Home > HEADLINE > Semarang Zone Merah Karena Kesadaran Warga Masih Rendah

Semarang Zone Merah Karena Kesadaran Warga Masih Rendah

SEMARANG[Kampusnesia] – Kesadaran masyarakat Semarang untuk menerapkan physical distancing dan memakai masker ternyata masih rendah. Di jalanan, warung makan, cafe hingga perkampungan, masyarakat masih banyak yang berkerumun dan duduk berdekatan tanpa memakai masker.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang setiap hari berkeliling dengan sepeda melihat jelas kondisi itu. Tak hanya sekedar mengingatkan, namun juga mulai tegas mengingatkan kepada masyarakat untuk mematuhi anjuran itu.

Seperti saat sepedaan Minggu (19/4) pagi di Kota Semarang, Ganjar tak segan mengingatkan warga yang ngeyel tetap berkerumun dengan nada tinggi. Pasalnya, himbauan melalui pengeras suara yang nyantol di sepeda, tidak diindahkan.

Bahkan, Ganjar sempat memutar arah sepedanya dan kembali menghampiri warga yang nekat berkerumun  dan meminta masyarakat sadar, bahwa virus Covid-19 tidak bisa diremehkan.

“Mas kok ijeh ngeyel (mas kok masih bandel), tadi saya bilang jaga jarak, sampeyan masih saja bergerombol. Ayo saiki geser (ayo sekarang geser),” teriak Ganjar.

Beberapa anak muda yang sedang nongkrong di Jalan MT Haryono Kota Semarang itu kemudian mau bergeser. Tak lelah, Ganjar mengingatkan mereka untuk mematuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan.

“Njenengan masih mudah, tolong jadi contoh yang baik bagi masyarakat. Bantu pemerintah untuk sosialisasi ini. Ini serius lho, jangan anggap sepele,” ujarnya.

Peristiwa serupa terjadi daerah Pedurungan Kota Semarang. Saat melintas di depan warung soto, Ganjar mengingatkan para pembeli yang sedang makan soto untuk tidak berkerumun.

Karena himbauan tidak diindahkan dan para pembeli terkesan cuek, Ganjar langsung memarkirkan kendaraannya dan turun dan menghampiri warganya yang sedang sarapan itu.

“Tolong jaga jarak, kalau bisa jangan makan di sini, pesan terus dibawa pulang. Ingat, ini serius. Kota Semarang sudah zona merah, sekarang yang positif Covid-19 tertinggi ada di Kota Semarang. Ayo jangan ngeyel,” pintanya.

Dia juga meminta semua masyarakat menjaga diri. Sebagai garda terdepan untuk memutus mata rantai wabah Covid-19, masyarakat harus peka dan sadar diri.

“Saya tidak mau warga saya banyak yang terkena virus ini. Aku pengen wargaku sehat kabeh (saya ingin warga saya semuanya sehat). Tolong saya didengarkan, Semarang ini sudah bahaya,” tegasnya.

Salah satu warga yang sedang berkerumun, Danis,45, mengatakan sebenarnya paham dengan himbauan pemerintah untuk melakukan physical distancing. Namun kondisi yang tidak memungkinkan untuk melakukan itu.

“Sebenarnya tahu tentang jaga jarak, tapi mau bagaimana lagi. Ini tadi mampir sarapan, kebetulan pas ramai dan tempatnya sempit, jadi berdesakan,” tuturnya.

Dia Meneuturkan kesadaran warga Semarang terkait physical distancing dan memakai masker masih kurang. Masih banyak di jalanan orang keluar rumah tanpa masker.

“Memang harus ditindak tegas supaya semua sadar akan pentingnya hal ini,” ujarnya. (rs)

* Artikel ini telah dibaca 19 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *