi bagi ilmuan, dan mendesain penelitian kolaboratif dengan luar negeri. (smh)

* Artikel ini telah dibaca 111 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *