Home > EDITOR'S CHOICE > Genegarsi, Rasa Kebangsaan Dan Indonesia Emas 2045

Genegarsi, Rasa Kebangsaan Dan Indonesia Emas 2045

Salut, kagum, menarik, sekaligus menggelitik, ketika saya diminta menjadi salah satu Juri dalam kegiatan Dinus Essay Competition (DINEC) yang diikuti oleh siswa Sekolah Lanjutan Tingkat Atas ( SLTA) tingkat nasional, yang diselenggarakan oleh Badan Ekskutif Mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro Semarang (BEM UDINUS).

Lomba penulisan Essay yang diikuti sebanyak 60 peserta itu, sungguh menyejukkan hati, sekaligus rasa optimisme seluruh juri serta penyelenggara dari kalangan mahasiswa perguruan tinggi itu.

Generasi muda yang lebih akrab disebut generasi millenial yang selama ini lebih dikesankan egoistis, individualistis, bahkan tercandui oleh gadgate, ternyata bukanlah demikian kenyataannya.

Setidaknya 60 karya Essay peserta yang mereka ikutkan lomba, menunjukkan bagaimana kepedulian mereka terhadap masa depan Bangsa serta Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), berdasarkan sajian serta peminatannya masing- masing.

Karena itu, alangkah bijaksananya bila kita merenunginya sembari menerawang, bagaimana sebaiknya memacu minat serta kepedulian generasi muda tersebut, agar bermanfaat secara maksimal?, Serta bagaimana meningkatkan rintisan BEM UDNUS tersebut agar bergaung lebih luas, sekaligus sesuai dengan manfaat maksimal hasil keluarannya bagi NKRI?

Spesifik Nasionalis

Sebanyak 60 karya siswa peserta lomba sesuai dengan tema ‘Menjaga persatuan dan kesatuan, menuju Indonesia Emas 2045’, tersebut meski mengambil berbagai sudut pandang, namun rata- rata terkait dengan tema utama.

Ada yang lansung menukik pada rasa nasionalisme, agama serta toleransinya, kesehatan, lingkungan, pangan, bahkan pemanfaatan medsos dengan berbagai fitur serta aplikasinya secara kreatif dan maksimal.

Yang lebih mengagumkan, mereka menyertakan dukungan data yang cukup lengkap, namun tetap menjaga agar karya mereka tidak terlalu terjebak oleh plagiarisme.

Para peserta yang berasal dari kota kecil pun misalnya Jember, Kediri, Subang, dan lainya, ternyata karya- karyanya, bahkan saat presentasi dan menerima pertanyaan Juri, mampu dilakukannya dengan sangat baik dan lancar.

Pemilihan judul karya mereka pun sangat variatif serta mengandung ide- ide cemerlang. Itu pulalah yang akhirnya menunjukkan para guru pembimbingnya pun cukup berkapasitas serta bekerja secara serius.

Setidaknya, meski hanya dari sebuah event, namun dugaan negatif yang selama ini secara cukup sinis terlontar baik terhadap kaum millenial serta para gurunya, bisa terpatahkan.  Selanjutnya, tinggal bagaimana pemerintah dan para pegiat yang peduli, termasuk kalangan kampus,memaksimalkannya.

Mengongkritkan Gagasan

Saat ini, yang seolah lebih dominan dan menonjol adalah penyampaian gagasan dalam bentuk oral. Namun, sebenarnya model terebut terkesan gampang hilang, kurang lengkap dan sistematis, bahkan kadang sering dikonotasikan hoax, tidak akurat, serta sekedar omdo (omong doang).

Karena itu, pilihan yang paling tepat adalah menulis. Melalui tulisan yang sustematis, komprehensif, serta didukung data yang akurat, maka pemikiran yang ada dalam karya tersebut akan dapat dikaji secara mendalam serta teliti, sehingga hasilnya pun akan sesuai dengan harapan.

Selanjutnya, bila tulisan tersebut dikirim ke media, maka akan tersebar luas , sekaligus akrab dengan robot google, dan menjadi SEO Friendly.

Dampak positif lainnya, selain efek pelipatgandaan buah pemikiran, sekaligus menjadi populer, dan karya- karyanya menjadi makin bermanfaat.

Akhirnya, kita semua tentu sepakat, bahwa kesadaran serta kepedulian generasi muda terhadap persatuan dan kesatuan bangsa perlu terus ditingkatkan. Kegiatan sejenis DINEC perlu disupport oleh berbagai pihak, sehingga akhirnya menimbulkan manfaat secara maksimal.

* Artikel ini telah dibaca 43 kali.
Gunawan Witjaksana
Dosen dan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang. Pengamat komunikasi dan media.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *