Home > HEADLINE > Jateng Bentuk Tim Rumuskan Rekomendasi Konggres Sampah

Jateng Bentuk Tim Rumuskan Rekomendasi Konggres Sampah

SEMARANG[Kampusnesia]  – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo telah menyiapkan  Tim kecil untuk merumuskan dari rekomendasi Konggres Sampah, hingga mengakomodir bakal membentuk Satgas Sampah di seluruh desa di wilayahnya.

Ganjar menargetkan tahun depan rumusan tersebut langsung bisa diwujudkan setidaknya salah di antaranya dengan pembentukan Satgas Sampah di seluruh desa di wilayah Jateng.

Konggres Sampah yang digelar Sabtu – Minggu lalu (12-13/10) mengeluarkan empat rekomendasi akhir, terdiri pembentukan Satgas Sampah di seluruh desa di Jateng, mencanangkan gerakan pemilahan sampah 3 Ng yaitu ngelongi, nganggo dan Ngolah (mengurangi, memanfaatkan dan mengolah), memberi insentif pada inovasi pengolahan serta pembentukan Dewan Konsorsium Sampah Jateng.

“Saya lagi nyusun APBD, untuk kita rancang agar soal penanganan sampah bisa masuk. Terlebih kepala dinas LHK ditunjuk sebagai Ketua Dewan Konsorsium Sampah yang juga melibatkan pengusaha, tokoh masyarakat, seniman dan lainnya. Jadi secara kelembagaan ada. Ini yang akan kita jadikan acuan untuk mengeluarkan kebijakan. Jadi Konggres Sampah ini bukan sekedar kumpul-kumpul atau pertukaran wacana,” ujar Ganjar, Senin (14/10).

Acuan kebijakan itu, lanjutnya, berupa rumusan yang saat ini tengah digarap oleh tim kecil yang terdiri dari kalangan pemerintahan, akademisi, aktivis serta inovator persampahan. Rumusan itu meliputi mana rekomendasi yang harus dibuat regulasi, mana yang perlu dukungan politik anggaran, mana yang jadi dorongan atau perintah terkait penanganan persampahan.

“Tim ini sudah bekerja, kita siapkan percepatan di tahun depan. Urusannya gampang. Ritmenya mengikuti politik anggaran. Sampai pertengahan November APBD akan diketok. Maka saat ini segera kita masukkan mana-mana negara yang mesti terlibat. Termasuk rangsangan dengan lomba. Lomba Satgas, bank sampah dan lainnya,” tuturnya.

Menurutnya, untuk pembentukan Satgas Sampah, yang sangat mungkin terlebih sudah ada embrionya di desa Kesongo, tempat diselenggarakannya Konggres Sampah. Namun, gerakan tersebut memang memerlukan waktu, tidak bisa sak dek sak nyet (tiba-tiba menyelesaikan).

“Konggres Sampah ini adalah titik bertemunya para inovator, kreator dan pelaku yang masing-masing punya pengalaman baik untuk mengelola sampah. Ketika orang mudah marah soal sampah sebenarnya mereka berimajinasi seolah-olah mengatakan ayo kita bereskan dan kerjakan. Tapi bagaimana mengerjakannya? Praktik baik di level desa itu berbeda apalagi di perkampungan kota,” ujarnya.

Perbedaan cara itulah yang akan diterapkan untuk mengatasi sampah di Jateng. Bahkan mengutip filosofi Jawa, deso mowo coro negoro toto yang bermakna setiap wilayah punya kearifan lokal masing-masing, maka negara yang harus memadukan.

Hanya, lanjut Ganjar, ketika hal tersebut tidak terlalu efektif bisa dilanjutkan dengan membuat aturan. Urutannya dari imbauan ke masyarakat kemudian dilahirkan regulasi.

“Banyak orang yang tidak sabar sehingga orang menyampaikan bahwa ini harus cepat. Beberapa waktu lalu dapat cuitan dari Bu Susi, Bu Susi termasuk kategori orang tidak sabar. Karena apapun yang diomongkan dan gerakkan tidak terlembagakan dengan baik, padahal ini mengubah perilaku. Karena deso mowo coro dan negoro mowo toto. Ada cara di setiap desa, itu filosofi yang mungkin banyak orang yang tidak menyadari itu. Ada lokalitas. Saya tidak suka menyeragamkan, tapi bagaimana di desa itu punya cara masing-masing,” tuturnya.

Dengan adanya kelembagaan yang mengawasi sampah seperti Dewan Konsorsium Sampah yang telah dicanangkan di Konggres tersebut, diharapkan dapat memperoleh data riil soal persampahan dari dalam rumah hingga pengolahan.

Kalau itu sudah berjalan, menurut Ganjar, akan lebih memudahkan pengelolaannya di TPA, misalnya di Cilacap, Semarang dan Solo. Tiga Kota itu bisa dijadikan replikasi pengelolaan TPA di daerah lain.

“Kita ukur satu tahun ke depan ada perubahan di setiap area atau tidak? Nah perguruan tinggi akan kita libatkan untuk ini. Saya kepinginnya kalau dari konggres sampah ini kemudian dibuat banyak kebijakan dan bisa berjalan dengan baik, konggres sekali itu cukup. Tapi rasa-rasanya akan ada lagi di tahun depan untuk mengukur capaian Konggres Sampah perdana ini dalam satu tahun. Jika setelah itu sudah ada yang bisa diukur secara kuantitatif maka konggres ini cukup dua kali, selanjutnya aksi terus,” ujarnya.

Dia menuturkan untuk membuat aksi tersebut akan mengajak masyarakat agar turut aktif dalam gerakan pemilahan sampah sejak dalam rumah. Agar lebih memudahkan gerakan itu juga mengimbau terbentuknya komunitas peduli lingkungan sebanyak-banyaknya.

“Ayo buat komunitas di setiap daerahmu untuk mulai pemilahan sampah. Kemudian kita olah, atau berikan ke pengelola yang punya cara pengolahan yang benar,” tutur Ganjar. (rs)

* Artikel ini telah dibaca 9 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *