Home > EDITOR'S CHOICE > Jadikan Kawasan Industri Sebagai Pemantik Investasi

Jadikan Kawasan Industri Sebagai Pemantik Investasi

Oleh : Pudjo Rahayu Risan

Pekerjaan Rumah (PR) Jawa Tengah yang harus ditangani dengan serius serta tidak henti-hentinya, sebagaimana penegasan Gubernur Ganjar Pranowo hampir disetiap kesempatan ada tiga hal. Ketiga hal tersebut adalah, mendisrupsi birokrasi, meningkatkan investasi dan menghapus korupsi. Sejatinya ini bukan pekerjaan dan tanggung jawab Pemprov Jateng semata-mata, namun harus “dikeroyok” ramai-ramai oleh berbagai pihak untuk ikut menyelesaikan

Salah satu pihak yang sangat diharapkan untuk ikut “mengeroyok” meningkatkan dan memantik investasi yaitu kawasan industri (KI).

Hal ini ditegaskan oleh Ganjar Pranowo, ketika menerima jajaran Dewan Direksi dan Dewan Komisaris PT Kawasan Industri Wijayakusuma (KIW) Pesero, beberapa waku lalu. Bahkan mengatakan, ketika berbicara investasi dan pertumbuhan ekonomi, Jawa Tengah harus “melompat”. “Tidak ada kata lain, Jawa Tengah harus melompat dan berlari”.

Bagi suatu negara, termasuk Indonesia, industri memiliki peran vital dan strategis bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi. Keberadaan industri bisa menjadi motor penggerak perekonomi rakyat yang pada akhirnya mendorong pencapaian tujuan nasional berupa kesejahteraan masyarakat. Dalam konteks ini Negara diuntungkan.

Mengapa Kawasan Industri  ?

Kawasan industri di Indonesia dianggap sebagai salah satu cara paling efektif untuk menyediakan lapangan pekerjaan, meningkatkan perekonomian dan persaingan pasar. Dengan demikian kawasan induistri sangat membutuhkan investasi. Atau dibalik, kawasan industri harus mampu sebagai pemantik masuknya investasi. Harus ada nilai lebih dari kawasan industri yang ditawarkan untuk menarik kepada calon investor bahwa investasinya akan menguntungkan. Sudah barang tentu banyak manfaat dan memperoleh insentif yang menggiurkan.

Selain insentif menarik yang diberikan Pemerintah Indonesia kepada investor, kawasan industri juga menawarkan sebuah cara yang efisien dan efektif dari segi biaya bagi investor untuk membangun pabrik. Seperti infrastruktur dan fasilitas lengkap yang terintegrasi tersedia di kawasan industri bagi pabrik untuk menggunakan listrik, gas, air dan jalan raya dengan mudah karena dibangun untuk perkembangan area-area tersebut.

Oleh karena itu, infrastruktur yang ada memberi kesempatan kepada para investor untuk menghemat biaya karena tidak perlu lagi membangun infrastruktur dari awal.

Kelebihan lain ketika membangun pabrik di kawasan industri akan lebih mudah memperoleh lahan. Apalagi pembebasan lahan juga bisa menjadi bagian yang bermasalah dari proses pembangunan pabrik, terutama ketika harus berurusan dengan orang yang mengklaim tanah ataupun dengan warga disekitarnya. Maka sesuai dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Umum, pasal 4 ayat (1), mengamanatkan Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah  menjamin tersedianya tanah untuk kepentingan umum.

Pada ayat (2) Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah  menjamin tersedianya pendanaan untuk kepentingan umum. Pasal 6, pengadaan tanah untuk kepentingan umum diselenggarakan oleh Pemerintah. Disinilah diperlukan kerja sinergi semua komponen, sesuai pasal 7, pengadaan tanah untuk kepentingan umum sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah, rencana pembangunan nasional/daerah, rencana strategis, dan rencana kerja setiap instansi yang memerlukan. Hal ini terpenuhi, peran besar kawasan industri semakin kuat.

Lebih mudah menemukan lahan pabrik, dengan demikian konflik bisa dihindari dengan penduduk atau komunitas tetangga, menjadi salah satu pertimbangan lain untuk membangun pabrik di dalam kawasan industri. Disamping itu ijin untuk kegiatan industri kategori legal dan selaras dengan zonasi yang diperuntukan. Insentif pajak di kawasan industri bisa menjadi pertimbangan para investor, dimana kelebihan ini seperti tunjangan PPn (Pajak Pertambahan Nilai) untuk produk impor atau bisa juga mesin yang masuk ke kawasan indsutri dan tunjangan pajak untuk barang yang berasal dari pelabuhan terpilih seperti pelabuhan di zona perdagangan bebas.

Mampukan  KI Jadi Pemantik Investasi ?

Bicara mampu atau tidak mampu, kawasan industri memang dirancang dan dirangsang untuk mendongkrak investasi yang pada akhirnya mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi, juga harus “dikeroyok” ramai-ramai oleh banyak pihak. Sepanjang didukung atau dikeroyok ramai-ramai kawasan industri harus mampu berperan sebagai pemantik investasi. Siapa dan apa yang dibutuhkan oleh kawasan industri untuk menjawab sebagai pemantik investasi?.

Salah satu pihak yang berkomitmen untuk mengeroyok adalah, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Dalam rangka mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi melalui investasi di kawasan industri, BKPM bergerak untuk memperluas cakupan program Kemudahan Layanan Investasi Langsung Konstruksi (KLIK). Melalui implementasi berbagai program BKPM, yang salah satunya adalah KLIK, bahkan BKPM menargetkan investasi Rp765 triliun melalui perluasan di bidang penciptaan lapangan kerja dan peningkatan ekspor nasional.

Pancingan dan keseriusan BKPM dengan mengalokasikan berbagai program, yang salah satunya adalah KLIK, harus ditangkap oleh kawasan industri. Syarat untuk menangkap program BKPM, kawasan industri harus konsekuen menyiapkan segala sesuatunya, sekaligus untuk mengantisipasi di bidang penciptaan lapangan kerja dan peningkatan ekspor nasional.

Program KLIK adalah program yang memudahkan investor untuk berinvestasi langsung di kawasan industri. Peluncuran program ini sudah dimulai sejak 2016 bersamaan dengan layanan Izin Investasi rampung 3 Jam. Tidak ada batasan minimal nilai investasi maupun jumlah tenaga kerja dalam program ini, selama investasi dilakukan di kawasan industri yang telah ditetapkan.

Tujuan perluasan program KLIK ini memang untuk meningkatkan kemudahan dan memperbesar kesempatan berinvestasi di Indonesia. Diharapkan, sektor industri Indonesia makin strategis dan mampu bersaing di tengah era Industri modern 4.0. Kondisi dindustri modern 4.0 sesuai dengan PR Jawa Tengah, salah satunya Ganjar berkeinginan mendisrupsi birokrasi, disamping meningkatkan investasi dan menghapus korupsi. Langkah ini mutlak karena tuntutan jaman yang sulit dihindari bila ingin melompat dan berlari.

Kemudahan untuk mengurus permohonan investasi melalui program KLIK ini juga merupakan salah satu wujud komitmen pemerintah untuk mendorong kerja sama yang baik antara pusat dan daerah. Ditambah dengan kecanggihan teknologi yang memungkinkan semua hal yang berhubungan dengan administrasi bisa dilakukan secara online, maka proses investasi bisa dipercepat.

Melalui program KLIK ini, investor yang tidak perlu menunggu lama untuk masuk ke tahap konstruksi pabrik atau lainnya, sehingga investor dapat fokus pada rencana pengadaan barang produksi, strategi pemasaran, atau yang lainnya. Hal ini dimungkinkan karena perizinan yang belum diurus bisa diselesaikan sambil berjalan. Semakin cepat proses konstruksi dilakukan, semakin cepat pula proses produksi bisa terwujud. Melihat dukungan dari BKPM membuat kawasan industri mampu sebagai pemantik investasi.

Dukungan dari pihak lain, akan meningkatkan kemampuan kawasan industri di Indonesia, khususnya di Jawa Tengah, dimana Pemerintah telah menunjuk Brebes sebagai kawasan industri baru, merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN). Kemampuan kawasan industri sebagai pemantik investasi, semakin siap dimana Kementrian Perindustrian melakukan pendampingan dan supervisi. Komitmen ini berupa penyelesaian permasalahan lahan dan tata ruang dengan pihak-pihak terkait baik lintas kementrian atau lembaga, serta calon pengelola kawasan industri.  Hal ini sebagai upaya mempercepat pembangunan kawasan industri di Indonesia.

Oleh : Drs Pudjo Rahayu Risan MSi, lulusan Magister Administrasi Publik Undip, pengajar tidak tetap STIE Semarang dan STIE BPD Jateng
* Artikel ini telah dibaca 27 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *