Home > EDITOR'S CHOICE > Kesimpangsiuran Informasi Di Balik Pandemi Corona

Kesimpangsiuran Informasi Di Balik Pandemi Corona

Berbagai informasi dengan berbagai ragam informasi terkait wabah Covid-19 bersliweran, baik lewat media konvensional, hingga media baru yang lebih populer dengan media sosial (medsos), setidaknya sejak Februari hingga kini, dan kita belum tahu kapan berakhir.

Banyak ahli serta cendekiawan sesuai bidangnya masing- masing menyampaikan pernyataannya, baik itu berupa pengalaman, penelitian, bahkan hingga mistik serta dari sisi kerohanian.

Yang jelas, semakin banyak informasi yang bersliweran, utamanya melalui medsos yang sulit dikontrol, masyarakat akar rumput (grassroot) menjadi bingung karena tidak tahu lagi memilih serta menyaring mana yang didukung fakta serta data, mana yang baru merupakan ramalan serta prediksi, bahkan mana yang hoax alias menyesatkan.

Celakanya, secara akademis dari sisi komunikasi, justru informasi yang tidak jelas itu cenderung lebih dipercaya ( Uncertainty Theory of communication).

Pertanyaannya benarkah bahwa ketidak jelasan informasi tersebut yang hingga saat ini membuat sebagian masyarakat menjadi tidak disiplin?. Benarkah pula justru rasa khawatir sebagai dampak kesimpangsiuran informasi itu lebih membahayakan dibanding virus itu sendiri?. Serta bagaimana sebaiknya sikap masyarakat awam yang sangat minim informasi itu setidaknya menjaga diri, lingkungan, sekaligus mampu menjadi media efektif dalam memutus mata rantai penyebaran virus Corona?.

Jelas Dan Kompak

Informasi yang informatif (mampu menghilangkan kebingungan/ ketidakjelasan) lah, sebenarnya salah satu kata kuncinya. Di Indonesia, bahkan Presiden sendiri telah menggariskan hanya ada satu jurubicara terkait Covid-19, Ahmad Yulianto, yang setiap hari update data yang selalu disampaikannya melalui berbagai media, dilengkapi dengan website resmi yang layak akses dan sangat kredibel. Di daerah pun telah dibentuk satuan-satuan tugas penanganan, yang akan selalu berkoordinasi dengan Pemerintah Pusat.

Bila beberapa waktu sebelumnya pernah ada data yang berbeda, misal dengan DKI, ternyata itu hanya perbedaan interpretasi dan sekarang sudah tidak ada lagi.

Masalahnya para pengguna medsos yang tidak melek informasi, komunikasi dan teknologi yang seolah ingin tampil menjadi pewarta yang top, masih saja menyebarluaskan berbagai informasi serta opini yang tidak akurat. Demikian pula ada kalangan kecil lain yang justru tanpa sadar ikut menjerumuskan diri mereka sendiri dengan seolah mengritik pemerintah, namun dengan informasi yang invalid. Sanksi yang sudah mulai dikenakan oleh Polri sesuai UU dan Kewenangannya pun meski mulai berefek, namun masi kurang maksimal.

Melihat kenyataan ini, tak kurang para elit, misalnya Dahlan Iskan, pakar virus Indro Cahyono, bahkan Mendikbud sampai mengajak masyarakat puasa medsos enam jam dalam sehari.

Prediksi

Prediksi atau ramalan, seilmiah apa pun, tetap saja memiliki kemungkinan salah, terlebih yang menggunakan ilmu statistik yang merupakan ilmu kemungkinan (probability science). Karena itu, dalam perhitungan statistik selalu diperhitungkan standard of eror (toleransi kesalahan standard).

Contoh kongkrit seperti misalnya iklim panas, nyatanya Iran, Arab Saudi, kena. Hidup bersih, Inggris yang cukup terkenal hidup bersih bahkan Perdana Menteri dan bahkan P Charles kena. Sebaliknya, mereka yang hidup penuh kekurangan bahkan cenderung kotor, justru punya kekebalan cukup dan yang data yang terinfeksi justru golongan menengah yang hidupnya berkecukupan dan mobilitas ke luarnya tinggi.

Karena itu, sembari terus bertawakal terhadap Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, kita wajib berupaya seperti yang diperntahkanNya kepada manusia untuk berupaya.

Kompak Dan Ikuti Protokol

Karena itu, khusus di Indonesia, kita ikuti anjuran dari pemerintah secara resmi, yang informasinya resmi pula, sesuai dengan tahapan-tahapan berdasar zona- zona yang ditentukan berdasar data. Kita abaikan informasi medsos yang sumbernya tidak jelas, terlebih kita tahu dan sadar bahwa media ini gampang direkayasa, antara lain dengan editan- editan yang tidak bisa dipertangungjawabkan.

Kebijakan jarak sosial serta jarak fisik, penggunaan masker, tinggal di rumah, bekerja dari rumah, hingga upaya bersih lingkungan, bahkan penanganan bagi mereka yang terjangkit serta meninggal dan akan dimakamkan secara benar harus diketahui dan difahami masyarakat.

Dengan demikian tidak ada lagi penolakan berlebihan justru terhadap dokter dan perawat yang ada di garda terdepan, bahkan yang hingga menjadi korban.

Untuk itulah, semua pihak, utamanya media arus utama memberikan informasi yang lengkap, benar, sekaligus menyejukkan dan menghalau informasi serta opini hoax lenyap dari bumi Indonesia, bersama dengan Insya Allah virus covid-19 lenyap dari bumi Indonesia tercinta.

* Artikel ini telah dibaca 253 kali.
Gunawan Witjaksana
Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang. Pengamat komunikasi dan media.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *