Home > HEADLINE > Ribuan Warga Doa Bersama Peringati 40 Hari Wafatnya Mbah Maemoen

Ribuan Warga Doa Bersama Peringati 40 Hari Wafatnya Mbah Maemoen

DEMAK[Kampusnesia] – Ribuan warga dari berbagai penjuru memadati halaman Masjid Ageng Pondok Pesantren Al-Girikusumo, Desa Banyumeneng, Mranggen Demak, Kamis (12/9) malam. Mereka yang berasal dari berbagai daerah itu datang untuk ikut berdoa bersama dalam rangka 40 hari almarhum KH Maimoen Zubair.

Selain ribuan warga, santri dan kiai, hadir juga Wakil Gubernur Jawa Tengah H Taj Yasin Maimoen yang sekaligus putera ulama kharismatik almarhum KH Maimoen Zubair.

Doa bersama itu, dipimpin KH Munif Zuhri dengan lantunan tahlil dan ayat suci menggema hingga tengah malam. Dengan duduk bersila di pelataran masjid, mereka khusuk melafalkan doa dan tahlil bersama.

Pengasuh Ponpes Girikusumo KH Munif Zuhri dalam tauziahnya mengisahkan beberapa pengalaman saat bersama Mbah Moen semasa pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang Rembang itu masih hidup.

Menurutnya, KH Maimoen Zubair yang merupakan tokoh penting Nahdlatul Ulama (NU) adalah sosok ulama sekaligus negarawan yang menjadi panutan umat dalam segala hal.

Mbah Moen yang wafat pada Selasa, 6 Agustus 2019 dalam usia 91 tahun merupakan tokoh ulama yang selalu memotivasi dan membangkitkan semangat umat Islam dan seluruh rakyat Indonesia agar mencintai dan menjaga keutuhan NKRI.

“Mbah Moen adalah kiai yang berpengaruh dan berkontribusi besar secara nyata terhadap Indonesia. Kita teladani sikap dan perilaku Mbah Moen. Beliau yang sentiasa rendah hati dan berbaik hati dengan siapapun. Mbah Moen mengajarkan kepada kita semua pentingnya saling mengasihi dan menghormati orang lain,” ujarnya.

Sementara itu, Fitri salah seorang warga Karanganyar, Demak menuturkan sengaja datang ke Girikusumo untuk mengikuti pengajian dan doa bersama dalam rangka 40 hari KH Maimoen Zubair. Ibu satu anak ini datang rombongan bersama keluarga guna mendapat keberkahan dari doa bersama untuk ulama kharismatik asal Rembang.

“Mbah Moen itu kiai yang sangat saya kagumi. Banyak hal yang bisa diteladani dari beliau, mengenai sifatnya yang rendah hati, semangat beliau mengobarkan jiwa cinta Tanah Air, dan sangat menghargai perbedaan. Jasad Mbah Moen memang sudah dikubur, namun kebaikan dan keteladanan beliau akan senantiasa hidup dan selalu dikenang umat,” tuturnya. (rs)

* Artikel ini telah dibaca 24 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *