Home > HEADLINE > Ganjar Doakan Untuk Para Perajin Batik Agar Semakin Maju

Ganjar Doakan Untuk Para Perajin Batik Agar Semakin Maju

SURAKARTA[Kampusnesia]  – Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mendoakan para perajin batik agar mereka dapat semakin berkembang, saat  Peringatan Hari Batik Nasional yang digelar di Pura Mangkunegaran, Surakarta, Rabu (2/10).

“Allahumma ubat-ubet, biso nyandang biso ngliwet. Allahumma ubat-ubet, mugo-mugo pinaringan slamet. Allahumma kitra-kitri, sugih bebek sugih meri. Allahumma kitra-kitri, sugih sapi sugih pari,” ujarnya.

Doa agar tekun bekerja dan diberi kelapangan rizki, ijazah dari Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Watucongol Magelang KH Dalhar itu dilantunkan dan diamini oleh Presiden RI Joko Widodo, Ibu Negara Iriana Joko Widodo (Jokowi), istri Wakil Presiden Mufidah Jusuf Kalla, anggota Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja (OASE) Kabinet Kerja maupun tamu undangan yang hadir.

Menurut Ganjar, upaya melestarikan dan mengenalkan batik sudah dilakukan oleh para orang tua sejak jaman dahulu. Mulai dari sejak bayi dalam kandungan usia tujuh bulan, dikenalkan batik wahyu tumurun dalam prosesi mitoni. Dengan harapan, si jabang bayi kelak selalu mendapat perlindungan Tuhan Yang Maha Esa.

Kemudian, dalam prosesi itu dilanjutkan dengan mengenakan batik motif garuda yang merupakan kombinasi dengan batik lain seperti parang atau kawung. Dengan harapan bahwa nantinya sang anak mampu meraih cita-cita yang tinggi dengan tetap bersifat rendah hati kepada sesama [kawung] dan juga bersifat ksatria yang berbudi luhur dan memiliki kebijaksanaan yang tinggi.

Motif batik yang ketiga untuk dikenakan, adalah motif sido mukti, yang memiliki harapan bahwa nantinya yang jabang bayi akan memiliki hidup yang makmur dan dilebihkan selalu rezekinya oleh Yang Maha Kuasa. Selain itu, motif ini juga melambangkan bahwa anaknya akan selalu mampu menjadi kebanggan orang tua.

“Ada pula batik corak semen rante yang berarti cinta dan bangsa yang bersatu. Perjalanan batik di tengah gempuran teknologi, ada yang nyungsep, ada yang terus berkembang. Ini tugas kita untuk terus melestarikan karena sudah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada 2 Oktober 2009,” tuturnya.

Presiden Jokowi pun menuturkan corak batik saat ini sudah beragam dan dipakai dimana saja dan oleh siapa saja. Komitmen generasi muda untuk melestarikan batik melalui muatan lokal seminggu tiga kali di sekolah pun diapresiasi.

Tujuh penari yang mengenalkan jenis batik sidoluhur, sidomukti, parangklitik, sidomulyo, parangbarong, tambal pamiluto dan padangkusumo dalam tarian selamat datang kepada rombongan Presiden, bahkan Jokowi memberikan hadiah sepeda.

“Tugas kita bersama untuk mengajak seluruh masyarakat dunia mengenakan batik. Agar batik ini tetap mendapat pengakuan dari UNESCO,” ujar Jokowi.

Dalam acara itu, juga digelar membatik bersama yang dilakukan oleh 500 orang yang terdiri dari perajin batik, para pelajar maupun pelajar asal Belgia yang turut serta dalam program pertukaran pelajar dunia, atau Rotary Youth Exchange.

“Ini pengalaman baru bagi saya. Saya mau membatik selendang, dan ini masih tahap belajar. Batik bagi saya adalah karya seni seperti lukisan beragam corak yang aku kira sulit, karena ada banyak tahapan untuk mendapatkan hasil akhir yang luar biasa cantiknya. Kalau buatan saya, hasilnya entah nanti,” tutur Julie, pelajar asal Belgia saat ditemui di sela-sela jemarinya memainkan canting. (rs)

* Artikel ini telah dibaca 7 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *