Home > HEADLINE > 1.000 Jamaah Umrah Mastour Ditunda Keberangkatannya

1.000 Jamaah Umrah Mastour Ditunda Keberangkatannya

SEMARANG[Kampusnesia] –  Akibat kebijakan pemerintah Arab Saudi yang menghentikan kedatangan jamaah umrah dari luar negaranya, sebanyak 1.000 orang lebih jamaah umrah dari PT Masy’aril Haram Tour (Mastour) tertunda keberangkatnnya.

Dirut PT Masy’aril Haram Tour H Syarqowi Ghozali Amin mengatakan calon jamaah umroh dari berbagai daerah di tanah air dibawah bimbingan Mastour terpaksa ditunda keberangkatannya akibat kebijakan itu.

“Visa sudah keluar semua, tiket penerbangan pesawat dari Jakarta, Jeddah mupun Madinah sudah siap semuanya, termasuk hotel di Makkah, Madinah dan Jeddah, katering dan bus angkutan semuanya sudah siap. Tapi mau apalagi, manusia tidak punya kekuatan apapun,”  ujar Dirut PT Masy’aril Haram Tour H Syarqowi Ghozali Amin di Semarang, Kamis (27/2)

Menurutnya, menghadapi realitas ini manajemen Mastour mengajak semua calon jamaah untuk bersabar dan tetap berprasangka baik kepada Allah yang maha kuat.

Menurut jadwal yang telah disusun, lanjutnya,  Jumat besok (28/2) ada 35 orang yang berangkat umrah 15 hari plus Masjidil Aqsha. Kemudian Sabtu (29/2) sebanyak 51 orang di antaranya rombongan PT Marimas Semarang, 3-4 Maret sebanyak 800 orang dan 7 Maret sebanyak 20 orang.

Dia menambahkan akibat kebijakan itu semua perencanaan harus dijadwal ulang. Manajemen Mastour sudah komunikasi dengan perusahaan penerbangan, hotel, katering, angkutan dan semunya. Hasil pembicaraan sangat baik, semuanya bisa memahami keadaan ini.

Sementara itu, Kepala Cabang Semarng Mastour H Jumadi Sastradiharja langsung menyampaikan informasi penundaan tersebut kepada semua orang yang akan berangkat umrah akhir Februari dan Maret mendatang.

“Alhamdulillah semuanya bisa mengerti dan memahami, para  jamaah diminta  sabar dan ikhlas menerima penundaan tersebut,” tuturnya.

Menurutnya, hal ini adalah penundaan bukan pembatalan. Karena itu semuanya diminta tetap tenang dan berprasangka baik kepada Allaah, Sabar dan ikhlas

Terhadap kebijakan pemerintah Saudi, tutur Jumadi, Mastour berharap kebijakan pemerintah Arab Saudi  ini tidak akan lama. Penundaan ini akan dimanfaatkan untuk mematangkan persiapan agar keberangktan yang tertunda bisa lebih baik, nyaman dan maksimal.

Hal serupa juga terjadi terhadap sebanyak 130 calon jemaah umrah dari biro Fatimah As Zahra di Semarang gagal diberangkatkan akibat pemerintah Arab Saudi memoratorium pelaksanaan umrah dari sejumlah negara, sebagai antisipasi pencegahan virus korona atau Covid-19.

“Semua keputusan sangat cepat membuat kami selaku biro umrah merasa dirugikan. Banyak calon jemaah merasa bingung menanyakan penghentian umrah dari Arab. Makanya kita kasih pilihan re-schedule jadwal keberangkatannya dengan pilihan tanggal sesuai keinginan mereka. Atau refund,” ujar CEO Fatimah Az Zahra Semarang Muhammad Rifki AZ Zahdi.

Dia menuturkan dari informasi hingga akhir Februari 2020, sudah ada ratusan calon jemaah yang akan diberangkatkan.

“Sekarang ada 130 calon jemaah umrah yang bersparpor gagal berangkat pada Sabtu (29/2) besok. Kita sedang koordinasi dengan pihak terkait soal jadwal penerbangan, seluruh akomodasi dan biro dari Mekahnya,” tuturnya.

Dia menjaikan memberikan refund 100% bagi para calon jemaah yang terlanjur membayar untuk keberangkatan pada 29 Februari dan 3 Maret 2020 mendatang.

“Sambil kita menunggu masa karantina di Saudi yang kira-kira 14 hari, kita berikan refund tiket sampai 100% bagi calon jemaah yang ingin membatalkan keberangkatannya,” ujarnya.

Sementara itu, Kasi Pendaftaran dan Dokumen Haji Kementerian Agama (Kemenag) Jateng Ahmadi mengatekan belum ada informasi petunjuk teknis, terkait penundaan pemberangkatan jemaah umrah.

“Kalau ada info pasi kita sosialissikan, saat ini kami menunggu kabar dari Kemenag. Jika Pemerintah Arab Saudi memberlakukan penghentian sementara umrah akan berdampak pada musim haji pada tahun ini,” tutur Ahmadi. (SMH/RS)

 

* Artikel ini telah dibaca 84 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *