Home > HEADLINE > Kurikulum Pendidikan Hukum Islam Harus Kompetabel Terhadap Perubahan Era Industri 4.0

Kurikulum Pendidikan Hukum Islam Harus Kompetabel Terhadap Perubahan Era Industri 4.0

SEMARANG[Kampusnesia] – Kurikulum pendidikan hukum Islam harus selalu update dan kompatibel dengan berbagai perkembangan yang terjadi, termasuk perubahan disruptif pada era industri 4.0.

Prof Dr Musahadi MAg saat menyampaikan pidato pengukuhan guru besar Ilmu Hukum Islam UIN Walisongo Semarang mengatakan era industri 4.0 mendorong kalangan profesional memanfaatkan fasilitas aplikasi teknologi artificial ingelligence (AI) atau mesin kecerdasan sebagai instrumen solutif untuk menjawab berbagai problem yang dihadapi.

“Kemampuan AI telah berkembang pesat, para peneliti terus membawa konsep futuristik yang dulu hanya ada dalam imaginasi atau film fiksi ilmiah menjadi kenyataan,” ujar Prof Musa dalam  sidang senat terbuka UIN Walisongo Semarang di kampus III Jl Prof Dr Hamka Ngalian Semarang,  Rabu (8/1).

Menurutnya, penggunaan aplikasi AI kini telah meluas menyentuh hampir seluruh bidang. Mulai dari bidang medis, pendidikan,otomotif, pertahanan, pertanian, otomasi,energi, ilmu alam, keuangan, dan hukum, termasuk hukum Islam.

Dengan fasilitas AI, lanjutnya, ke depan pegiat profesi pengacara tidak butuh waktu berminggu-minggu untuk meneliti dokumen -dokumen kasus, karena dalam hitungan detik telah terselesaikan oleh AI yang tidak pernah lelah dan jenuh.

Dia menambahkan fenomena ini tentu juga akan menyentuh hukum Islam yang terlahir dan dikembangkan melalui melalui proses pergulatan intelektual dalam memahami, menafsirkan dan mengimplementasikan titah Tuhan dalam kehidupan praktis at Islam yang mencakup hubungan manusia dengan Tuhannya, sesama dan alam lingkungannya.

Seiring dengan perkembangan digital, tutur Prof Musa, saat mencari legitimasi hukum Islam terkait dengan berbagai problem keseharian, sebagian manusia kini mulai mencari solusi melalui proses searching atau geogling di internet, sehingga muncul istilah fatwa online atau konseling virtual.

“Ini menjadi indikasi, bahwa perlahan tapi pasti telah terjadi proses migrasi dari fatwa tradisional yang dilakukan secara manual ke fatwa model milinial yang terjadi secara virtual,” tuturnya.

Karena itu, dia menambahkan dalam menghadapi era ini kurikulum pendidikan hukum Islam tidak bisa hanya dirancang untuk membekali pengetahuan kognitif penguasaan materi hukum  Islam saja, karena orientasi ini telah diambil oke AI dan mesin pencarian (searching engine).

Tetapi kurikulum harus diarahkan untuk mencetak peserta didik memiliki skill tidak hanya terkait dengan penerapan hukum saja, tetapi lebih penting lagi terkait dengan ketrampilan penemuan hukum, pembentukan karakter, penguasaan literasi dan keramahan terhadap perbedaan pendapat  dan wawasan lintas disiplin ilmu. (smh)

* Artikel ini telah dibaca 12 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *