Home > HEADLINE > Musibah Datang Karena Amar Makruf Nahi Munkar Sudah Tidak Dilakukan

Musibah Datang Karena Amar Makruf Nahi Munkar Sudah Tidak Dilakukan

SEMARANG[Kampusnesia] – Musibah tidak hanya menimpa orang yang ahli maksiat saja, tapi juga bisa menimpa kepada orang yang ahli ibadah, bahkan orang alim yang tidak melaksanakan Amar Makruf Nahi Munkar yang diamanatkan Rosulullah SAW.

Pimpinan Majelis Syariah DPP PPP KH Haris Shodaqoh mengatakan jika amar makruf nahi mungkar sudah tidak lagi dilakukan, maka yang terjadi adalah datangnya musibah yang akan menimpa kepada semua orang, tanpa terkecuali.

“Wabah corona ini adalah musibah yang menimpa umat manusia, ini bukan merupakan sesuatu hal yang aneh. Karena setiap musibah itu sudah dirancang oleh Tuhan sedemikian rupa sebelum bumi dibuat,” ujar kyai Haris yang juga pengasuh pesantren Al Itqon Bugen Tlogosari Semarang.

Menurutnya, musibah ini diciptakan oleh Allah yang sebenarnya untuk dijadikan sebagai peringatan dan teguran agar manusia tidak larut dalam persoalan yang sifatnya akan merusak.  Jangan terlalu banyak kemaksiatan dan  kemewahan.

Manusia, lanjutnya, harus selalu ingat dan harus kembali pada Tuhan. Musibah biasanya diturunkan oleh Allah ketika hambaNya sudah sangat kerterlaluan. Tapi ada juga musibah yang diturunkan untuk meningkatkan derajat ketaqwaan hamba dihadapan Allah.

Dia menambahkan musibah tidak hanya menimpa orang yang ahli maksiat saja, tapi juga menimpa kepada orang yang ahli ibadah, bahkan orang alim, ini menunjukkan bahwa umat Rosulullah ini harus selalu melaksanakan Amar Makruf Nahi Mungkar.

“Kondisi seperti ini sangat sulit bagi kita semua, terlebih bagi Pemerintah, tetapi memang harus dihadapi, bukan dihindari, kalau tidak dihadapi, seolah kita tidak percaya pada Tuhan, bukan karena takut Corona,” tuturnya.

Manusia, tutur kyai Haris, harus berikhtiar dalam menghadapi corona, termasuk Ikhtiar batin   untuk menyesuaikan hati dan menyadarkan diri semuanya. Selain ikhtiar, juga harus menjaga diri jangan sampai virus Corona ini membuat lupa terhadap hakekatnya Allah. Kalau sampai melupakan, itu bencana aqidah.

Terkait dengan langkah-langkah pemerintah dalam menghadapi musibah Corona, kyai Haris  mendukung himbauan pemerintah dan mengajak masyarakat untuk mematuhinya demi menjaga kesehatan seluruh masyarakat.

“Pemerinth saat ini tidak berlebihan karena memang ini menjadi tanggunggjawab untuk menjaga dan melindungi rakyatnya. Termasuk dalam hal meliburkan seluruh sekolah-sekolah yang ada, “ ujarnya

Tetapi seharusnya pemerintah juga mempunyai konsekwensi terhadap masyarakat, satu contoh, ketika hari pertama libur sekolah ada beberapa pedagang yang biasa berjualan di depan sekolahan, mereka tidak tahu kalau sekolahan libur.

Tentu, tutur kyai Haris, mereka berharap saat pulang dapat membawa uang untuk anak dan istri, tetapi hari itu tak satupun dagangannya laku, padahal mereka mengandalkan hasil dagangan hari itu untuk menafkahi anak dan istri.

“ Saya benar-benar merasa nelongso dan nangis menyaksikan hal yang seperti itu. Saat ini adalah saat-saat yang serba dilematis. Hal yang seperti ini pemerintah juga harus mengambil sikap,” ujarnya. (smh)

* Artikel ini telah dibaca 20 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *