Home > EDITOR'S CHOICE > Menggagas Universitas Riset Indonesia

Menggagas Universitas Riset Indonesia

Indonesia dalam kurun waktu satu dua dekade ke depan bakal tetap menghadapi berbagai permasalahan, terutama pendudukan, pemukiman, pengadaan pangan, bahan baku, industri, dan pencemaran lingkungan hidup. Pertumbuhan penduduk akan bergerak naik seiring dengan peningkatan kemakmuran hingga sangat dibutuhkan pengadaan pemukiman.

Pada saat yang sama juga dibutuhkan bahan pangan yang semakin membesar. Untuk peningkatan produksi bahan pangan dan mencukupi lapangan kerja, maka sektor industri harus bergerak semakin maju. Sektor ini pasti akan membutuhkan bahan baku memadai agar produktivitas terjaga. Dampak dari pergerakan jumlah manusia yang semakin banyak, berbarengan industri yang akan terus tumbuh hingga n melahirkan problem-problem lingkungan hidup.

Di sisi yang lain, daya dukung lingkungan untuk bisa mengimbangi kebutuhan manusia semakin terbatas. Luas lahan tidaklah mungkin bisa bertambah, karena negara modern relatif tidak bisa lagi memperluas tanah jajahan seperti halnya terjadi pada abad-abad yang lalu.  Setiap negara, termasuk Indonesia, akan dihadapkan pada pilihan-pilihan yang rumit yang tidak bisa diselesaikan dalam satu dua tahun ke depan. Persoalan akan selalu berkutat pada pengendalian jumlah penduduk yang diimbangi peningkatan produktivitas.

Banyak negara mengalami perkembangan pesat, tetapi juga ada yang berkembang secara stabil rendah. Beberapa negara Afrika, Ethiopia misalnya, yang dulu dikenal sebagai negara miskin, kini telah tumbuh menjadi negara yang cukup kuat dan beberapa sektor mengalami kemajuan pesat. Sementara Indonesia juga demikian, pada 1960-an hampir sebagian besar penduduk menderita kekurangan pangan, dan kini relatif menimpa jauh lebih sedikit penduduk.

Namun demikian, kita tidak boleh lengah karena perkembangan teknologi digital saat ini, di samping menciptakan lapangan kerja baru, juga menggerus bidang-bidang pekerjaan lama yang umumnya masih konvesional.  Beberapa jenis pekerjaan lama lamnbat laun telah hilang, dan digantikan dengan jenis pekerjaan baru. Maka, kita bisa memprediksi bahwa tekanan terhadap masa depan juga meningkat. Selain penuh tantangan, masa depan juga menjanjikan peluang-peluang yang sangat besar.

Peningkatan Kapasitas

Tantangan problem-problem masa depan seperti diuraikan pada bagian awal tulisan ini perlu dipersiapkan perencanaan, dan pengendalian dengan matang sejak dini. Jika masa depan dianggap sebagai perang, maka sejak awal perlu dihitung berbagai kemungkinan yang terjadi dalam perang tersebut. Perlu dibuat skenario perang dengan skema paling buruk, sedang, dan skenario penuh  baik.

Skenario buruk, misalnya adalah suatu keadaan masa depan yang buruk akibat terjadinya perang dagang, perang antarnegara, perang antarnegara besar untuk berebut pengaruh, dan perang-perang yang lain. Bahkan perang yang hampir pasti terjadi adalah perebutan sumberdaya strategis seperti bahan-bahan industri, pangan dan air atau sumber daya alam (SDA). Kita bisa menyaksikan Irak dan Libya hari ini yang secara mengenaskan terpuruk akibat perebutan sumber daya itu.

Bahkan kita juga menyaksikan perebutan sumberdaya air, dan tarik menarik antara beberapa kota/kabupaten di berbagai daerah, meski selama ini bisa dimusyawarahkan dengan baik. Tetapi, siapa yang bisa menerka apa yang terjadi di kemudian hari meski masalah air dijamin undang-undang. Kota-kota besar akan dihadapkan pada krisis penyediaan air bersih, karena pasokan yang terus berkurang. Udara juga semakin pekat polusi, yang bukan hanya “dinikmati”  kaum kota, tetapi juga merembes ke daerah sekitarnya.

Keadaan yang belum pasti pasti di masa depan, maka ada kebutuhan yang mendesak untuk dipikirkan sejak dini. Menipisnya cadangan minyak, diberikan solusi hadirnya kendaraan bahan energi listrik maupun enegri terbarukan. Meningkatkan kesadaran lingkungan menjadikan orang lebih suka menghindari penggunaan bahan baku plastik. Semua pergeseran (shifting) telah mengubah gaya hidup manusia Indonesia. Terlebih lagi dengan kemajuan teknologi komunikasi mutakhir di era digital saat ini.

Berbagai gejala masa depan itu, maka Indonesia sangat membutuhkan peningkatan beberapa perangkat dasar di antaranuya peningkatan kemampuan kapasitas pada pengetahuan dan ketrampilan di bidang kemampuan analitis (analytical capability), kemampuan informational (informational capability), dan kemampuan adaptasi (adaptability) dan kemampuan memperkirakan masa depan (Ability to predict the future).

Yang dimaksud dengan kemampuan analisis adalah kemampuan masyarakat, termasuk pemerintah di dalam melakukan kajian-kajian strategis masa depan pada seluruh bidang kehidudupan, terutama beberapa sektor strategis seperti yang dipaparkan di awal tulisan ini. Kemampuan ini penting sebagai dasar dalam pengambilan keputusan, dan menetapkan arah pembangunan masa depan.

Kemampuan informasional lebih menekankan pada kemampuan untuk meningkatkan keterbukaan, kepekaan dan kemampuan mencerna informasi baru. Dunia yang berkembang semakin tanpa sekat membutuhkan keberanian untuk membuka diri lebih lebar, tetapi pada saat yang sama harus ditingkatkan kemampuan kepekaan dan mencerna informasi baru itu. Kita bisa belajar bagaimana Komodor Matthew Calbraith Perry yang terkenal dengan  Kapal Hitam ketika membuka isolasi Jepang dengan melabuhkan armadanya di Pelabuhan Uraga pada 14 Juli 1853.

Yang tak kalah penting adalah kemampuan adaptasi. Kecepatan perubahan, pergeseran dan distruption hampir mustahil untuk dihentikan. Perubahan adalah sesuatu yang abadi, dan karena itu yang dibutuhkan untuk kemampuan menghadang perubahan, tetapi melakukan adaptasi terhadap perubahan. Kemampuan adaptasi bisa dilakukan dengan baik, manakala telah memiliki dan menguasai kemampuan analisis dan kemampuan informasional .

Mereka yang tidak memiliki kemampuan adaptasi terhadap perubahan yang sedemikian cepat, bisa jadi  tinggal menunggu kepunahan, seperti halnya dinosaurus tak mampu beradaptasi pada zaman yang berubah pada berabad-abad silam. Situasi yang berubah, selalu menuntut kemampuan adaptasi diri.

Ada satu perangkat lagi adalah kemampuan memperkirakan masa depan (Ability to predict the future).  Kemampuan ini membutuhkan ketrampilan membaca tanda zaman yang didasarkan atas penguasaan pengetahuan dan teknologi lintas bidang. Kenapa?. Karena zaman bergerak dengan kekayaannya sendiri. Mungkin saja, kemajuan zaman akan didikte oleh kemajuan teknologi, tetapi aspek-aspek yang yang bergeser harus mampu diperkirakan sebelumnya.

Universitas Riset

Dalam kerangka melakukan percepatan di bidang penguasaan dan penguatan pada empat kemampuan tersebut (analisis, informasional, adaptasi, dan kemampuan memperkirakan masa depan), maka  perlu sekali dibentuk sebuah lembaga yang entah apa pun namanya, tetapi berkonsentrasi memberikan panduan kepada seluruh warga bangsa ini ke mana negara ini harus bergerak. Pada konteks inilah, perlu menggagas tentang pentingnya apa yang kami sebut sebagai Universitas Riset Indonesia (URI).

Apa itu URI ? Adalah sebuah lembaga penelitian yang beranggotakan ilmuwan-ilmuwan peneliti dari berbagai bidang pengetahuan yang dianggap dan akan dianggap berpengaruh terhadap masa depan bangsa. Mereka akan berkonsentrasi hanya pada penelitian- unggulan yang diagendakan serta diperkirakan akan membantu Indonesia selalu survive di masa depan.

Ilmuwan-ilmuwan peneliti itu bisa saja direkrut dari berbagai universitas, ilmuwan tak terikat, ilmuwan dari kaum diaspora, atau bisa juga peneliti-peneliti muda yang menaruh minat pada kajian bidang tertentu. Tugas utama dari URI adalah melakukan penelitian multi bidang yang diagendakan dan bukan merupakan selera pribadi, selera universitas asal, atau selera-selera pesanan. Misalnya, penelitian di bidang teknologi, biologi, pangan, bahan baku, bahan olahan, dan pola-pola perubahannya. Dari penelitian di berbagai bidang itulah, URI bisa memperkirakan apa yang akan terjadi dalam 10-20 tahun  ke depan.

Siapa yang membiayai ? Sumber pembiayaan tentu dari negara via APBN, atau pembiayaan gabungan dari universitas-universitas, atau dari para donator yang secara sukarela meminati masalah-masalah survival bangsa dan masa depan. Terbuka kemungkinan kerja sama lintas universitas, misalnya menggabungkan peneliti dari  7-10 universitas terkemuka, dan setiap universitas wajib menyisihkan dana penelitian untuk URI. Tentu saja, lembaga ini akan bertanggungjawab kepada Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi.

Universitas Riset ini juga akan memandu dan membimbing para peneliti muda yang sekarang bertebaran di seluruh sekolah di Indonesia. Mereka yang memenangkan olimpiade sains dan teknologi perlu diberi ruang lebih luas untuk berkembang, dan menjadi peneliti hebat pada akhirnya.

Setiap tahun URI akan merilis temuan-temuan, dan mematenkan hasil penelitian, dan dipertanggungjawabkan kepada negara dan masyarakat Indonesia. URI, dengan demikian, akan menjadi universitas pemandu masa depan Indonesia.

Oleh: Fajar Astuti Hermawati Staf Pengajar Universitas 17 Agustus Surabaya
* Artikel ini telah dibaca 33 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *