Home > EDITOR'S CHOICE > Mencermati Hura-Hara Jelang 20 Oktober

Mencermati Hura-Hara Jelang 20 Oktober

Semakin dekat dengan pelantikan Presiden- Wakil Presiden RI terpilih, riuh rendah terjadinya aksi demo dan sejenisnya semakin marak. Bahkan sebelumnya hingga saat ini model demo berbau rasialispun masih sering muncul ke permukaan.

Yang tampak lucu dan tidak masuk akal, akhir-   akhir ini, demo agendanya makin terdeversivikasi dengan agenda yang kadang tidak nyambung. Misal saja UU KPK yang mengesahkan DPR yang disalahkan Presiden.

Demikian pula misalnya, dengan RKUHP, Presiden telah memerintahkan menunda dan DPR yang ngotot mengesahkan, dan lagi-lagi justru Presiden yang disalahkan. Kasus kebakaran hutan, dan yang lainnya begitu juga, bahkan kenaikan iuran BPJS, tampaknya akan dimanfaatkan untuk demo, yang ujung- ujungnya meminta Presiden turun serta batal dilantik.

Celakanya di  balik demo berjilid yang mulai melibatkan mahasiswa, secara kasat mata ada agenda terselubung. Ini sangat jelas, karena kemajuan tenologi informasi utamanya media sosial, agenda tersebut sempat bocor dan tersebar luas, bahkan agenda pembagian jaket alamamater tanpa logo, serta peserta demo yang kurang meyakinkan penampilannya bahkan bingung demo apa ketika diwawancara kalangan pers. Tidak malu-malu bahkan banyak yang terang- terangkan karena dibayar.

Kejadian tersebut ditambah dengan kurang bisa dikendalikannya media sosial, muncullah berbadai informasi serta opini sesat yang selain membingungkan masyarakat, bisa pula berakibat fatal. Contoh aktual yang terjadi pada demo anarkhis di Wamena, yang hanya dipicu berita hoax.

Tentu semua pihak tidak ingin NKRI yang dibangun para founding fathers dengan berdarah-darah dan saat ini sebagian besar masyarakat telah merasa mulai menikmatinya, luluh lantak seperti Negara Suriah misalnya.

Pertanyaannya, bagaimana meyakinkan masyarakat, sehingga tidak mudah terprovokasi oleh info sesat dari mereka yang memiliki agenda terselubung yang arah ujung-ujungnya ingin mengulang peristiwa 98.

Demokrasi Dan Dialog

Kita semua telah sepakat bahwa Pemilu serentak yang demokratis telah dilakukan. Rakyatpun telah menentukan pilihan dan hasilnya setelah melalui prosedur sesuai UU, termasuk gugatan sengketa hasil pemilu, telah ditetapkan dan tinggal menunggu pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih.

Karena itu, sangatlah naif bila pilihan rakyat akan diingkari dengan seolah kehendak rakyat, padahal sebenarnya hanya rekayasa belaka.

Demonstrasi sesuai dengan Undang Undang adalah sah dan dibolehkan. Namun, demonstrasi yang memaksakan kehendak terlebih anarkhis, tentu bertentangan dengan demokrasi itu sendiri.

Demonstrasi sebagai bagian sistem demokrasi dari sisi komunikasi sebenarnya adalah dialog. Sedang dialog itu tujuannya mencapai titik temu dan saling pengertian yang harus dilandasi sikap untuk mau saling mengalah.

Penyalahan Individu

Tampaknya Teori Penyalahan Individu (Individual Blame Theory ) kenthal dianut oleh para pemrotes. Namun, sayang pemaknaannya sepotong-sepotong. Dari teori tersebut sebenarnya keberhasilan atau kegagalan pembangunan disebabkan oleh seluruh individu yang berpartisipasi dalam proses pembangunan tersebut.

Celakanya bila dalam pandangan penilai gagal, maka yang disalahkan pemimpin puncaknya. Sebaliknya bila berhasi bahkan sebagian besar rakyat merasakannya, sering pula keberhasilan pemimpin pusat tersebut kurang terapresiasi.

Karena itu, sudah saatnya para cendekiawan termasuk mahasiswa berfikir komprehensif. Toh kecanggihan teknologi informasi memungkinkan semuanya mencari informasi serta opini selengkap- lengkapnya, sehingga akhirnya bisa dengan tepat memilih serta memilah mana hal yang bisa dipercaya serta mana hal yang menyesatkan. Selanjutnya dengan melek media serta melek komunikasi kita tidak akan mudah tersesatkan, hingga kegiatan yang kurang jelas manfaatnya akan bisa kita hindari.

* Artikel ini telah dibaca 199 kali.
Gunawan Witjaksana
Dosen dan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang. Pengamat komunikasi dan media.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *