Home > EDITOR'S CHOICE > Komunikasi Pemilihan Anggota Kabinet

Komunikasi Pemilihan Anggota Kabinet

The Game Theory in Communication tampak benar- benar berperan dalam proses pemilihan anggota Kabinet Indonesia Maju Presiden Jowo Widodo (Jokowi) dan Wapres Ma’ruf Amin yang bakal berkeja keras untuk lima tahun ke depan.

Jokowi yang didampingi Ma’ Ruf Amin dengan hak Prerogatifnya, dan para calon yang didukung Partai Politik (Parpol), serta merta akan saling melakukan kalkulasi politik, idealnya demi kepentingan bangsa ke depan dan di sisi lain bisa juga terkait dengan pemilu 2024.

Selanjutnya setelah secara final tuntas hingga pelantikannya pada  23 Oktober 2019 yang dilansir  berbagai media, gantian masyarakat, utamanya para elitnya memberikan  berbagai tanggapan baik positif serta negatif.

Yang jelas, tujuh perintah Presiden saat pelantikan, serta penegasannya bahwa sewaktu- waktu  bisa diganti bila kinerjanya tidak maksimal, menandakan selesainya game Theory oleh Presiden dan Wapres. Sebaliknya mulainya para Menteri terpilih khususnya yang didukung parpol,  membuktikan kemampuannya, sekaligus perhitungan mereka melalui the game Theory  yang mereka mainkan.

Pertanyaannya, bagaimana masyarakat awam memahaminya?, serta  benarkah the game Theory in Communication  yang mereka mainkan tersebut hasilnya sesuai dengan yang mereka prediksikan?.

Kalkulasi

Prinsip utama the game Theory in Communication adalah kalkulasi untung rugi tatkala  masing- masing pihak melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Sejalan dengan teori komunikasi lain pada umumnya bahwa efektivitas komunikasi itu mempertimbangkan perbandingan antara ganjaran dengan upaya yang dilakukan, maka dalam pemilihan Menteri, baik yang memilih serta yang dipilih saling memperhitungkannya.

Terpilihnya para anggota Kabinet Indonesia Maju sesuai dengan namanya tujuannya tentu membuat Indonesia, khususnya lima tahun ke depan menjadi semakin maju, yang salah satu ukurannya adalah apa yang dirasakan masyarakat pada masa itu.

Bila lima tahun sebelumnya berdasarkan survei ataupun terpilihnya kembali telah menunjukkan bahwa kinerja berkata lebih nyaring dari wacana, maka setidaknya rakyat menunggu janji Presiden yang diucapkan saat pelantikan dan diperkuat dengan tujuh perintah kepada para Menterinya.

Singkatnya, the game Theory tahap awal telah usai. Namun konsekuensinya dalam jangka pendek membuktikannya kepada yang memilih bila tidak ingin diganti, dan jangka panjangnya rakyatlah yang akan menilainya melalui apa yang mereka rasakan.

Era jejak digital

Boleh saja sebagian menilai kurang puas atau ada juga yang menilai kurang pasnya penempatan beberapa Menteri. Namun, tentu Presiden dan Wapres memiliki penilaian yang lebih jelas ukurannya. Upaya peningkatan kualitas SDM misalnya, dengan menunjuk tokoh muda di bidang pendidikan, tentu bercermin dari data kongkrit yang tersedia.

Penilaian beberapa kalangan terkait dana penelitian yang seolah hanya menghasilkan tumpukan paper yang tidak aplikatif, dinilai harus secara cepat bisa dirubah menjadi outcome yang aplikatif sekaligus solutif untuk mengatasi berbagai persoalan bangsa. Meski sebenarnya hasil- hasil penelitian yang selanjutnya terpublikasi melalui jurnal ilmiah internasional berindex, sehingga membawa Perguruan Tinggi (PT) kita tertinggi se-Asean dilihat dari jumlah jurnal yang terpublikasi melalui jurnal internasional yang terindex.

Ke depan, meski prestasi tersebut harus terus dijaga, namun alangkah indahnya bila hasil tersebut bisa diaplikasikan, sehingga hasilnya dirasakan masyarakat, bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Akhirnya kita semua tentu berharap, para Menteri akan bekerja semaksimal mungkin dalam melaksanakan visi serta misi Presiden dan Wapres dengan melupakan kepentingan individu serta kelompoknya masing- masing, karena toh akhirnya bila kinerjanya baik dan dinilai positif oleh rakyat Indonesia, maka imbasnya akan positif pula pada Communication game yang mereka mainkan di awal sebelum mereka terpilih serta dilantik.

* Artikel ini telah dibaca 59 kali.
Gunawan Witjaksana
Dosen dan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang. Pengamat komunikasi dan media.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *