Home > EDITOR'S CHOICE > Marhaban Ya Ramadhan Di Tengah Pandemi Covid-19

Marhaban Ya Ramadhan Di Tengah Pandemi Covid-19

Oleh:  Multazam Ahmad

Marhaban  Ya Ramadhan,  selamat datang wahai bulan suci Ramadhan. Setiap datang bulan Ramadhan, Nabi Muhamad SAW selalu memberi khabar gembira kepada para sahabat. “ Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, Allah mewajibkan puasa atas kalian di dalamnya. Pada bulan ini pintu – pintu sorga dibuka, pintu-pintu neraka jahim ditutup, setan-setan dibelenggu, di dalamnya ada satu amalan yang lebih baik dari seribu bulan, barang siapa yang diharamkan mendapat kebaikan malam itu maka ia telah diharamkan.” (HR.Imam Ahmad,2/230).

Hadits tersebut merupakan landasan hukum untuk mengucapakn selamat datang terhadap bulan suci Ramadhan. Bagaimana mungkin seorang yang beriman tidak gembira dengan dibukanya pintu-pintu surga?. Bagaimana mungkin seorang pendosta, baik kecil maupun besar tidak gembira dengan ditutupnya pintu-pintu neraka?. Bagaimana seorang tidak gembira dengan dibelenggunya setan-setan?.

Menyambut Ramadhan merupakan bukti cinta kita kepada Allah SWT, sehingga sangat wajar kalau Rasulullah SAW menggambarkan sebagai tanda kecintaan, “Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah SWT dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan – tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat yang paling utama ketika Allah memandang semua hamba-Nya,  dengan penuh kasih sayang-Nya.

Dia menjawab mereka ketika hamba menyeru-Nya, menyambut mereka ketika hamba memanggil-Nya, dan mengabulkan mereka ketika hamba berdoa kepada-Nya.

Itulah wujud kasih sayang Allah SWT untuk membuka jalan bagi keselamatan dan kebahagiaan manusia dengan datangnya bulan Ramadhan sebagai bulan yang sangat istimewa.

Dalam bulan Ramadhan Allah SWT memanggil semua hamba-Nya untuk kembali menuju hakekat hidup yang sebenarnya.

Menurut Dr Jalaluddin Rakhmat, manusia adalah “Anak-anak ” yang dikeluarkan dari rumah-Nya untuk bermain-main di halaman dunia ini.” Dan kehidupan dunia ini, hanyalah permainan dan sendau gurau. Sedangkan kehidupan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa”. (QS.Al-An ‘am : 32).

Kalau kita belajar dalam prosesi Haji ke Makkah, semua orang akan mengenal dan melihat Ka’bah (Baitullah) sebagai simbul tempat kembali jati diri manusia yang sesungguhnya. Karena manusia berhaji itu akan  rela untuk meninggalkan kampung halaman dan siap meninggalkan pula urusan duniawi yang dicintai, meskipun sering hadir menyebalkan dan membosankan.

Ramadhan juga disebut sebagai bulan Allah, karena pada bulan itulah kita pulang, kita meninggalkan halaman permainan kita yang selama ini kita asyik  dan sibuk bermain dan juga  membeli berbagai menu permainan dunia yang bermacam-macan seperti,  kedudukan, jabatan, kekayaan, dan lain sebagainya. Melalui Ramadhan inilah Allah  menyeru kita untuk kembali kepada-Nya, agar kita menjadi orang yang genah atau baik.

Oleh karena itu siapapun orangnya, yang mengaku beriman dia wajib menyambut Ramadhan sebagai wujud kecintaan kita  kepada Allah SWT. “ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.( QS.Al-Baqarah:183).

“ A New Normal”

Setelah wabah Covid-19 merebak, Pemerintah Indonesia menerapkan segudang aturan yang sebelumnya tidak pernah sedikitpun terbayangkan. Mulai dari tokoh agama, keluarga, pemimpin, budayawan, pebisnis, pendidikan dan semua pihak, suka atau tidak suka, harus mau untuk menyesuaikan diri dalam situasi pandemi. Entah kapan berakhir. Dalam perubahan itulah sekarang kita masuk dalam kondisi “A New Normal “  atau tradisi -tradisi yang sebelumnya dianggap tidak lazim dan tidak baik, tidak etis, akhirnya menjadi kebiasaan yang normal.

Dalam situasi pandemi Covid-19 pemerintah membuat kebijakan yang dianggap normal, misalnya, pemakain masker, nara pidana dibebaskan, pembebasan pembayaran listrik bagi 24 juta pelanggan dengan daya 450 Volt Ampere (VA), pelonggaran/relaksasi kredit usaha Mikro dan Kecil di bawah Rp10 miliar dengan penundaan cicilan, dan lain sebagainya. Semuanya dianggap lumrah.

Begitu juga dalam konteks ibadah pada pandemi wabah Covid -19, segala kegiatan yang terkait dengan ibadah puasa, maupun seluruh rangkaian ibadah lainya selama Ramdhan, mulai dari siang sampai malam hari tampaknya akan berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini, menjelang  Ramadhan umat Islam biasanya berbondong-bondong mengisi masjid untuk melaksanakan shalat tarawih, bertadarrus, iktikat pada 10 hari terkhir Ramadhan.

Kemulyaan kegiatan-kegiatan seperti itu sepertinya tak akan terlihat pada Ramadhan kali ini. Kegiatan ibadah yang menghimpun banyak orang ditiadakan untuk menjaga keselamatan bersama terhindar dari inveksi Corona. Melalui surat Surat Edaran ( SE)  Kementerian Agama Nomor 6 Tahun 2020 tentang Panduan Ibadah Ramadhan dan Idul Fitri di tengah Pandemi Covid-19, serta Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah dalam situasi terjadi wabah Covid -19, bahwa ibadah shalat jumat diganti dengan shalat dhuhur, shalat tarawih di masjid dilakukan secara individu bersama keluarga inti di rumah masing-masing.

Kebijakan tersebut bukan hanya di Indonesia. Lembaga keagamaan tertingi di Arab Saudi, the Council of Senior scholars, menghimbau umat Islam sedunia untuk beribadah di rumah masing-masing selama Ramadhan (SPA,Ahad 19/4). Hal ini dilakukan untuk menghindari kerumunan yang menjadi penyebab utama terjadi penyebaran inveksi virus Corona. Menyelamatkan nyawa manusia, untuk tidak berkerumun, merupakan ikhtiar yang sangat bermakna sebagai mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam kaidah agama, Dar ul al mafasid muqaddamun ala jalbil al mashalih,(Mempriotaskan pencegahan bahaya yang lebih besar itu lebih utama,  daripada untuk mengambil mannfaat).

Setiap orang bisa mersakan sebuah kinikmatan-kenikmatan yang banyak, seperti, shalat terawih, shalat berjamaah di masjid, shalat jumatan, buka bersama di masjid, tadarrus, tarawih keliling, tradisi mudik untuk bertemu orang tua, saudara, teman dan halal bi halal. Untuk sementara waktu benar-benar kehilangan. Memang berat rasanya, tetapi yakinlah apa yang kita lakukan puasa saat ini, Allah SWT tidak akan mengurangi pahala kita, sepanjang ibadah kita lakukan dengan benar sesuai tuntunan agama.

Mau tak mau kita semua harus rela menangguhkan semua kebahagiaan dan kerinduan di bulan Ramadhan sampai hari kemenangan pada Idul Fitri. Saat sekarang umat Islam Indonesia benar – benar tidak hanya sedang menjalani ujian, tetapi pada bulan Ramadhan ini mampukah kita menguji diri untuk dapat menahan diri demi keselamatan kita semua?. Marilah, momentum Ramdhan ini, kita banyak berdoa agar Allah SWT segera mencabut Covid-19 dari bumi Indonesia. Agar kita kembali lagi bisa merasakan kenikmatan- kenikmatan dari Allah SWT untuk kita semua.

Dr H Multazam Ahmad MA Sekretaris MUI Jawa Tengah Dan Ketua Takmir Masjid Raya Baiturrahman Jawa Tengah

* Artikel ini telah dibaca 59 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *