Home > EDITOR'S CHOICE > Memaknai Ulang Istilah Radikalisme

Memaknai Ulang Istilah Radikalisme

Oleh: Achmad Syalabi MAg

Nampaknya kita perlu lebih hati-hati dalam menggunakan kata radikalisme. Radikalisme harus lebih dahulu difahami dari aspek etimologi (bahasa) maupun terminologi (istilah). Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) radikalisme secara bahasa diartikan sebagai paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan dan drastis atau dapat diartikan sebagai sikap ekstrem dalam aliran politik.

Adapun secara istilah, dalam buku Moderasi Beragama yang diterbitkan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia (2019), radikalisme dimaknai sebagai suatu ideologi (ide atau gagasan) dan paham yang ingin melakukan perubahan pada sistem sosial dan politik dengan menggunakan cara-cara kekerasan dan ekstrem atas nama agama, baik kekerasan verbal, fisik, maupun pikiran.

Sementara, menurut Mantan Kepala BIN Hendropriyono, radikalisme merupakan embrio lahirnya terorisme. Radikalisme merupakan suatu sikap yang mendambakan perubahan secara total dan bersifat revolusioner dengan menjungkir balikkan nilai-nilai yang ada secara drastis lewat kekeraan (violence) dan aksi-aksi yang ekstrem.

Hendro Priyono menyebutkan ada beberapa ciri yang bisa dikenali dari sikap dan paham radikal. Pertama, intoleran (tidak mau menghargai pendapat dan keyakinan orang lain). Kedua, fanatik (selalu merasa benar sendiri; menganggap orang lain salah). Ketiga, eksklusif (membedakan diri dari umat Islam umumnya). Keempat, revolusioner (cenderung menggunakan cara-cara kekerasan untuk mencapai tujuan).

Dalam perspektif di atas, istilah radikalisme dinarasikan sebagai paham yang dapat menyebabkan pengikutnya menjadi teroris atau ekstrimis, karena seorang tidak serta merta akan menjadi teroris jika dia tidak terpapar radikalisme. Oleh karena itu paham ini sangat berbahaya dan harus diperangi. Senjatanya adalah deradikalisasi.

Menurut hemat saya narasi di atas jelas bersandar pada pemaknaan yang kurang tepat terhadap radikalisme. Dimaknai sebagai paham yang mentolelir kekerasan dan menebarkan ancaman (baca : teror). Pemaknaan yang kurang tepat membawa pada kesimpulan bahwa inti dari tindakan radikalisme adalah sikap dan tindakan seseorang atau kelompok keagamaan tertentu yang menggunakan cara-cara kekerasan dan menebar teror dalam mengusung perubahan yang diinginkan.

Dengan kata lain, radikalisme sinonim dari ideologi keagamaan yang melegitimasi kekerasan. Pertanyaannya, adakah ideologi keagamaan yang melegitimasi kekerasan seperti yang dilakukan kelompok teroris?. Jika yang dimaksud radikalisme adalah ideologi keagamaan yang digunakan oleh kelompok teroris, kenapa tidak dipakai saja istilah terorisme atau ekstrimisme?.

Istilah radikalisme secara substansi sebenarnya tidak mengandung makna kekerasan. Kata radikal berasal dari bahasa Latin, radix/radici, artinya akar atau dasar. Imbuhan isme membuat kata ini bermakna paham yang ingin kembali pada akar dan atau berpegang teguh pada hal-hal mendasar.

Dalam beragama orang yang kembali pada “radix” atau “akar” ingin segala sesuatu berpijak pada akar keyakinan, yaitu prinsip-prinsip mendasar yang menjadi pedoman bagi setiap orang beriman atau beragama. Artinya, sesuai dengan makna kata radikal, menjadi radikal tidak berarti menjadi teroris atau ekstrimis. Menjadi radikal tidak sama dengan membenarkan kekerasan. Bahkan, kembali ke akar, atau berpijak pada keyakinan dasar agama, merupakan hal lumrah bagi para penganut agama.

Kebanyakan orang menganggap bahwa mereka yang beragama dengan lembut, bersikap adaptif bahkan cenderung permisif dan menerima tatanan yang ada disebut moderat. Sementara mereka yang beragama dengan kuat dan mengambil sikap oposisi terhadap tatanan yang ada disebut radikal. Tetapi apakah sifat dan sikap radikal itu merupakan sebuah penyimpangan ideologi keagamaan?. Tentu saja bukan, sebab sifat dan sikap itu hanyalah dampak dari kuatnya keyakinan mereka teradap keyakinan ideologi kegamaan.

Disadari ataupun tidak dewasa ini istilah radikalisme menimbulkan stigma negatif pada pemeluk agama Islam. Sebab bisa saja mereka dicap “radikal” atas ucapan, tampilan, dan perilakunya saat menjalankan tafsir agama yang mereka yakini.

Sebenarnya dalam diskursus politikpun istilah radikalisme tidak selamanya berkonotasi negatif dan peyoratif. Sebaliknya, istilah ini bisa juga menjadi positif, yaitu suatu gerakan perubahan untuk tatanan yang lebih baik, berkeadilan dan demokratis. Namun penggunaan istilah radikalisme dalam diskursus politik itu berbeda dengan penggunaannya di Indonesia belakangan ini. Alih-alih sebagai paham atau ideologi dalam maknanya yang positif, kini difungsikan sebagai pengkategorian terhadap perilaku keagamaan, tampilan keagamaan dan sikap keagamaan. Bahkan Presiden Joko Widodo telah meminta istilah radikalisme dirubah dengan istilah manipulator agama, apalagi terminologi radikalisme tidak ditemukan dalam KUHP maupun produk hukum lainnya yang ada di Indonesia.

Alangkah bijaknya jika kita memandang radikalisme melalui dua sisi, yaitu radikalisme yang positif dan radikalisme yang negatif. Radikalisme positif boleh berkembang di Indonesia, sementara radikalisme negatif tidak boleh dikembangkan di Indonesia. Sebagai contoh dari radikalisme yang positif adalah orang beragama harus mengikuti ketentuan agama yang dianutnya secara kuat dan menyeluruh (kaffah), disisi lain orang bernegarapun harus mengikut aturan atau norma negara secara kuat dan menyeluruh.

Adapun radikalisme yang negatif adalah sebuah bentuk pemahaman yang memonpoli kebenaran, yaitu menganggap bahwa dirinya atau kelompoknyalah yang paling benar, sementara orang lain dianggap salah serta tidak bersikap toleran terhadap perbedaan dan cenderung memakasakan pendapatnya kepada orang lain secara membabi buta, wallahu a’lam.

 

Oleh: Achmad Syalabi MAg ASN Kanwil Kemenag Jateng
* Artikel ini telah dibaca 151 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *