Home > EDITOR'S CHOICE > Sluman Slumun Slamet Ora Korupsi

Sluman Slumun Slamet Ora Korupsi

Oleh: Drs Pudjo Rahayu Rizan MSi Magister Kebijakan Publik MAP Undip, Dosen tidak tetap STIE BPD dan STIE Semarang

Ramai-ramai Kepala Sekolah di Jateng Takut dengan Stiker Antikorupsi. Itu judul berita cukup menggelitik, ketika berbicara stiker antikorupsi yang diinisiasi oleh Gubernur Jateng Ganjar Pranowo ternyata tak hanya berdampak pada pegawai di lingkungan Pemprov Jateng saja, namun juga ASN yang lain. Salah satunya adalah bagi para kepala sekolah setingkat SMA, SMK, dan SLB yang mengikuti pengarahan bersama Gubernur berapa waktu lalu.

Pada acara itu, Gubernur awalnya meminta para kepala sekolah untuk memilih,  menandatangani pakta integritas soal antikorupsi atau menempel stiker ‘Nek Aku Korupsi, Ora Slamet’ (kalau aku korupsi, tidak selamat) di kendaraan.

Ternyata, dari 500 kepala sekolah yang hadir, hanya kurang dari 10 yang mengaku berani menempelkan stiker tersebut.

“Saya tidak tahu, apakah ini penting atau tidak. Apakah ini medheni (menakutkan) atau tidak, tapi saya ingin membandingkan pakta integritas ini dengan stiker saya. Ternyata, hari ini saya tahu bahwa stiker ini lebih menakutkan dibanding pakta integritas,” ujar Gubernur pada acara itu yang berlangsung di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, beberapa waktu lalu.

Menurut Gubernur, stiker tersebut memang memiliki daya magis tersendiri. Meski harganya tak lebih dari Rp 2.000, namun Ganjar percaya, stiker ini memiliki kekuatan yang luar biasa.

“Jangankan panjenengan (Anda), saat saya meminta seluruh kepala dinas untuk menempel stiker ini saja, banyak yang ketakutan,” tuturnya.

Namun, Ganjar mengaku tidak akan memaksa para kepala sekolah memasang stiker tersebut. Yang penting, para kepala sekolah tetap menjaga integritas, tidak melakukan pungli dan korupsi.

Sejak Gubernur, yang penuh ide dan gagasan, saat memperingati Hari Anti Korupsi Dunia (Hakordia), mendadak menempeli stiker untuk mobil-mobil dinas Pemprov Jateng yang parkir di halaman kantor Gubernur Jateng, Minggu (8/12/2019).

Aksi ini unik, karena Ganjar juga mengerahkan ribuan pelajar untuk berdemonatrasi melakukan aksi menempel stiker di Jalan Pahlawan Semarang. Stiker bertuliskan ‘Nek Aku Korupsi, Aku Ora Slamet’ (‘Kalau Aku Korupsi, Aku Tidak Akan Selamat’) itu dipasang di beberapa bagian mobil.

Stiker bertuliskan ‘Nek Aku Korupsi, Aku Ora Slamet’, ternyata mematik pendapat umum. Muncul dua pendapat yang setuju dan tidak setuju. Yang pro dan yang kontra. Untuk itu, ada memilih yang moderat, yaitu setuju dengan catatan dan tidak setuju juga dengan catatan.

Catatan untuk setuju dikaitkan dengan stiker bertuliskan ‘Nek Aku Korupsi, Aku Ora Slamet’, negara dan bangsa Indonesia sudah kategori darurat korupsi. Korupsi hampir menyentuh semua pilar-pilar kehidupan dan sangat merugikan masyarakat secara umum. Pemasangan stiker layak dilakukan. Lebih layak dipelopori oleh pemangku kepentingan, yaitu aparatur Negara seperti Gubernur Jateng yang sudah memulai.

Mengapa yang mengawali harus aparatur Negara, karena ini sesuai teori kekuasaan  dari Lord Acton  power tends to corrupt, absolute power corrupt absolutely itu tampaknya tepat untuk menggambarkan penguasa yang ingin menyalahgunakan atau tidak menyalahgunakan kekuasaannya. Karena peluang sangat terbuka manakala memiliki kekuasaan. Kekuasaan yang absolut membuka peluang cenderung korupsi juga absolut.

 Mengapa menakutkan ?

Ada kesan atau persepsi yang membentuk opini bahwa semua yang tidak selamat/kecelakaan (kita semua tidak menghendaki) berarti korupsi. Padahal yang bersangkutan tidak korupsi. Ini yang menakutkan. Bukan tidak setuju dengan stiker ini, tapi juga bukan berarti setuju korupsi. Menakutkan sekali manakala nanti akan menggiring berkesimpulan bahwa yang celaka adalah karena korupsi. Banyak faktor penyebab kecelakaan terjadi. Terlepas korupsi atau tidak korupsi kecelakaan bisa saja terjadi.

Agar tidak ada kesan menakutkan, perlu pemilihan diksi dimana makna sama tetapi redaksinya lebih halus, humble. Diksi yang mungkin bisa dipertimbangkan untuk dipilih adalah, sluman slumun slamet ora korupsi. Kata-kata sluman slumun slamet, dari falsafah jawa yang tetap relevan dengan perkembangan jaman. Termasuk menghadapi fenomena korupsi yang sudah akut. Menghindari dan menjauhi korupsi, ingat falsafah yang luhur, sluman slumun slamet.

Para sesepuh di Jawa, sering pesan pada anaknya yang akan bepergian, atau mulai bekerja dengan pesan “Tak sangoni ‘slamet’ yo nak”. Orang tua kita di Jawa lebih utama memberikan bekal ‘selamat’ ketimbang bekal harta atau yang lainnya bagi anak-anak generasi penerus keturunan dan perjuangan mereka. Maknanya sangat dalam, “nyangoni slamet”.  Ini juga mengandung falsafah hidup yang jujur, hati-hati, tidak merugikan orang lain, tidak mengambil yang bukan haknya.

Sluman slumun slamet berarti semoga kita tetap diberi keselamatan oleh sang maha pencipta. Secara lebih mendalam makna dari falsafah orang-orang tua Jawa sluman slumun slamet mengandung filosofi yang sangat transendental dan spritual.

Memaknai Sluman Slumun Slamet

Tentang sluman slumun slamet semoga kita diberikan keselamatan oleh Tuhan Yang Maha Esa, dapat dimaknai sebagai suatu keselamatan yang paling hakiki dalam menjalani kehidupan. Orang Jawa yang njawani akan selalu menjalani hidup dan berkata bahwa hidup ini yang penting slamet, yang maknanya bahwa setiap menjalani hidup dan kehidupan haruslah memiliki tujuan yang sepantasnya untuk diraih. Tujuan itu tentunya adalah keselamatan hidup di dunia dan di akhirat.

Dalam kondisi kehidupan dewasa ini, di antara tarik menarik kebenaran dengan ketidak benaran, kejujuran dengan ketidak jujuran dan keadilan dengan ketidak adilan, maka falsafah Jawa, sluman slumun slamet akan menjadi falsafah bagi hidup dan kehidupan kita  bukan hanya untuk orang-orang Jawa saja akan tetapi semua warga bangsa Indonesia.

Dengan berpegang pada falsafah sluman slumun slamet tentu saja semua anugerah kekuasaan apapun itu, kekuasaan hukum, kekuasaan ekonomi, kekuasaan politik, kekuasaan agama, kekuasaan sosial budaya dan kekuasaan-kekuasaan lainnya yang kita miliki akan membawa keselamatan bagi kita di dunia dan di akhirat. Kita sepakat kalau mau memaknai falsafah sluman slumun slamet, niscaya jauh dari niat korupsi. Ora arep korupsi. Mboten bade korupsi. Tidak akan korupsi.

* Artikel ini telah dibaca 287 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *