Home > HEADLINE > Seluruh Stakeholder Diminta Waspadai Daerah Rawan Bencana

Seluruh Stakeholder Diminta Waspadai Daerah Rawan Bencana

SEMARANG[Kampusnesia] – Pemprov Jateng meminta seluruh stakeholder siap siaga mewaspadai kondisi di daerah rawan bencana, terutama di alur-alur sungai yang berpotensi meluap ataupun jebol akibat curah hujan kini semakin memburuk.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan seluruh stakeholder harus siap siaga mewaspadai potensi terjadinya banjir di berbagai daerah, terutama sejumlah aliran sungai yang berpotensi meluap.

Menurutnya, curah hujan berdasarkan prediksi BMKG sangat ekstrem, bisa mencapai 500 milimeter. Bahkan telah terjadi di wilayah punggungan Jawa Tengah, di kawasan Gunung Slamet dan sekitarnya.

Dengan demikian, lanjutnya, ketika hujan ekstrem tercurah pada wilayah pegunungan, pasti akan mengalir ke sungai dan berakhir ke laut, sehingga di wilayah-wilayah sungai itu warga diminta agar meningkatkan kewapadaan, khususnya terhadap luapan air sungai ke permukiman maupun jalan-jalan.

“Musim hujan seperti saat ini, kita akan menelpon (petugas) untuk memperingatkan (potensi) tanggul-tanggul jebol ada di mana. Kita antisipasi seoptimal mungkin, kita minta masyarakat diberikan halo-halo (peringatan). Early warning-nya, balai, jalan, alatnya standby (siaga),” ujarnya saat meninjau Posko Terpadu Siaga Banjir, di Wisma Perdamaian, Kamis (9/1).

Kasi Penanggulangan Banjir dan Peralatan pada Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Jateng Agus Purwanto menuturkan di Jateng terdapat 202 sungai. Dari alur tersebut, beberapa wilayah berisiko terjadi luapan air.

“Dari 202 sungai itu, dibagi menjadi 10 satuan sungai, dua aliran sungai meiputi Bodri-Kuto dan Pemali-Comal yang menjadi kewenangan provinsi. Fokus kita di situ, namun, tidak lantas hanya disiagakan di tempat itu. Di mana-mana yang banjir, ikut disediakan bahan banjiran (logistik penanggulangan banjir),” tuturnya.

Menurutnya, lokasi rawan banjir yang berpotensi melimpasi jalan negara di Jateng bagian utara di antaranya, Kali Gangsa (Brebes), Kali Waluh (Pemalang), Kali Sragi Lama dan Kali Sengkarang (Kabupaten Pekalongan). Selanjutnya, ada Kali Urang, Kali Blorong (Kendal), Kali Bringin (Kota Semarang), Kali Onggorawe, Kali Setu, serta Kali Wulan(Demak), Kali Piji (Kudus) dan Kali Juana (Pati). Di sisi selatan Jateng ada Kali Cijalu, Kali Cilopadang, Kali Wanareja, Desa Cihaur, Kali Dermaji, Kali Buntu (Cilacap), Kali Jatinegara, Kali Luk Ulo, dan Kali Butuh (Kebumen).

Pihaknya juga akan menerapkan standard operational procedure (SOP) terkait laporan risiko banjir dari sungai. Laporan dibuat berdasarkan kualifikasi risikonya, mulai hijau, kuning dan merah.

“Begitu sudah masuk fase kuning ke merah, laporan akan dibuat 30 menit sekali. Laporan itu nanti akan ke BPBD sebagai commander-nya, yang akan mengevakuasi warga,” ujar Agus.

Terkait peralatan antisipasi banjir, pihaknya sudah menyiapkan, di antaranya 321.825 lembar karung pasir, 250 kilogram bronjong kawat, 370 unit bronjong anyam dan 30 dolken. Selan peralatan berat ekskavator, mini ekskavator, vibro roller (pemadat) dan buldozer. (rs)

* Artikel ini telah dibaca 33 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *