Home > EDITOR'S CHOICE > Mencermati Pertemuan Jokowi – Prabowo

Mencermati Pertemuan Jokowi – Prabowo

Pertemuan yang ditunggu-tunggu rakyat Indonesia antara Joko Widodo – Prabowo Subianto (Jokowi-Prabowo), akhirnya terwujud pada 13 Juli 2019 lalu. Pertemuan yang bagi masyarakat awam dianggap sebagai kejutan karena hampir tidak terpublikasi sebelumnya, sehingga terkesan sangat natural serta spontan.

Secara kasat mata, media pun banyak yang tidak menyangka bahwa akhirnya pertemuan kedua tokoh yang bertanding di Pilpres lalu terjadi, dan dilakukan di public area, yaitu stasiun MRT, serta Plaza Kawasan Senayan. Meski bagi elit politik tertentu dari ke dua kubu yang bersaing di Pilpres 2019 lalu ada yang mengetahuinya, utamanya yang mengatur protokoler pertemuan, namun bagi masyarakat akar rumput yang semula terkejut, akhirnya sebahagian besar merasa gembira serta bersyukur, bahwa proses politik yang melelahkan tersebut akhirnya berakhir dengan suasana yang menggembirakan.

Dalam pernyataannya, ke dua mantan pesaing dalam Pilpres tersebut masing-masing berharap rivalitas serta perpecahan yang terjadi akan hilang, karena keduanya saling berkomitmen menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Ke duanya pun berharap tidak akan ada lagi 01, 02, cebong atau pun kampret, yang ada adalah Garuda Pancasila serta Merah Putih.

Dalam berbagai pernyataan lanjutan yang terlansir berbagai media, Prabowo akhirnya bertemu Jokowi, semata demi keutuhan NKRI.  Pernyataan yang sangat Adhiluhung penuh dengan sikap kenegarawanan, yang perlu diberikan acungan jempol.

Namun demikian, ada juga para pendukungnya yang melakukan protes, bahkan di berbagai media sosial tidak jarang kritik tersebut mengarah pada kecaman yang kurang pantas. Namun itulah keputusan seorang pemimpin yang tentu mengutamakan kepentingan yang lebih luas, dengan segala resiko yang tentu sudah diperhitungkan.

Dari sisi komunikasi, ada pepatah, kita tidak mungkin bisa menyenangkan setiap orang, namun yang terpenting adalah menyenangkan banyak orang. Kepentingan rakyat serta NKRI, jauh lebih penting dibanding segelintir orang. Sesuai pula dengan sifat opini publik, semayoritas apa pun, di dalamnya tetap saja mengandung kontroversi.

Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana dampak yang terjadi setelahnya, serta ke depan, utamanya demi masa depan bangsa Indonesia?, serta bagaimana sebaiknya rakyat Indonesia menyikapinya ?.

Hing Ngarsa Sung Tuladha

Dengan melihat, akhirnya Prabowo mengucapkan selamat kepada Jokowi, pada tempat yang merepresentasikan keberadaan publik, setidaknya mengesankan dua hal, yang pertama memberikan teladan sebagai pemimpin puncak untuk kubu 02, sehingga diharapkan akan diikuti oleh para pendukungnya.

Ke dua, disepakatinya pemilihan public area, menunjukkan adanya kedekatan dengan rakyat, sekaligus mengesankan hilangnya rintangan komunikasi (communication struggle), dengan rakyat, terlebih  dengan menyaksikan kedekatan mereka dengan rakyat, sehingga rakyatpun secara spontan mengelu-elukan nama Jokowi- Prabowo.

Dampak selanjutnya yang terjadi, kepercayaan asing makin meningkat karna stabilitas politik Indonesia ke depan, termasuk terdongkraknya nilai rupiah terhadap valuta asing, serta meningkatnya IHSG di lantai bursa saham.

Hal lain yang nampak juga, banyak elit yang biasanya bersuara sumbang, mulai merubah haluan dengan mengatur gaya komunikasinya, sehingga lebih menyejukkan suasana. Jokowi sebagai Presiden terpilih pun dengan lebih tenang memimpin NKRI, termasuk dengan leluasa serta lugas serta rasional menyampaikan Visi Indonesia ke depan guna menjadikan Indonesia menjadi negara dengan salah satu yang terkuat di dunia.

Di sisi lain, meski riak-riak kecil bernada sumbang utamanya di media sosial masih ada, namun bagi media arus utama, terkesan sudah merupakan hal yang  tidak menarik, sehingga tidak lagi dipandang sebagai komoditas yang menghasilkan uang karena banyaknya iklan masuk kalau terus di blow-up.

Berbagai peliputan media arus utama yang cenderung positif terhadap situasi Indonesia saat ini, menyebabkan masyarakat menjadi makin tenang, serta makin memperoleh kepastian, termasuk mereka tentu berharap pelayanan yang akan diberikan pemerintah terhadap mereka akan makin meningkat.

Penyeimbang Dan Kepentingan Masyarakat

Pihak yang kalah pun makin mampu memosisikan keberadaan mereka ke depan, bahkan secara tegas di antaranya sudah menyatakan diri menjadi penyeimbang. Posisi sebagai penyeimbang atau yang populer dengan sebutan oposisi dalam sistem demokrasi sangatlah penting serta terhormat. Melalui model demokrasi yang dalam bahasa komunikasi lebih populer dengan dialog, maka semua program yang diperuntukkan bagi rakyat akan mencapai tujuan yang diharapkan.

Sebaliknya, bila kurang pas, pihak oposisi bisa memberikan saran, masukan, bahkan kritikan yang konstruktif, dengan tujuan utama adalah demi kepentingan rakyat banyak serta NKRI. PDIP yang dalam pemerintahan SBY, menjadi oposisi, karena dinilai rakyat memperjuangkan kepentingan rakyat akhirnya memperoleh kepercayaan rakyat dan menjadi penguasa.

Yang lebih penting, di alam demokrasi adalah dialog antar ke dua pihak semata diutamakan untuk kepentingan rakyat dan NKRI. Bahkan rakyatlah yang akhirnya akan merasakan, menilai, serta memutuskan ke depan.

Bagi masyarakat, pesatnya perkembangan teknologi informasi yang dibarengi dengan alam keterbukaan saat ini dan ke depan, mereka harus makin mampu mencermati setiap informasi yang mereka terima, sehingga akhirnya mereka akan mampu memilih serta memilah informasi serta opini yang bermanfaat, termasuk dalam menilai si pembuat berita serta pernyataan tersebut.

Akhirnya, kita tentu berharap momentum menyejukkan bertemunya ke dua tokoh itu menjadikan tonggak bersejarah makin berjayanya NKRI di tengah era globalisasi, yang tidak mungkin lagi kita hindari, melainkan memaksimalkan pemanfaatannya bagi kepentingan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia di masa yang akan datang.

* Artikel ini telah dibaca 92 kali.
Gunawan Witjaksana
Dosen dan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang. Pengamat komunikasi dan media.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *