Home > EDITOR'S CHOICE > Pers Di Tengah Hiruk Pikuk Informasi Menyesatkan

Pers Di Tengah Hiruk Pikuk Informasi Menyesatkan

Pada Hari Pers Nasional yang diperingati setiap  9 Februari sudah sepantaslah kalau kita merenung, bagaimana sebaiknya pers memerankan diri di tengah masyarakat, utamanya kaum muda yang setiap saat digempur oleh berbagai informasi melalui media sosial (medsos) yang sering tumpang tindih, tidak akurat, serta diragukan kebenarannya?. Sebaliknya, bagaimana sebaiknya masyarakat menyikapi gempuran informasi bahkan opini lewat berbagai medsos yang sering tidak didukung data akurat, bahkan ada yang sengaja untuk mengeruhkan situasi?

Memilih Dan Memilah

Bagi mereka yang memahami peran, fungsi, serta kekuatan media alias melek media, hal itu bukanlah menjadi masalah. Mereka yang dalam posisi tersebut setiap memperoleh informasi serta opini, tentu akan mencocokkannya lebih dahulu, baik dengan media mainstream yang jelas secara kelembagaan, serta mengonfirmasinya dengan program/aplikasi cek fakta yang sekarang banyak tersedia.

Dengan demikian, mereka ini akhirnya akan mampu memilih serta memilah, informasi serta opini yang bermanfaat, serta membuangnya, bila mereka jumpai informasi serta opini yang mereka pandang menyesatkan.

Yang menjadi persoalan sebenarnya adalah mereka yang belum melek media, sekaligus melek informasi dan komunikasi. Mereka ini, terlebih karena smartphone yang mereka pegang seolah ingin berfungsi menjadi informan bahkan jurnalis dadakan, sehingga apapun yang mereka peroleh, langsung mereka share, tanpa melihat dampaknya.

Mereka ini memang tidak bisa dengan spontan disalahkan, karena semata mereka terdorong oleh motif gratifikasi (memperoleh kepuasan diri), melalui cara menyebarluaskan apa saja yang mereka peroleh melalui medsos kepada sebanyak mungkin orang. Kepuasan itulah yang mereka anggap dapatkan.

Mereka ini, tidak bisa semata disalahkan bila karenanya terjadi dampak negatif termasuk terkait dengan opini sesat yang akhirnya mereka yakini, justru oleh ketidaktahuan mereka. Bagi mereka, termasuk mereka yang terdampak oleh perilakunya tersebut, menjadi sangat mudah percaya dengan apa yang mereka peroleh, karena justru ketidak jelasan itulah penyebabnya. Kita lalu ingat dengan Uncertainty Theory, yang menjelaskan hal tersebut.

Celakanya, bila selanjutnya hal tersebut diperkuat dengan model buzer yang fanatik serta membabi-buta seperti dua kelompok saat Pilpres lalu bahkan masih terasa hingga saat ini, hal tersebut jelas sangat merugikan semuanya. Model WTS (waton suloyo), atau asal beda seperti yang masih sering kita jumpai, jelas bertentangan dengan nuansa kemajuan yang rasional.

Terkait hal tersebut, kita tentu ingat kata Towne dan Alder, bahwa ” communication is irreversible & unrepeatable”.

Peran Pers

Karena itu, ke depan peran pers mainstream dalam rangka menangkal berbagai berita hoax sangatlah penting. Media mainstream yang kini juga telah terintegrasi dengan medsos, diharapkan akan semakin mampu mengkreasi berbagai pesannya kepada masyarakat, sehingga akhirnya dalam kondisi bingung di tengah kesimpangsiuran informasi, mereka bisa akan kembali memilih media yang kredibel.

Mungkin, yang tampak saat ini kaum milenial khususnya, seakan jauh dari media mainstream. Namun , dengan memodifikasi penyajian dan dikombinasikan dengan sifat serta kekuatan medsos yang didukung teknologi smartphone, pelan namun pasti kaum muda pun akan kembali mengakses media- media utama.

Bagaimana pun peran pers sebagai media informasi, edukasi, mediasi, advokasi, interaksi pararasional, serta media hiburan sebaiknya tetap dijaga secara konsisten.

Pengalihan peran sementara yang dalam bahasa ekonomi disebut shifting, akan kembali lagi, meski untuk mempercepatnya, maka pengintegrasian pemanfaatannya perlu makin dimaksimalkan.

Akhirnya, kita tentu berharap, insan pers dengan segudang pengalamannya akan mampu memaksimalkan perannya di tengah hiruk pikuk bahkan gempuran kekarutmarutan informasi yang sedang dan akan terus terjadi.

* Artikel ini telah dibaca 44 kali.
Gunawan Witjaksana
Dosen dan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang. Pengamat komunikasi dan media.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *