Home > EKONOMI & BISNIS > Okupansi Hotel Di Semarang Turun Dratis Akibat Dampak Covid-19

Okupansi Hotel Di Semarang Turun Dratis Akibat Dampak Covid-19

SEMARANG[Kampusnesia] – Pandemic virus Corona atau Covid-19 kini semakin meluas di Indonesia, bahkan mulai berdampak pada sektor ekonomi, tidak hanya ekspor-impor dan industri manufaktur, tekstil tetapi kini juga menyentuh sektor pariwisata serta perhotelan.

Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI)  Kota Semarang mengatakan Bisnis Hospitality (hotel semua segmen) yang merupakan bagian dari industri pariwisata, juga mengalami penurunan khususnya tingkat hunian dan kegiatan meeting (okupansi) hingga 30% dalam kurun waktu dua pekan ini.

Menurutnya, jika dampak penyebaran virus Corona yang diimbangi dengan peraturan pemerintah tidak untuk mengadakan kegiatan massa, benar-benar menjadi momok roda bisnis tempat inap pariwisata.

“Tentunya, kami tetap mendukung kebijakan pemerintah untuk pelaku usaha perhotelan tidak melakukan kegiatan berbasis massa. Bahkan anjuran pemerintah untuk masyarakat luas tidak bepergian jauh keluar kota. Kami komunitas bisnis hotel semua segmen yang ada di Kota Semarang tetap komitmen untuk mentaati peraturan tersebut,” ujarnya, Selasa (24/3).

Benk Mintosih yang juga sebagai General Manager Star Hotel Semarang menuturkan dampak dari Covid-19 itu, menjadikan roda bisnis perhotelan mengalami penurunan drastis hingga 30%, tingkat hunian dan pendapatan dari kegiatan Meeting, Incentive, Convention, Exhibition (MICE) terserat turun.

Namun, lanjutnya, untuk memujudkan komitmen dalam melawan Corona, meski dampak bisnis yang dialami oleh semua segmen perhotelan mengalami penurunan, para pengelola perhotelan di Semarang tetap memberikan edukasi kepada pelanggan dan tamu berkunjung dengan memberikan fasilitas tambahan kesehatan cegah Covid-19.

“Setiap pintu masuk dan lorong, kami telah menyiapkan Hand Sanitizer, masker dan penyemprotan desinfektan yang dipandu oleh karyawan yang telah mendapatkan pelatihan dari petugas kesehatan. Kami berharap, dengan langkah nyata yang telah kami jalankan selama dua pekan ini, bisa meredam penyebaran virus Corona yang memungkinkan dibawa oleh karyawan, para tamu menginap dan berkunjung,” tuturnya.

Dia menambahkan dari dampak penurunan okupansi tersebut, Komunitas Perhotelan semua segmen yang ada di Semarang, meminta penundaan pajak fasilitas perhotelan dan tarif dasar listrik kepada pihak terkait (Pemerintah Kota Semarang).

“Bukan kami meminta keringanan, paling tidak ada pemotongan pajak dan tarif dasar listrik, yang diharapkan penundaan pembayaran tersebut bisa terwujud, seiring penurunan okupansi hotel. Semoga kasus Covid – 19 yang menjadi bencana wabah penyakit diberbagai belahan dunia ini, bisa berangsur selesai dan kehidupan hajat manusia kembali normal,” ujarnya.

Pada umumnya di awal tahun Januari hingga Maret, bisnis perhotelan khususnya di Kota Semarang mampu mencapai angka okupansi diatas 50%, bahkan hotel yang sudah memiliki nama bisa mencapai 80%. Pendapatan tersebut, didapat dari tingkat hunian (tamu menginap) dan ragam acara yang menggunakan ruang meeting, ballroom dan kebutuhan food & beverade (F&B). (rs)

* Artikel ini telah dibaca 13 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *