Home > HEADLINE > Hendi Tinjau Posko PKM Kota Semarang Pada Hari Pertama

Hendi Tinjau Posko PKM Kota Semarang Pada Hari Pertama

SEMARANG[Kampusnesia] – Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) hari pertama di Kota Semarang ditandai dengan berdirinya 16 posko pemantauan di sejumlah tempat pada, Senin (27/4).

Untuk memastikan aturan PKM dapat berjalan dengan baik, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi pun turun langsung melakukan pengecekan ke sejumlah posko pemantauan, salah satunya yang terletak pada wilayah Mangkang.

Pada Posko Mangkang, Wali Kota Semarang terlihat menghentikan beberapa kendaraan bernomor polisi luar kota, untuk diperiksa terlebih dahulu, sebelum masuk ke arah pusat Kota Semarang.

Menurutnya, dari pemeriksaan yang dilakukannya bersama jajaran Forkopimda Kota Semarang, tidak semua kendaraan dengan nomor polisi luar kota merupakan pemudik.

“Jumlah pemudik hari ini sudah jauh berkurang, hanya 1 – 2 saja dengan plat nomor luar kota, yang kemudian kita tanya untuk dicatat keterangannya,” ujar Hendi panggilan akrab Hendrar Prihadi itu.

Terdapat kendaraan berplat nomor D, lanjutnya, kemudian mengaku warga Kendal dan  indentitas cocok dengan KTP nya, hingga diminta agar bisa langsung pulang setelah urusannya selesai di Kota Semarang.

Dia menambahkan ada dua hal yang menjadi fokus pengecekannya, selain pos pemantauan, juga ada tempat usaha seperti pabrik. Bahkan Pos Pemantauan Mangkang dipilih untuk menjadi sasaran pantauan karena pihaknya ingin memastikan petugas tegas dalam menegakkan PKM.

Penegakkan PKM terutama penekanan pada SOP pemeriksaan pelintas dan siapa yang diperbolehkan memasuki wilayah Kota Semarang.

Hendi menuturkan pos pemantauan bertugas membatasi masyarakat yang akan memasuki Kota Semarang. Namun bagi warga yang memiliki keperluan bekerja, masih diberikan keleluasaan.

Sementara itu, lokasi aktifitas usaha yang ditinjaunya  dfi antaranya PT Phapros dan Kawasan Industri Wijaya Kusuma di Kota Semarang. Peninjauan Hendi ke dua lokasi tersebut karena pabrik menjadi salah satu wilayah yang harus secara tertib mengikuti aturan PKM di Kota Semarang.

“Saya minta tolong kepada Kepala APindo untuk bisa menyampaikan ke anggotanya, agar mulai mengatur jam kerja pegawai, tekankan SOP kesehatan seperti jaga jarak, masker, pengukuran suhu tubuh, hand sanitizer, atau cuci tangan, itu semua wajib hari ini,” tutur Hendi.

Selain itu, dia juga meminta pengelola pabrik agar menyediakan kartu identitas bagi buruh pabrik, mengingat 60% pekerjanya merupakan warga Kendal, perlu ada identitas yang jelas.

“Jadi nanti tinggal menunjukkan saja identitas dari pabrik, sehingga bisa lolos pos pantau. Perlu diperhatikan, konsep pos pantau dalam PKM, yang ingin dibatasi yaitu pemudik. Maka bagi warga yang punya aktivitas urgen di Kota Semarang, seperti bekerja, diperbolehkan dengan pembatasan sesuai SOP protokol kesehatan,” ujarnya. (rs)

* Artikel ini telah dibaca 51 kali.
Kampusnesia
Media berbasis teknologi internet yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *