Home > EDITOR'S CHOICE > Menyosialisasikan Bonus Demografi

Menyosialisasikan Bonus Demografi

Di kalangan pers, ataupun para pegiat masalah demografi dan kependudukan, istilah Bonus Demografi sangatlah familier, sekaligus populer. Sayangnya istilah bonus demografi serta berbagai istilah lain yang menjadi ikutannya tampak masih sangat awam didengar oleh masyarakat pada umumnya.

Setidaknya, itulah  yang secara sepintas tergambar dalam seminar yang bertema Keragaman Demografi dan Pembangunan Berkelanjutan, yang diselenggarakan Dinas Pengendalian Kependudukan dan Keluarga Berencana ( Disdalduk) Kota Semarang, di Fakultas Ekonomika dan Bisnis  Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang, sekaligus mengukuhkan Kepengurusan Koalisi Indonesia Untuk Kependudukan dan Pembangunan Kota Semarang periode 2019-2022, Selasa, 30 Juli 2019.

Dalam forum tanya jawab yang dipandu moderator disertai dengan rangsangan diberikannya doorprize terkait dengan masalah demografi dan kependudukan bagi peserta yang bisa menjawab dengan benar, sepintas tergambar mereka yang mampu menjawab pertanyaan seputar bonus demografi dengan lancar dan benar adalah mereka yang concern pada masalah demografi dan kependudukan.

Sebaliknya, dari sisi komunikasi terkesan pula bahwa mereka yang lainnya terkesan kurang familier. Salah satu contoh ketika ada pertanyaan dari salah satu pembicara terkait jumlah penduduk dunia 2011 (7 miliyar jiwa) yang tatkala itu sempat viral, serta pertanyaan istilah Kampung KB dari moderator.

Contoh serta gambaran sepintas itu, akhirnya memunculkan pertanyaan bagaimana sebaiknya ke depan, agar berbagai istilah demografi dan kependudukan yang tentu akan bermanfaat bagi keberhasilan pembangunan secara sustainable, familier bagi seluruh lapisan masyarakat, sehingga akhirnya mereka akan sadar serta berpartisipasi aktif dalam pembangunan umumnya, serta Kota Semarang khususnya ?

Bahasa Analogi

Bagi para pegiat demografi dan kependudukan, istilah bonus demografi, genre, Fertility Rate ,say no drug, say no free sex, dan lainnya, dengan segala pengertian hingga dampaknya, tentu sangatlah familier. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana berbagai istilah yang sudah sangat familier serta bermanfaat bagi para pegiat tersebut, tersosialisasikan secara luas, dengan menggunakan bahasa yang komunikatif, informatif serta mudah dicerna, sehingga mereka akan mengerti, sadar serta melaksanakannya, setidaknya di lingkungan keluarganya masing-masing.

Istilah FR ( fertility rate) misalnya, bagaimana para pegiat demografi dan kependudukan bisa menerjemahkannya dengan bahasa yang sederhana sehingga mudah dimengerti oleh masyarakat awam, terutama kaum mudanya, yang meskipun terkesan dekat dengan teknologi informasi, namun berdasarkan penelitian masih sangat minim memanfaatkannya untuk mencari berbagai informasi, utamanya informasi terkait demografi dan kependudukan.

Karena itu, salah satu jalan keluarnya adalah bagaimana mengemas berbagai pesan komunikasi menarik, sekaligus cocok dengan keinginan kaum milenial yang sangat dekat dengan media sosial (medsos). Selain itu, kepada masyarakat kita yang rata-rata tingkat pendidikannya masih dibawah SMP ( karena wajib belajar kita 12 tahun), menggunakan bahasa yang analogis, termasuk dengan para orang tuanya tentu cukup efektif.

Kita tentu ingat bagaimana menganalogikan keberhasilan keluarga yang ber KB dengan analogi pohon pisang. Yang dibiarkan anaknya banyak dan kurang terawatt, buahnya kecil-kecil. Sebaliknya yang anaknya dimatikan dan disisakan dua serta dirawat dengan baik, buahnya menjadi besar-besar. Tentunya ini cocok bagi masyarakat yang akrab dengan pohon pisang. Bagi yang tidak, bisa analogikan dengan buah atau yang lainnya.

Intinya, kita jangan seperti katak dalam tempurung. Merasa puas, karena kita sendiri sudah sangat faham serta familier, misalnya dengan istilah bonus demografi. Padahal masyarakat awam tidak tahu tentang istilah itu.

Informatif

Dalam bahasa komunikasi, maka informasi tentang berbagai istilah terkait demografi dan kependudukan beserta ikutannya, haruslah informatif.  Informatif dalam pengertian mereka yang mererima informasi yang kita sampaikan dari tidak tahu, menjadi tahu. Dari tidak faham menjadi faham. Dari bingung, menjadi mengerti, dan bukan sebaliknya tambah bingung.

Dengan demikian berbagai istilah yang terseminarkan pada 30 Juli lalu yang mungkin saja masih banyak yang belum familier, pelan namun pasti serta telaten kita informasikan kepada lingkungan komunitas serta koalisinya masing-masing, sehingga makin lama akan semakin banyak yang memahami, sehingga akhirnya bonus demografi dapat termanfaatkan secara maksimal dan bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat secara luas.

Model-model komunikasi persuasif, dialogis, serta emphatik sekaligus menarik kita lakukan sesuai dengan kapasitas serta kapabilitas kita masing-masing dengan keyakinan bahwa perjuangan serta keikhlasan kita, dikombinasikan dengan senergitas sesuai dengan kemampuan serta pengalaman kita masing-masing, tentu akan menghasilkan sesuatu yang maksimal sesuai dengan harapan kita semuanya.

* Artikel ini telah dibaca 68 kali.
Gunawan Witjaksana
Dosen dan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang. Pengamat komunikasi dan media.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *