Home > HEADLINE > Kirab Kebangsaan Merah Putih Jadikan Spirit Perkokoh Kesatuan

Kirab Kebangsaan Merah Putih Jadikan Spirit Perkokoh Kesatuan

SEMARANG[Kampusnesia] – Toleransi beragama bukanlah hal yang baru. Sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan sebenarnya sudah dicontohkan sejak zaman Nabi dan Wali.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengatakan keberagaman itu sudah menjadi sunnatullah. Kebhinekaan di Tanah Air sudah termaktub di lauhul makhfudz., sehingga para ulama telah mewanti-wanti, dahulukanlah adabmu sebelum kau junjung ilmumu.

Banyak kisah, lanjutnya, yang bisa ditemukan tentang bagaimana sikap toleransi ini. Bahkan paling luar biasa sisi kemanusiaan Rasulullah, beliau seminggu tiga kali menyuapi seorang nenek Yahudi, dengan suapan yang sangat lembut.

“Padahal nenek Yahudi tersebut tidak henti-hentinya menjelek-jelekkan Rasulullah,” ujarnya saat memimpin Kirab Kebangsaan Merah Putih di Lapangan Pancasila Simpanglima Semarang, Jumat (24/1).

Hadir pula dalam acara itu, ulama kharismatik Habib Luthfi bin Yahya, Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin, jajaran Forkompimda dan ribuan masyarakat dari berbagai suku, agama, ras dan golongan.

Contoh lain, menurutnya, juga dikisahkan oleh para wali di Nusantara. Semua tahu, jika membicarakan perpaduan agama dan budaya, Sunan Kalijaga adalah ahlinya. Juga Kanjeng Sunan Kudus yang demi menghormati orang Hindu, dia melarang muridnya untuk menyembelih sapi.

“Jadi dengan kirab ini, kita berharap akulturasi agama dan budaya dijadikan spirit memperkokoh kebangsaan,” tuturnya.

Dia menuturkan laku untuk menghargai dan menghormati siapapun termasuk yang berbeda keyakinan telah dicontohkan sejak agama ini dikibarkan di bumi Nusantara. Untuk itu, saat ini tidak ada alasan bagi siapapun untuk tidak menerapkan kemuliaan akhlak tersebut.

“Mudah-mudahan pawai ini mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Kirab dengan peserta yang berbeda-beda suku, agama, ras dan golongan ini semakin menyadarkan bahwa bangsa ini beragam, namun tetap satu,” ujar Ganjar.

Sementara itu, Habib Luthfi bin Yahya mengatakan tujuan Kirab Kebangsaan Merah Putih tiada lain untuk menyatukan masyarakat. Dengan kirab budaya itu, diharapkan masyarakat dapat meningkatkan rasa memiliki Merah Putih sebagai simbol negara.

“Ada tiga hal yang ditekankan dalam merah putih, tidak hanya simbol tanpa makna. Di dalamnya ada kehormatan bangsa, harga diri bangsa dan jati diri bangsa,” tuturnya.

Menurut Habib Luthfi, sudah tidak boleh saat ini masyarakat diributkan dengan isu perbedaan, karena  dunia saat ini sudah memikirkan tentang kemajuan, bukan lagi memperdebatkan perbedaan.

“Bangsa Indonesia terdahulu sudah pandai dan berpikiran ke depan. Mereka bisa membuat candi Borobudur, Prambanan, Masjid Agung dan lainnya dengan hebat. Kenapa sekarang kita justru ketinggalan dan masih meributkan perbedaan. Untuk itu, dengan kirab budaya ini, mari kita sadar tentang pentingnya menjaga persatuan bangsa,” ujarnya.

Kirab Kebangsaan Merah Putih diikuti oleh ribuan masyarakat. Mengenakan beragam pakaian adat, mereka berbaur dari berbagai suku, agama, ras dan golongan, peserta kirab longmarch dari Jalan Kagok Semarang menuju Lapangan Pancasila Simpanglima. Peserta kirab juga membawa bendera merah putih sepanjang 500 meter.

Selain kirab budaya, dalam acara itu juga dibacakan deklarasi bersama. Ada empat poin deklarasi yang dibacakan dalam acara itu. Yakni, setia pada Pancasila dan UUD 45, setia pada NKRI dan Bhineka Tunggal Ika, Setia kepada pemerintahan dan menolak setiap upaya provokasi yang ingin menjatuhkan pemerintahan, dan terakhir menghormati perbedaan dan menolak segala bentuk faham radikalisme, terorisme, anti pancasila, intoleransi serta gerakan apapun yang dapat menimbulkan perpecahan. (rs)

* Artikel ini telah dibaca 12 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *