Home > HEADLINE > Peta Teater Jateng Mulai Menyebar Ke Berbagai Daerah

Peta Teater Jateng Mulai Menyebar Ke Berbagai Daerah

SEMARANG[Kampusnesia] – Penyikapan realitas dengan indah atau estetis sudah tidak lagi didominasi masyarakat perkotaan atau wilayah yang kental nuansa kesenian.

Panggung teater telah merebak ke pelosok-pelosok daerah di Jawa Tengah melalui pemikiran pemudanya yang berani mengolah dan menampilkannya.

Ungkapan tersebut disampaikan oleh Luhur Kayungga, dewan juri Festival Teater Jateng 2019 di malam penganugerahan ajang tersebut, Sabtu (26/10) malam.

Keberanian itulah, tutur Luhur, yang disebut sebagai kekayaan pembelajaran kehidupan serta ide kebangsaan dan kenegaraan yang diaktualisasikan di atas panggung pertunjukan.

“Pertarungan gagasan ini penting, bukan hanya bagaimana pemeranan sebuah lakon, tapi juga pembelajaran tentang kehidupan dan ide tentang bangsa dan negara,” ujarnya.

Jika ditilik dari jumlah pesertanya, setidaknya ada 25 gagasan yang menyodorkan bagaimana konflik-konflik kehidupan terjadi sekaligus dihadapi. Bahkan kesadaran itu, tidak lagi milik masyarakat kota dengan basis kesenian yang mapan. Ada 22 delegasi kabupaten/kota se-Jawa Tengah yang beradu kepekaan sekaligus intuisi menyikapi persoalan.

“Tiga hari ini kita melihat pertumbuhan teater sudah tidak lagi memusat di Semarang dan Solo misalnya, atau kota-kota yang selama ini dikenal teaternya tapi persebarannya merata di seluruh Jawa Tengah,” tuturnya.

Pembacaannya terhadap perkembangan kesenian di Jawa Tengah, teater khususnya bukannya tanpa bukti. Bahkan dalam festival itu, yang keluar sebagai pemenang bukanlah perwakilan teater dari Solo maupun Semarang. Tiga penampil terbaik diraih oleh Teater Pacelathon asal Sragen dengan judul Dolanan, Teater Aura Brebes dengan lakon Sintren dan Teater Sirat dari Sukoharjo yang memainkan lakon Tandur.

“Kami bangga juga di Jateng ada banyak genre yang realis, tapi ada yang non realis atau alternatif lain. Festival ini adalah pemetaan yang sangat penting karena peserta dari 22 kabupaten/kota yang mewakili 6 eks karesidenan,” ujarnya.

Festival yang mengangkat tema Etan Kulon Golek Lakon itu berlangsung sejak Kamis (24/10) hingga Sabtu (26/10). Penampilan 25 kelompok tersebut dinilai oleh tiga dewan juri, Hanindawan, Luhur Kayungga Yopi Hendrawan.

Selama tiga hari, festival yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jateng bersama Yayasan Anantaka itu, telah menarik animo besar pelaku dan penikmat teater. Bukan hanya seniman, festival teater tersebut berhasil memikat Wakil Ketua DPRD Jateng Sukirman dan anggotanya St Sukirno bahkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowopun juga ikut menonton.

“Semoga gagasan tidak hanya berhenti di atas panggung. Minimal panggung adalah potret realitas dan jadikan sesuatu sebagai cermin yang kembali pada diri kita dan masyarakat. Saya ingat pak gubernur berpesan agar teater menjadi ruang kritik untuk mengkritisi situasi bangsa dan lingkungan kita,” tutur Yopi Hendrawan.

Selain tiga penyaji terbaik, penghargaan juga diberikan kepada Aktor dan aktris pembantu terbaik. Untuk aktor terbaik diraih Teater Pacelathon Sragen, sementara aktris diraih Teater Matajiwa Semarang.

Sedangkan untuk aktor dan aktris utama terbaik diraih Teater Aura Brebes dan Teater Kuputatung Grobogan. Penata Musik Terbaik diraih Teater Pacelathon Sragen. Penata artistik terbaik milik Teater Pacelathon Sragen dan Sutradara terbaik oleh Teater Sirat Sukoharjo.

“Saya melihat keberagaman luar biasa di Jawa Tengah dan itu disajikan dalam Pementasan selama tiga hari ini. Hari ini Jateng sudah melacak proses teater yang ada dan membuat saya iri pada teman-teman yang percaya diri menampilkam gagasannya di sini,” ujar Yopi. (rs)

* Artikel ini telah dibaca 6 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *