Home > EDITOR'S CHOICE > Second Account Sebagai Dramaturgi Di Media Sosial Instagram

Second Account Sebagai Dramaturgi Di Media Sosial Instagram

Media sosial (Medsos) kini semakin pupuler hingga di antero dunia, bak bagaikan sebuah panggung yang memiliki berbagai kisah. Bahkan para pengguna memerankan tokoh-tokoh yang saling berinteraksi satu sama lain di dunia maya itu. Di dalam proses interaksi sosial yang dilakukan oleh pengguna yang dikenal dengan sebutan netizen, hanya dapat melihat apa yang ditampilkan oleh sang pemilik sebuah akun media sosial.

Salah satu media sosial yang kian melejit seolah-olah menjadi panggung penuh drama ini adalah Instagram. Semakin hari eksistensi Instagram kian akrab di kalangan masyarakat, tidak hanya orang tua maupun dewasa. Bahkan anak muda dan anak-anak pun semakin menggemari dunia maya ini.

Selain cara membuat akunnya yang sangat mudah, fitur-fitur yang disajikan pun mampu membuat netizen ‘betah’ berlama-lama menggunakan media sosial yang satu ini.

Jika diamati dengan cermat, belakangan ini muncul banyak sekali orang-orang yang memiliki lebih dari satu akun Instagram. Warganet sepakat menyebutnya dengan istilah fake account atau lebih dikenal sebagai second account, yaitu Instagram kedua berisi konten yang dianggap tidak cocok untuk dikirim ke akun utama.

Di second account pengguna terlihat cenderung lebih bebas mengekspresikan hidupnya, mencakup sisi dari dirinya yang belum tentu diketahui oleh banyak orang. Tempat di mana pengguna dapat menjadi diri seutuhnya tanpa harus peduli dengan komentar-komentar negatif dari pengguna lain, tidak perlu susah payah untuk mengedit foto agar nampak insagramable, dan bebas dari kata pencitraan belaka.

Alasan paling kuat dengan merebaknya second account ini adalah karena seseorang sudah tidak dapat menjadi dirinya sendiri di akun utama mereka. Bagaimana tidak, privasi dari second account ini lebih dijaga. Tidak sembarang orang dapat mengikuti akun ini, kecuali orang-orang terdekat si pemilik akun kedua. Nama penggunanya pun biasanya disamarkan. Tujuannya sama, agar tidak mudah diketahui oleh warganet yang tidak memiliki kedekatan dengan pemilik akun kedua. Nah, apa perbedaan antara akun utama dengan akun kedua?.

Pada akun utama, kita bagaikan menampilkan diri di hadapan pengguna lain sebagaimana yang kita inginkan. Tetapi demi menjaga citra di depan banyak orang, akun utama nyatanya menuntut kita untuk memiliki ‘topeng’ pribadi. Tidak dapat dipungkiri, media sosial memang membuat seseorang memiliki kecenderungan untuk membuat citra diri positif, dan akhirnya memilih untuk menuangkan perasaan dan ekspresi yang sesungguhnya pada second account.

Pada akun kedua, laksana kehidupan yang sesungguhnya. Seolah-olah kita tidak dapat memuaskan berbagai pihak kecuali diri kita sendiri di belakang panggung. Di belakang panggung, seseorang dapat mengungkapkan karakter sebenarnya tanpa merasa takut kalau-kalau dapat merusak penampilannya. Di sini, rasanya seperti ajang untuk membuka topeng kepalsuan yang sebelumnya sudah diciptakan pada akun utama. Oleh karena itu, banyak sekali pemilik akun kedua yang lebih ‘cerewet’ atau ‘ganas’ dalam bermedia sosial.

Dramaturgi

Fakta tersebut menambah kesan dramaturgi di media sosial Instargram. Jika seseorang memiliki dua akun, maka akun utamanya bagaikan depan panggung atau front stage, sedangkan akun keduanya/second account ini sebagai belakang panggung atau back stage.

Teori dramaturgi memiliki aspek penting dalam konteks komunikasi yaitu hubungan antara individu dengan khalayak dalam suatu waktu dan tempat tertentu. Melalui pengelolaan kesan atau impression, individu harus mengendalikan presentasi dirinya untuk membangkitkan reaksi khalayak terhadap presentasi yang disajikan. Maka dari itu sebisa mungkin di dalam akun pertama, si pengguna ini menampilkan sosok dirinya sebaik mungkin.

Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa masih ada orang-orang yang tidak memiliki second account dengan alasan tertentu. Individu itu pun dapat menjadi dirinya sendiri di satu-satunya akun yang dia miliki. Lebih daripada itu, penulis melihat dalam penggunaan second account sang pemilik juga tidak serta merta membagikan kisah hidupnya, keluh kesahnya, atau luapan lain yang hendak dia sampaikan. Mereka tetap memiliki ‘ruang privasi’ dalam bermedia sosial, alias tidak semua hal dalam hidupnya harus diketahui oleh khalayak.

Pada akhirnya, sah-sah saja jika memiliki second account. Karena bagaimana pun, tiap individu pasti pernah ada di posisi untuk memainkan dramaturgi dalam kehidupannya masing-masing. Entah itu dalam dunia nyata maupun dunia maya. Akan tetapi sangat disayangkan apabila media sosial menjadikan individu itu mengotak-ngotakkan kehidupannya sendiri. Jadi, tetap bijaksanalah dalam bermedia sosial. Agar tidak menimbulkan kesan tampil namun memanipulasi, bahkan kegaduhan banyak pihak.

 

Oleh: Yudit Rosari Susilo Mahasiswi STIKOM Semarang
* Artikel ini telah dibaca 47 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *