Home > EDITOR'S CHOICE > Penyalahan Individu Dan Wacana Rektor Asing

Penyalahan Individu Dan Wacana Rektor Asing

Teori Penyalahan Individu (Individual Blame Theory) merupakan salah satu Teori Pembangunan yang berasal dari barat. Teori tersebut intinya menyebut bahwa keberhasilan atau pun kegagalan pembangunan yang dilakukan oleh suatu negara, termasuk oleh institusi lain, tergantung pada individu-individu yang terlibat dalam proses pembangunan tersebut.

Sebenarnya gagal atau berhasilnya pembangunan itu tergantung pada seluruh individu yang terlibat. Namun, dalam prakteknya individu puncaklah yang dituding bila pembangunan gagal, atau sebaliknya dielu-elukan, bila pembangunan dianggap berhasil. Hal itu sebenarnya pandangan yang tidak sepenuhnya benar, namun telah menjadi salah kaprah dalam prakteknya.

Karena itu, tidaklah salah kalau misalnya keberhasilan pembangunan infrastruktur, dikaitkan dengan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi), sebaliknya bila misalnya harga sayur atau sembako naik, juga Presiden Jokowi yang banyak disalahkan.

Teori yang berlawanan dengan Teori Penyalahan Struktur (Structural Blame Theory) yang berasal dari timur itu pulalah, yang tampaknya digunakan dalam mewacanakan pelibatan Rektor asing untuk memimpin Perguruan Tinggi Negeri (PTN), karena dianggap kurang berhasil dilihat dari pemeringkatan secara global.

Pertanyaannya, apakah sepenuhnya benar pandangan semacam itu ?, serta bagaimanakah sebenarnya pandangan lain yang lebih fungsional sekaligus bijak, sehingga tidak memicu kericuhan wacana yang terjadi terkait hal itu?

Proporsional

Karena mungkin Teori Pembangunan Pancasila yang memandang perlunya keseimbangan antara penonjolan individu dan masyarakat masih dalam perjuangan untuk bisa menyeimbangkan ke dua teori yang bersebrangan tersebut, maka sebenarnya penggunaan teori penyalahan individu pun tidak sepenuhnya salah, asal penggunaannya proporsional.

Pandangan jernih semacam itu jelas dan telah didukung fakta, bahwa saat pemerintah  melalui Ristekdikti mencanangkan kepada para dosen dalam mengejar ketertinggalan dalam bidang publikasi internasional misalnya, maka dalam waktu kurang lebih tiga tahun sejak 2016, jumlah publikasi internasional terindex scopus kita saat ini telah bisa melampaui Thailand yang sudah puluhan tahun mencanangkan hal itu, bahkan selisihnya saat ini tipis dibanding PT di Malaysia.

Itulah salah satu gambaran nyata bahwa ketika para Rektor berhasil memotivasi sekaligus berkolaborasi dengan para dosen serta tenaga kependidikan yang dipimpinnya, maka prestasi internasional bisa diraihnya. Demikian pula, prestasi lainnya misalnya dalam berbagai kontes robot, mobil hemat bahan bakar, mobil listrik, serta keilmuan lainnya banyak yang memperoleh prestasi gemilang dengan menyabet berbagai medali emas.

Karena itu, setuju dengan pandangan salah satu Guru Besar Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Yuwana bahwa mengejar ranking itu jangan dijadikan tujuan utama, namun perstasilah yang harus diraih, yang menurutnya secara otomatis akan meningkatkan peringkat Perguruan Tinggi (PT) Indonesia secara internasional.

Demikian pula meskipun perangkingan yang ada saat ini sering dianggap sebagian kalangan sebagai penjajahan akademik, namun era global sekarang ini tidaklah mungkin kita menghindarinya. Yang lebih penting adalah bagaimana meraih prestasi sebaik-baiknya di antaranya dengan menunjukkan outcome yang makin capable, sehingga dengan sendirinya pengakuan internasional akan semakin baik.

Kita lalu ingat pandangan dari Rektor IPB dalam salah satu tayangan di televisi  (Dua Sisi, Metro TV), bahwa melalui model pemeringkatan lainnya, IPB telah masuk 77 besar dunia di bidang tertentu.  Dan itu menunjukkan bahwa meski pemeringkatan PT kita masih dibawah 200, namun prestasi lainnya ternyata telah banyak dicapai.

Komprehensif

Karena itu, ketimbang mewacanakan import Rektor Asing yang makin hari makin menimbulkan kontroversi, akan lebih bijaksana dan sekaligus  lebih baik dengan makin mengefektifkan kolaborasi antar civitas akademika melalui Rektor, Ketua atau pun Direktur lokal yang berprestasi internasional, sekaligus memiliki visi, misi, serta kinerja yang teruji.

Pemerintah sebagai regulator mestinya mendorong terwujudnya kolaborasi tersebut berdasarkan perundangan serta berbagai peraturan yang berlaku. Kesan model-model aturan yang tampak sangat formal dan kaku, sebaiknya dirubah dengan aspek kemanfaatan PT bagi seluruh masyarakat, bangsa dan negara.

Pengakuan masyarakat umumnya serta para stakeholders, khususnya para users, haruslah menjadi perhatian utama, sehingga program link and match, tidak lagi hanya sebatas slogan , melainkan secara nyata akan teraplikasikan guna kepentingan bersama. Berbagai uji kompetensi hendaknya bukanlah hanya sebatas pada diperolehnya sertifikat-sertifikat kompetensi, karena hal itu justru kontraproduktif, bila tidak sesuai dengan kemajuan teknologi dengan berbagai dampak serta kreativitas yang terjadi.

Meminjam istilah Rhenald Khasali bahwa saat ini di Indonesia sedang terjadi pengalihan model ekonomi dan keuangan serta bisnis, maka PT makin dituntut untuk tidak tertinggal, utamanya outcome nya dalam menghadapi cepatnya dinamika yang terjadi.

Munculnya beberapa anak muda yang sebelumnya tidak dikenal menjadi Triliuner-triliuner muda, tentu harus menginspirasi para pimpinan PT, di bawah regulasi yang dilakukan oleh Ristekdikti. Berbagai penelitian serta pengabdian masyarakat, haruslah makin membumi, sehingga pada akhirnya akan bermanfaat bagi masyarakat, bangsa dan NKRI.

Bila itu terjadi, mudah-mudahan tidak terdengar lagi riuhnya import Rektor bahkan Dosen asing, karena kita telah mampu menjadi tuan rumah di negeri kita yang tercinta ini.

* Artikel ini telah dibaca 43 kali.
Gunawan Witjaksana
Dosen dan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang. Pengamat komunikasi dan media.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *