SEMARANG[Kampusnesia] – Pengaruh faham radikalisme dan intoleransi berpotensi incar kaum perempuan yang lemah yang tidak memiliki sikap ketegasan dalam aktivitasnya.
Ketua Badan Koordinasi Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Jawa Tengah Nawal Arafah mengatakan sikap perempuan yang cenderung lemah lembut dan halus rawan dimanfaatkan menjadi pelaku tindak radikalisme maupun intoleransi.
Bahkan, lanjutnya, jika kaum perempuan memiliki pengetahuan dan pendidikan yang minim sangat rawan berpengaruh terhadap faham radikalisme dan intoleransi .
“Selama lima tahun terakhir ada pergeseran pelibatan perempuan yang semula sebagai korban, kemudian pendukung, dan merambah menjadi pelaku atau aktor intoleransi, yang berhijrah dan menjadi jihadis,” ujarnya saat Diskusi Tematik V “Perempuan dan Toleransi” pada Kongres Perempuan Jawa Tengah Pertama, di Ruang Semar, Hotel UTC, Selasa (26/11).
Dia menunjuk contoh kejadian bom bunuh diri di Mapolres Medan beberapa waktu lalu, yang disinyalir kuat korbannya terpapar radikalisme dari isteri dan guru ngajinya. Pelibatan istri juga terjadi pada kasus bom tiga gereja di Surabaya pada 2018 lalu.
Menurutnya, keadaan perempuan yang secara sosial, budaya, ekonomi, dan politik terdiskriminasi, membuatnya minim akses pengetahuan dan pendidikan. Belum lagi pengaruh budaya patriarki yang mengharuskan perempuan untuk taat terhadap perintah suami, termasuk dalam aksi radikalisme-terorisme.
“Apalagi jika pemahaman mereka terhadap agama keliru. Dari kondisi itu, perempuan dipandang lebih mudah didoktrinasi, dipengaruhi untuk terlibat dalam aksi radikalisme dan intoleransi. Perempuan juga dianggap lebih lembut dan halus dalam melakukan upaya radikalisme,” tuturnya.
Bukan saja terkait pemahaman keagamaan yang sempit dan keliru, dia menambahkan namun tindakan radikalisme juga dipengaruhi apa yang dialami mereka. Misalnya, kekerasan, konflik, peperangan, kemiskinan, ketimpangan, ketidakadilan, diskriminasi gender.
Selain itu, tutur Nawal, nilai-nilai dan tatanan kehidupan yang ada dianggap gagal mewujudkan perdamaian, kesejahteraan, dan keadilan abadi. Akibatnya, ideologi radikalisme dan intoleransi yang sekarang ini dikemas dalam materi lebih sistematis, bahkan mudah diakses secara online maupun offline, membuat mereka mudah terpengaruh.
Kondisi itu, lanjutnya, bagaimana cara membentengi diri agar terhindar dari pengaruh radikalisme dan intoleransi?. Tentu berupaya agar perempuan dan seluruh masyarakat, terus menciptakan narasi-narasi perdamaian dan ajaran Islam moderat, yang mengedepankan asas kemanusiaan, kesetaraan, keadilan, dan toleransi, terutama melalui media sosial.
Selain tingkatkan pengetahuan dan pemahaman mengenai radikalisme, terorisme dan intoleransi. Bahkan juga tingkatkan akses pendidikan, kesehatan, lapangan pekerjaan, serta pemberdayaan ekonomi dan sosial bagi perempuan, khususnya pada kelompok rentan, seperti perempuan miskin, perdesaan, dan lainya.
Wujudkan keadilan dan kesetaraan gender di rumah tangga, termasuk mengakhiri Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT).
Keragaman di masyarakat,menurut Nawal, disatukan dengan membuka dan memfasilitasi forum dialog antarkelompok perempuan maupun antaragama, dengan beragam isu yang berbeda, demi membangun perdamaian.
Pererat kerja sama dengan kelompok-kelompok perempuan maupun masyarakat yang memiliki faham moderat, menerapkan analisis gender, serta meningkatkan peran dan kepemimpinan perempuan dalam mewujudkan perdamaian.
“Sebenarnya perempuan bisa menjadi agen perdana dan agen toleransi. Terbukti, perempuan bisa menyelesaikan rekonsiliasi konflik pada awal kemerdekaan, bahkan ikut merumuskan kemerdekaan. Kalau dibandingkan Timur Tengah, Indonesia memberikan hak yang lebih adil bagi perempuan,” tuturnya. (rs)